
arka duduk di sofa ruang keluarga yang berada tepat di hadapan kamar orang tua nya,diri nya dan kamar saudara saudara nya.ia menyenderkan tubuh nya di sofa dengan kedua telapak tangan yang menutupi wajah nya.kepala nya tersender di sofa,mata nya menatap langit langit ruangan tersebut.lalu memenjamkan nya cukup lama merenungi dan merilekskan pikiran nya yang terasa kacau saat ini.
tak lama setelah nya Calvin datang dengan membawakan sekotak obat obatan untuk mengobati luka di tangan arka.calvin meraih tangan arka lembut,sedangkan yang di sentuh hanya terdiam masih dalam posisi nya seperti itu
"apa cinta itu hidup?" tanya arka seketika membuat Calvin menatap wajah arka yang masih memenjamkan mata nya itu dengan sangat lekat.
"semua cinta itu hidup,karena cinta bisa berkembang,merasakan dan mendebarkan.cinta juga bisa mengendalikan pikiran dan hati seseorang.jadi jangan heran jika orang yang sedang jatuh cinta kadang tampak terlihat sangat gila rela berkorban dan melakukan apapun untuk orang yang di cintai nya." penjelasan Calvin sembari masih setia mengobati luka di tangan arka.
"tapi kenapa cinta dalam diriku mati?,hatiku bisa merasakan nya namun mengapa tak bisa mendebarkan hati nya?" tanya arka menegapkan posisi duduk nya
"karena kamu belum berjuang,hanya terdiam membiarkan dia berada di depan matamu tanpa melakukan apapun yang seharus nya kau lakukan.Cinta tak bisa terbang sendirian,dia butuh pemilik nya melangkah lebih jauh dengan secepat mungkin agar bisa membawa terbang hati orang yang kau cintai" penjelasan Calvin lalu pria matang itu membereskan kembali peralatan obat obatan nya ke dalam kotak setelah selesai mengobati luka di tangan arka
"makasih dad" ujar arka
"sama sama,ingat satu hal laki laki itu bukan tempat nya menunggu wanita nya datang.jadi berjuanglah jangan sampai terlambat" Calvin menepuk pundak arka lalu meninggalkan anak laki laki nya itu sendiri
sedangkan diri nya masuk ke dalam kamar nya,arka merenungi setiap kata yang Calvin ucapkan kepada nya.benar kata sang Dady,arka tidak bisa terus menerus diam dan membentengi diri hanya karena tak berani.arka harus maju selangkah lebih depan mulai saat ini.jika tidak dia harus siap untuk melihat wanita yang di cintai nya pergi lagi atau terbang dengan pria lain.
*
*
*
*
*
Tap...Tap...Tap...
suara langkah kaki bergemuruh di ruangan tersebut,seseorang masuk ke dalam kamar Cece lalu duduk di tepi ranjang di mana ada Cece yang sedang berselimut erat di dalam nya.
"Cece ayolah,apa kamu tidak ingin melihat kakak kesayangan kamu ini?.ini hari istimewa kakak,seharus nya kamu turut senang Cece" kata zek menarik selimut yang membelit tubuh Cece
"tidak!!!!" selalu saja kata itu yang keluar dari mulut Cece
"bukankah semalam kakak sudah janji padamu,kakak tak akan mengurangi sedikitpun perhatian untuk mu.percayalah,ayok Cece acara nya akan di mulai.jika tidak cepat kakak akan terlambat" bujuk zek.
"tak mau,kakak dulu pernah bilang jika pernikahan itu adalah keburukan dalam hidup.lalu mengapa sekarang kakak ingin menikah,bukankah kakak yang mengajarkan aku untuk tidak percaya akan yang nama nya pernikahan." rengek Cece
ya ini memang salah nya,dulu zek sempat pernah trauma dengan sebuah pernikahan.namun setelah bertemu dengan Hilda dan mengenal wanita itu lebih dekat.kini rasa percaya bangkit dengan sempurna dalam diri zek.
"itu dulu,semua ucapan kakak salah.dulu kakak hanya tidak memiliki keberanian ce,namun kakak sadar saat mengingat rumah tangga ayah dan ibu hingga memiliki kita berdua.ternyata mereka selalu terlihat bahagian walau sesulit apapun itu."