My Daddy Overprotective To The Twins

My Daddy Overprotective To The Twins
Sebuah Pistol



Varo dan Vero menerobos masuk begitu saja tanpa seizin orang yang membukakan pintu nya.sedangkan arka terlihat masih bertatapan dengan pria itu.


mereka saling bertatapan cukup lama, seperti siap mengobarkan api peperangan.zek tersenyum mengejek melihat wajah arka yang datar itu.namun arka hanya cuek dan melenggang masuk begitu saja.


"dasar tidak punya sopan santun" zek berdecak saat melihat arka juga masuk begitu saja menyusul


"arka" Arsya langsung memeluk arka ketakutan,arka terbengong saat melihat Arsya menangis dan sedikit mengepalkan tangan nya.siapa yang sudah berani membuat dia menangis.


"katakan padaku siapa yang sudah berani membuatmu menangis?" tanya arka serius


"gue" perkataan santai dari mulut zek


membuat Cece agak sedikit cemas,takut terjadi keributan di sini.arka menyuruh Varo dan Vero membawa Arsya pulang ke kamar hotel nya.sedangkan arka terlihat marah menatap ke arah zek yang sedang santai membereskan lemari nya.


"kenapa mau marah?,marah saja sesuka hati mu" ujar zek tanpa menoleh ke belakang di mana arka berada.


"arka jangan dengarkan dia,sudah kita pergi saja dari sini" ajak cece.


"apa yang Lo lakuin sama dia?" Theo menarik pundak zek agar pria itu menatap diri nya.


zek berhadap hadapan dengan arka,sembari memegangi sebuah pistol.dia memainkan pistol itu menyentuh wajah arka perlahan,zek menepuk pelan jidat arka dengan ujung pistol nya.lalu meletakkan pistol tersebut di dada arka.


"belajar lah mengontrol emosi lo,karena itu hanya membuat musuh mengetahui kelemahan lo,faham?" zek menepuk pundak arka berkali kali


entah mengapa ucapan zek kini masuk ke otak arka begitu saja.pria itu bermain main dengan sebuah pistol?,sebenar nya siapa pria itu?.arka memilih untuk pergi dari sana dan mengecek kondisi Arsya.


"kak apa apaan sih,gila ya Lo" kesal Cece.


"dia harus tau cara melindungi orang yang dia sayangi,sebelum musuh merampas nyawa adiknya" ucapan zek begitu mengerikan,Cece ikut keluar dari kamar hotel nya dan bergegas pergi menyusuli arka.


"arka tunggu" Cece mencekal pergelangan tangan arka,saat arka menurut menghentikan langkah nya Cece melepaskan genggaman itu.


"maafkan sikap_" perkataan nya langsung di cekat


*


*


*


*


*


keesokan hari nya kini mereka telah kembali ke mansion, sedang sarapan pagi bersama.terlihat senyuman mereka sangat terpapang jelas di wajah mereka namun berbeda dengan arka.


pria itu masih memikirkan soal pria di kamar hotel nya cece.arka menduga pria itu tau banyak soal masalah yang sedang mengintai Arsya saat ini.apa saja yang pria itu tau dan apa yang dia sembunyikan dari nya?.


"arka mau kemana kamu?" tanya neis saat melihat arka berdiri


"aku pamit mom,dad" pamit arka.


"yasudah hati hati ya,ingat jangan ngebut" pesan neis


setelah pamit arka pun bergegas pergi.saat sedang terburu buru ia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang di luar.arka mengerang saat jidat nya terbentur pintu akibat di dorong seseorang.


"kau" marah arka menatap melza kesal.


"maaf den,saya tadi buru buru" ujar melza


"ahh minggir" kesal arka lalu kembali melanjutkan langkah nya.


kini motor arka telah melaju cepat,mulai menelusuri jalanan kota yang sangat ramai saat ini.