
"Sekarang katakan, apa yang membuat mu merasa tidak tenang?" Kak Fatimah mulai membuka suara di antara senyapnya udara.
Dia bertanya seolah angin telah mengabarkan padanya kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana cara ku memberitahukan kak Fatimah kalau aku merasa tidak aman, tidak aman dari hal yang aku sendiri tidak tahu penyebabnya.
"Kak, sebenarnya...."
"Sebenarnya kau merasa tidak baik-baik saja! Katakan, apa masalahnya?" Kak Fatimah bertanya sambil menatap ku dengan tatapan kasih sayang. Entah berapa kali sudah ia memperbaiki posisi duduknya. Perutnya yang semakin membesar membuatnya kurang nyaman untuk duduk berlama-lama. Dan buruknya aku memaksa kak Fatimah untuk mendengar segala keluh kesahku.
"Apa semua ini menyangkut dokter Araf?" Kak Fatimah sok menebak, tebakan yang tidak mungkin meleset.
Tidak ada balasan dariku selain anggukan kepala pelan. Melihat ekspresi wajahku, aku yakin kak Fatimah sudah tahu alur cerita yang belum ku uraikan.
Hhmmmm!
Aku menghela nafas panjang sambil sesekali menyangga kepalaku dengan tangan kanan. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa? Semua ini terasa sangat membingungkan.
"Tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, serahkan semuanya pada Allah. Allah yang menyatukan kalian berdua maka Allah juga yang akan menjaga hubungan kalian sampai ke Surga." Ucap kak Fatimah sambil tersenyum.
Aku mengerti dengan jelas setiap ucapan yang di lontarkan kakak ipar, hanya saja mimpi semalam masih membuat ku takut. Aku sangat takut sampai aku tidak ingin membiarkan Mas Araf keluar dari rumah.
"Setiap rumah tangga memiliki ujian-nya masing-masing. Kau sudah melihat sendiri bagaimana hubungan ku dan kakak mu berjalan. Dulu aku sangat membenci kakak mu, aku tidak suka melihatnya walau dalam mimpi sekali pun.
Tapi hari ini? Hari ini aku bahkan tidak bisa jauh darinya, aku ingin selalu dekat dengannya. Aku ingin melihat wajahnya saat aku bangun dari tidur ku, dan aku pun ingin menatap wajahnya sebelum aku terlelap dalam tidur panjang ku. Setiap kali aku memikirkan kakak mu, aku merasa bahagia, dan setiap aku jauh dari kakak mu, aku merasa ada yang hilang dari hidupku. Walau itu hanya sebatas embusan angin, saat aku bersama kakak mu, ku namai itu sebagai anugrah.
Kau harus bersabar, kakak percaya setiap detik yang kau lalui bersama dokter Araf akan menjadi rangkaian rasa syukur mu di masa mendatang."
"Kakak benar, hanya saja mimpi semalam membuat ku merasa takut, Kak!"
"Mimpi? Mimpi apa?" Kak Fatimah bertanya tanpa mengalihkan pandangannya, keningnya berkerut. Ia heran, ia juga penasaran.
"Dua hari yang lalu tante Dinda, saudara sepupu Mama Riska mengatakan penampilan ku jauh berbeda dengan wanita yang pernah menjadi masa lalu Mas Araf.
Aku tidak mengkhawatirkan hal itu, Kak. Entah kenapa malamnya aku bermimpi Mas Araf menggandeng wanita lain. Dia pergi meninggalkan ku sekuat apa pun aku memintanya untuk tetap tinggal. Aku sangat takut, kak." Celoteh ku panjang kali lebar.
Sebelumnya aku tidak pernah merasakan takut sebesar ini. Tapi kali ini? Rasanya tenagaku terkuras habis untuk hal tidak berguna.
"Kau tahu kenapa kakak mu berteman dengan dokter Araf?"
Mendengar pertanyaan Kak Fatimah aku hanya bisa menggeleng pelan, aku tidak yakin, aku juga tidak tahu jawabannya. Yang bisa ku lakukan hanya duduk dalam diam.
"Kakak mu betah berteman dengan dokter Araf karena mereka memiliki banyak kesamaan. Kakak mu dan dokter Araf? Mereka berdua adalah orang yang baik. Kau mengerti kan maksud, Kakak?"
Kali ini aku mengangguk pelan, apa yang kakak ipar Fatimah katakan memang benar. Aku sudah terlalu sering mendengar tentang kebaikan Mas Araf dari lisan kak Alan. Setidaknya setelah mendengar penuturan singkat kak Fatimah sedikit resah ku serasa menguap ke angkasa.
"Kakak benar. Kak Alan sering menceritakan kebaikan Mas Araf. Aku janji, kak. Aku tidak akan meragukan Mas Araf lagi." Ucap ku sambil mendekat dan duduk di samping Kak Fatimah.
"Itu bagus, Dek."
"O iya, kak. Mbok bilang Fazila sedang mengulang hafalan Qur'an-nya bersama dengan Ustadz. Apa kakak menyewa Ustadz baru untuk Fazila?"
"Iya, aku masih mengingatnya. Kami bertemu di acara akad nikah Kakak dan Kak Alan!"
"Kakak mu secara khusus meminta Ustadz Ikmal sebagai pembimbing Fazila.
Anak manis itu ingin belajar di pesantren, tapi sayangnya Kakak mu tidak bisa berpisah dengan putri Shaliha-nya. Kakak mu meminta Ustadz Ikmal secara pribadi agar mengajari Fazila, beliau bahkan sampai datang ke Pesantren." Ucap kak Fatimah menjelaskan.
Yang ku tahu Kak Alan memang tidak bisa jauh dari Fazila, Aku pun sama. Aku rasa membiarkan Fazila tetap berada di rumah dan belajar dari Ustadz Ikmal adalah pilihan terbaik yang kak Alan ambil. Tapi sayangnya tidak bagi kak Fatimah, kakak ipar sangat mengetahui kehidupan di pesantren jauh lebih baik bagi setiap anak untuk belajar, apalah dayanya di hadapan kehendak kak Alan, karena baginya melihat suaminya bahagia jauh di atas segala-galanya.
"Ustazd Ikmal orang yang baik, terakhir kali aku bertemu dengannya beliau bilang beliau akan di jodohkan oleh Abi-nya, apa dia sudah menikah?"
"Belum, Dek! Wanita yang di jodohkan dengan Ikmal menolak perjodohan mereka karena wanita itu mencintai pria lain. Dalam islam wanita memang di berikan hak untuk menolak jika dia tidak suka pada pria-nya. Kakak hanya bisa berharap semoga Ikmal mendapatkan wanita terbaik."
"Tante Cantikkkk!" Suara renyah Fazila memenuhi indra pendengaran ku, anak manis itu sangat antusias. Maklum saja kami sangat dekat, anak manis itu bahkan tidak memperdulikan dirinya, dia berlari di tangga sambil melambaikan tangan, dada ku berdebar kencang saat melihatnya hampir saja terjatuh, untungnya ustadz Ikmal segera meraih lengan Fazila.
"Nak, pelan-pelan." Ucap kak Alan kahawatir.
"Tante Bina tidak akan pergi kemana pun sebelum bertemu dengan keponakan cantik dan baik hati miliknya, Meyda Noviana Fazila.
Jadi kau harus berhati-hati. Bagaimana jika tadi kau jatuh dari tangga lalu lengan mu patah? Abi tidak bisa melihat mu terluka, Abi juga akan menangis. Apa kau mau Abi melakukan itu?" Ucap kak Alan begitu dia berdiri di depan Fazila.
Kak Alan terlihat takut. Bahkan kakak ipar Fatimah hampir saja menjerit namun dengan cepat dia menutup bibirnya agar tidak menimbulkan kegaduhan.
"Fazila minta maaf, Bi. Fazila janji tidak akan ceroboh lagi."
Kak Alan mengangkat kepala Fazila yang tertunduk penuh penyesalan, sedetik kemudian kak Alan mulai memeluk Fazila, pelukan yang di penuhi kasih sayang dan cinta.
"Hay Sabina apa kabar?"
"Mas Ikmal? Kabar saya baik Mas! Mas sendiri apa kabar?"
Kak Alan yang mendengar ucapan ku terlihat heran.
"Apa kalian sungguh sedekat ini?" Kak Alan bertanya sambil melihat ku dan Ustadz Ikmal bergantian. Keningnya berkerut, tak percaya.
"Iya, Bang. Kami teman baik."
"Teman baik? Sejak kapan?"
"Sejak Abang menikah dengan kak Fatimah."
"Sudah lah Bi, jangan ganggu Ikmal. Biarkan dia istirahat, setelah itu kita akan makan siang bersama." Coloteh kakak ipar Fatimah sambil tersenyum.
Tidak ada balasan dari Kak alan selain anggukan kepala setelah mendengar ucapan istri tercintanya. Saat ini kami duduk di ruang tengah sambil menikmati kopi sembari menunggu hidangan makan siang yang sedang di siapkan oleh ketiga Art wanita yang bekerja di rumah Kak Alan.
...***...