Mr Love Love

Mr Love Love
Pesta Sambutan



"Dokter Araf, terima kasih untuk persentasi mengagumkan yang anda uraikan. Kami yakin, dengan kerja keras tim berbakat kita, obat yang akan kita kembangkan akan memberikan kebaikan bagi semua orang. Rumah sakit ini akan semakin di kenal." Ucap dokter Sarma, wakil dari rumah sakit yang berpusat di Amerika. Beliau dulunya adalah Profesor ku. Dan aku banyak belajar darinya.


"Thank You, Profesor." Ucapku sambil menjabat tangan dokter Sarma. Di usianya yang sudah menginjak enam puluh tahunan beliau terlihat segar dan sehat. Karismanya tak lekang oleh waktu.


Aku sangat menghormati Profesor Sarma melebihi dari siapa pun. Beliau orang yang baik walau terkadang sikap kritisnya membuat banyak mahasiswa didikannya harus menyerah dan mencari Profesor lain. Walau sekejam apa pun metode Profesor Sarma saat mengajar di kelas, bagiku beliau seperti ombak yang harus ku taklukkan. Dan lihatlah hasilnya sekarang? Aku masuk dalam jajaran dokter bedah terbaik di seluruh Indonesia.


"Ikutlah bersama ku. Aku akan mengenalkan Profesor dengan istri ku. Kebetulan malam ini akan di adakan pesta di rumah Mama mertua." Aku tahu dia akan menolak karena itulah aku hanya bicara omong kosong.


"Okay." Balas Profesor Sarma tanpa berpikir panjang.


Glekkkk!


Aku langsung menelan saliva mendengar jawaban singkat Profesor Sarma. Aku benar-benar tidak menduga kalau beliau akan mengatakan 'Iya' semudah itu.


"Aku bisa menebak jalan pikiran mu! Apa kau menyesal telah mengundang ku? Atau kau tidak ingin mengenalkan istri cantik mu padaku? Jika dia istri mu maka kau putra ku! Apa aku tidak berhak melihat menantuku?"


"Hahaha, maaf. Bukan itu maksudku!" Ucap ku singkat sambil memegang telinga.


"Baiklah. Ayo kita pergi, semua orang pasti sedang menantikan kedatangan kita." Ucap ku lagi. Kami berjalan bersama menunju lantai dasar, aku memutuskan pergi ke rumah Mama Nani menggunakan mobil ku bersama Profesor Sarma, dengan begitu kami bisa bicara lebih lama dan saling berbagi pikiran masing-masing.


"Sekarang katakan, apa yang paling kau sukai dari istri mu?" Profesor Sarma bertanya sambil menatap wajah tersenyum ku. Sementara aku? Aku sibuk di kursi kemudi.


"Hmm! Jika di tanya seperti itu? Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Tapi yang jelas, dia yang terbaik di antara miliyaran wanita yang ada.


Tidak ada wanita selembut, sepengertian, dan sebaik dirinya. Aku bahagia saat ada bersamanya. Dan aku mulai merindukannya saat berada jauh darinya." Celoteh ku tanpa bisa mengendalikan perasaan bahagia ku.


Rasanya aku ingin segera sampai di kediaman Wijaya sehingga aku bisa menatap wajah seindah purnama milik wanita tercantik di dunia, Sabina Wijaya.


...***...


Malam spesial yang di nanti-nantikan oleh Morgiana akhirnya tiba juga. Dengan tubuh setinggi seratus tujuh puluh ia lebih cocok menjadi model atau aktris papan atas, dia sangat cantik dan kecantikannya tak kalah dari aktris manapun. Walau tanpa olesan make up tebal, pesona indah Morgiana akan tetap terlihat.


"Subhanallah. Cantiknya sepupuku!" Puji ku setelah melihat sosok Morgiana berdiri di depan ku.


"Thank you. Tapi kau jauh lebih cantik di bandingkan dengan ku!" Balas Morgiana dengan senyum menawannya.


"Sabina, aku yakin suami mu tidak akan bisa berkedip saat melihat mu! Baju itu terlihat cocok dengan mu, itu artinya dia memilih baju itu sambil membayangkan pesona indah mu!" Ucap Morgiana lagi.


"Apa ini benar-benar indah?"


Tanpa berucap sepatah kata, Morgiana hanya bisa mengangguk pasrah.


"Aku yakin semua tamu undangan sudah berdatangan, dan di antara semua orang aku tahu siapa yang paling kau nantikan!" Celoteh Morgiana sambil menyenggol ku pelan, wajah cantiknya tak berhenti tersenyum.


"Iya, kau benar. Aku menantikan kedatangannya. Dan hari ini, aku berdandan khusus hanya untuknya." Balas ku sambil meraih jemari Morgiana, menuntunnya kearah pintu sehingga kami bisa berjalan beriringan.


Sementara itu di lantai bawah para tamu undangan terlihat bahagia, raut wajah yang di penuhi senyuman menjelaskan segalanya. Dekorasi rumah yang sengaja di atur sedemikian rupa dengan warna silver, ungu, merah dan biru mendominasi rumah Wijaya. Warnanya di sesuaikan dengan warna kesukaan Morgiana.


Alunan merdu musik yang terasa begitu lembut membelai indra pendengaran para tamu undangan. Beberapa orang bahkan tanpa malu-malu mulai unjuk kebolehan mereka dalam memainkan lagu yang di barengi dengan petikan gitar. Tinggalkan masalah, resah dan gelisah di belakang dan mari kita berpesta, nikmati waktu yang ada dengan rasa syukur yang membuncah.


Aku dan Morgiana berjalan beriringan, saling menggenggam jemari sambil menuruni anak tangga perlahan. Aku tidak menghiraukan semua orang, karena netraku hanya mencari satu sosok, yakni Araf Laurent Wismantara.


Dimana Mas Araf? Kenapa dia tidak terlihat dimana pun. Apa dia belum datang? Jika dia tidak datang lalu untuk siapa kecantikan ini? Aku tidak suka berdandan jika ujung-ujungnya kecantikan ini tidak bisa di nikmati oleh sosok yang menjadi pemiliknya. Hhmm! Aku mulai bergumam di dalam hati. Walau bibirku mengukir senyuman namun hatiku merasakan kesedihan. Aku tidak suka berada dalam keramaian tanpa hadirnya dirinya.


Di saat Mama sibuk memperkenalkan Morgiana pada tamunya, aku malah menyelinap pergi dan kembali berjalan menuju lantai atas, berdiri di balkon sambil menikmati kesendirian. Sungguh, kesunyian ini terasa begitu menenangkan.


"Selamat malam Nona, anda ingin minum apa? Akan saya bawakan."


Entah siapa yang menegurku disaat aku merasakan kesedihan. Aku bahkan malas menatap orang yang berdiri di belakangku, suaranya terdengar berat. Ku tebak usianya sekitar empat puluh tahunan.


"Tidak. Terima kasih. Kau bisa pergi!" Jawab ku tanpa menghiraukan ucapan orang itu.


"Apa Nona yakin Nona tidak menginginkan apa pun? Katakan saja!"


"Aku bilang aku tidak mau. Tolong jangan menggangguku!" Balasku lagi. Sejujurnya aku sangat kesal. Namun sebisa mungkin aku berusaha menahan amarahku.


"Aku rasa Nona sedang kesal, mungkin karena itu Nona tidak menginginkan apa pun. Aku akan bertanya sekali lagi, apa Nona ingin makanan?Atau minuman? Saya akan datang secepat kilat khusus untuk Nona!"


Hhhmmmm!


Aku kembalii menghela nafas kasar. Aku kesal. Sangat kesal sampai ingin memberikan pelajaran bagi pelayan yang mencoba menggangguku dengan omong kosongnya.


"Aku sudah bilang aku tidak mau kenapa kau memak...." Ucapan ku tertahan di tenggorokan ku begitu melihat sosok yang sejak tadi mengganggu ku dengan ucapan omong kosongnya.


Glekkkkk!


Aku menelan saliva, antara terkejut dan tak percaya.


Sabina kau bodoh. Kau sangat bodoh sampai tidak bisa menyadari dengan siapa kau bicara. Aku bergumam sambil menoleh kearah kiri. Aku malu. Sangat malu sampai membuat ku menyembunyikan wajah dengan telapak tangan.


...***...