Mr Love Love

Mr Love Love
Menjemput Morgiana



Morgiana!


Dia gadis yang cantik namun penuh dengan ambisi. Walau mengetahui buruknya sikap Morgiana kecil, aku tetap menjadikannya teman. Bisa di bilang, sejak kecil kami berteman baik.


Aku tidak bisa meninggalkan Morgiana sendirian, aku juga tidak bisa mengabaikannya karena dia satu-satunya sepupu yang ku punya.


Sabina, kau putri Mama yang baik dan penurut, kan? Mama mohon padamu, jangan tinggalkan Morgiana sendirian. Jika kau memusuhinya, dengan siapa lagi dia akan berteman? Seburuk apa pun perangai putri Tante mu, kau harus bersikap lunak padanya. Kau harus berbagi semua hal yang kau punya dengannya. Kau masih ingatkan besarnya usaha tantemu agar memiliki seorang anak? Entah berapa puluh kali sudah Mama mengatakan ucapan itu? Aku benar-benar tidak ingat lagi.


Pernah, saat masih kecil dulu. Aku memiliki sepeda yang sangat ku sukai. Sepeda itu hadiah dari kak Alan, ia menabung uang jajannya selama dua bulan hanya untuk hadiah ulang tahunku. Saat itu pertama kalinya Morgiana datang, dia bilang dia sangat menyukai sepedaku dan ingin memilikinya, sebagai anak kecil, aku menolak. Dan buruknya, Morgiana marah lalu mendorong ku sampai tangan kiriku patah. Aku juga masih ingat, saat itu kak Alan sangat marah sampai dia mendorong balik Morgiana. Aku berharap kenakalan kecilnya hanya sampai disana saja. Jika kenakalannya terulang sampai dia dewasa bahkan Mama dan Papanya pun tidak akan bisa menyelamatkannya.


Hahahaha!


Aku tertawa sambil melihat jalanan yang terlihat ramai. Bahkan di beberapa titik, kemacetan mulai mengular di sepanjang jalan yang Amri lewati.


"Nona, apa ada yang lucu?"


Glekkkk!


Aku menelan saliva, pertanyaan tiba-tiba Amri membuat ku terdiam. Aku mengerti, wajar saja ia bertanya karena melihat istri tuannya tertawa tanpa sebab, setidaknya itu yang dia pikirkan.


"Ah iya. Ah maaf, tidak." Balasku sedikit gugup.


"Saya perhatikan nona terlihat menikmati perjalanan ini. Apa orang yang datang memiliki arti khusus di hati Nona?"


"Arti khusus?" Aku mengulangi pertanyaan Amri sambil memikirkan jawaban yang tepat. Untuk sesaat aku kembali terdiam.


"Tidak, juga. Kami saudara, aku menganggapnya teman baik tapi kami tidak terlalu dekat. Saat kecil dulu kami sering bertengkar untuk hal yang sepele. Semoga saja sekarang saudariku itu berubah seiring bertambahnya usia." Sambungku lagi sambil menatap Amri yang saat ini sibuk di kursi kemudi.


"Nona, apa saya boleh mengatakan sesuatu?"


"Silahkan saja. Aku tidak pernah melarang mu."


"Tuan Araf sangat beruntung mendapatkan Nona sebagai istri. Saya berharap kalian di lindungi dari mata jahat."


"Aamiin. Terima kasih." Balas ku sambil tersenyum. Sedetik kemudian kami berdua sama-sama diam.


...***...


Bandara.


Waktu menunjukan pukul 9.00 saat aku tiba di bandara, begitu banyak orang sampai aku tidak bisa melihat Morgiana, entah dimana gadis nakal itu berada, tiga puluh menit ku berlalu dengan sia-sia hanya untuk menanti ke datanganya.


Apa dia tersesat? Atau dia pulang bersama orang yang salah? Mustahi! Celoteh ku di dalam hati sambil menatap kesegala arah.


"Apa Nona yakin saudari Nona akan datang sekarang? Semua orang sudah keluar, tapi kenapa saudari Nona belum juga keluar? Apa dia beralasan akan datang ke Indonesia, tapi sebenarnya dia pergi ke Negara lain bersama kekasihnya?"


Mendengar ucapan Amri netraku membulat tak percaya, sedetik kemudian aku menatap Amri dengan tatapan tajam, tatapan yang berhasil membuatnya merunduk karena menyesal.


Sejujurnya aku juga memiliki pertanyaan yang sama seperti Amri, hanya saja aku tidak ingin mempercayai semua itu, karena itu aku diam sambil menatap Amri dengan tatapan tajam.


Aku menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya kasar dari bibir. Aku meraih ponsel di dalam tas kemudian bersiap menghubungi Mama. Ketika aku akan menekan nomor Mama, tiba-tiba sosok cantik dan mengagumkan berdiri di depan ku.


"Sabina? Hey!"


Aku terdiam, aku tidak menjawab apa pun sampai gadis anggun itu memeluk ku.


"Morgiana!" Sambungnya lagi.


"Serius, kau Morgiana?" Kali ini aku bertanya karena masih belum yakin sepenuhnya.


"Iya, tentu saja. Aku Morgiana, bukankah aku lebih cantik dari sebelumnya? Haha."


Aku tersenyum sambil memeluk Morgiana, kekesalan karena terlalu lama menunggunya serasa menguap keangkasa.


"Maafkan aku karena membuat mu menunggu lama. Sebenarnya aku tidak merencanakan itu, hanya saja aku baru bertemu Mantan kekasih ku. Dia meminta ku menemaninya minum kopi, dan buruknya aku tidak bisa menolaknya." Celoteh Morgiana dengan penuh semangat.


Mantan kekasih!


Untuk apa mengakhiri hubungan jika mereka masih saling mencintai, dia bahkan tidak bisa menolak pria itu. Benar-benar aneh. Aku bergumam di dalam hati sambil pura-pura tersenyum.


Seorang pria berperawakan tinggi, berkulit putih, dan tentunya dia sangat tampan. Melambaikan tangan sambil tersenyum kearah ku dan Morgiana. Jika di lihat dari pakaian yang ia kenakan, sudah di pastikan dia seorang Pilot yang baru saja mendarat.


"Apa kau mengenalnya? Kenapa dia melambaikan tangan kearah kita? Dia bahkan tersenyum seperti orang bodoh." Aku bertanya karena melihat pria itu bersikap genit, dia bahkan mengedipkan mata secara berulang-ulang. Dalam pandangan ku, dia tampak seperti playboy, aku berani bertanya pada Morgiana setelah pria rupawan itu tak nampak lagi di netra teduh ku.


"Dia orangnya! Maksud ku mantan pacar ku!"


"What? Are you serious?"


"Ya, tentu saja." Balas Morgiana sambil menepuk pundaku, keras. Sungguh, kebiasaan lamanya masih belum hilang. Dan hal itu semakin membuat ku yakin kalau dia Morgiana yang sama seperti dulu, semoga saja tingkah anehnya saat masih kecil dulu tidak terulang kembali. Maksudku menyakiti orang lain demi mendapatkan apa pun yang dia inginkan.


"Nona, semua barang sudah saya masukkan ke dalam mobil. Apa kita akan pulang sekarang?" Amri bertanya sambil menenteng tas milik Morgiana di tangan kirinya. Tidak ada balasan dari ku selain anggukan kepala. Tidak perlu lagi berlama-lama di Bandara, aku yakin Mas Araf pasti khawatir kenapa aku belum kembali.


...***...


Kediaman Wijaya.


Selama sebulan ini Morgiana akan tinggal di rumah Mama. Keluarga Wijaya menyambut kedatangannya dengan bahagia. Lebih-lebih Mama, dia terlihat begitu bersemangat melihat keponakan satu-satunya datang berkunjung untuk pertama kalinya setelah dua puluh lima tahun berlalu.


"Sayang, apa kabar?"


"Baik, Tante."


"Kenapa kau tidak mengajak Mama dan Papa mu untuk datang?" Mama kembali bertanya sambil melepas pelukannya dari tubuh ramping Morgiana.


"Papa meminta Mama pergi bersamanya ke Jepang, ada pekerjaan penting yang harus di selesaikan. Mama titip salam, Mama juga minta maaf karena tidak bisa datang saat pernikahan Sabina. Beliau mengirimkan hadiah untuk kalian semua." Jawab Morgiana tanpa melepas senyuman dari wajah cantiknya.


"Mam, biarkan dia istirahat. Setelah itu kalian bisa ngobrol sepuas yang kalian inginkan. Lihat lah wajahnya? Wajahnya terlihat kusut setelah melewati hari yang melelahkan." Aku memegang lengan Mama sambil menatap netranya.


"Karena kau yang mengatakannya, Mama akan menurutimu. Suami mu menelpon, dia bilang kau tidak bisa di hubungi sejak pagi.


Dia meminta Mama membiarkan mu pulang setelah pekerjaan mu selesai, sekarang kau boleh pulang. Mama juga sudah menyiapkan makan malam untuk kalian berdua, jadi kau tidak perlu memasak begitu kau sampai di rumah."


"Terima kasih, Ma!" Kali ini giliran ku yang memeluk Mama.


"O iya, Sabina. Sejak tadi aku tidak melihat suami mu, dia ada dimana? Hari ini aku tidak akan melepaskannya, aku pasti akan meminta hadiah yang banyak darinya." Celetuk Morgiana sambil menghentikan langkah kakinya.


"Besok atau lusa, aku pasti akan mengenalkan kalian! Hari ini tidak bisa karena dia sedang sibuk dengan pekerjaannya." Balasku sambil melambaikan tangan kearah Morgiana.


Sedetik kemudian Morgiana kembali melangkahkan kaki jenjangnya, menaiki anak tangga secara perlahan. Dan berakhir di kamar tamu yang terletak di sebelah kamar ku dulu.


...***...