Mr Love Love

Mr Love Love
Pengobat Rindu



Sepekan berlalu sejak kejadian buruk di mansion Wijaya. Dan kabar buruknya, benar-benar tidak ada komunikasi antara Araf dan Sabina. Bukan karena Araf tidak merindukan Sabina-nya. Hanya saja, ia tidak tahu bagaimana cara menghubunginya karena ponsel Sabina di sita oleh Mama Nani.


Araf bagai burung yang patah sayapnya, walau ingin terbang dan bertemu dengan bidadarinya, rasanya seolah semua jalan telah tertutup baginya. Jadilah Araf hanya bisa menatap dari balik pagar mansion megah itu, dan itu sudah menjadi rutinitasnya setiap malam, manatap jendela kamar Sabina dengan perasaan campur aduk. Ingin memeluk namun tak bisa di jangkau. Walau kerinduan memenuhi rongga dada, ia harus bertahan untuk memendam semuanya sendirian. Ia juga yakin Sabina merasakan hal yang sama. Karena itulah Araf berharap, tidak ada kabar dari Sabina berarti dia selalu baik-baik saja.


"Aku sudah bilang, jangan ganggu aku untuk satu jam ke depan. Apa kau tuli?" Bentak Araf tanpa melihat siapa yang datang dan membuka pintu kantornya.


"Keluar!" Sentak Araf dengan suara menggelegar. Masih dalam keadaan tidak memperhatikan siapa yang datang. Ia hanya mendengar derap langkah kaki seseorang yang berjalan menuju meja kerjanya, kerinduan pada istrinya membuatnya menjadi pemarah selama beberapa hari ini.


"Aku bilang kel..." Ucapan Araf tertahan di tenggorokannya begitu ia mengangkat kepala dan mendapati sosok yang berdiri sambil melipat kedua tangan di depan dada itu. Araf langsung berdiri, mengutuk kebodohannya sendiri. Seharusnya ia melihat siapa yang datang, dan bukannya marah-marah seperti pecundang.


"Apa aku harus pergi? Sekarang?" Ucap sosok yang berdiri di depan meja kerja Araf.


"Aku minta maaf. Seharusnya aku tidak melakukan itu." Balas Araf santai. Ia berjalan menuju sofa, kemudian duduk di sana. Raut wajahnya terlihat prustasi, ia terlihat seperti akan tiada besok. Dan ia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya lagi.


"Ada apa denganmu? Bukannya bekerja keras meluluhkan hati Mama, kau malah terlihat seperti pecundang." Sosok rupawan itu menceramahi Araf dengan ucapan ketusnya. Iya, Araf memang pantas mendapatkannya. Hanya saja, jika ia terus di salahkan, ia merasa seperti orang yang paling tidak berguna, padahal sebenarnya masih banyak orang yang jauh lebih menderita jika di bandingkan dengannya.


"Ini, ambil." Alan melempar ponsel ke arah Araf. Sedetik kemudian ponsel itu sudah berpindah tangan.


"Aku memberimu hutang, dan kau harus membayarnya disaat yang tepat." Alan berucap tanpa senyuman, seolah ia sedang bicara dengan musuhnya.


"Hutang? Aku tidak butuh hutang. Aku masih punya banyak uang." Cecar Araf tanpa berusaha mencari tahu isi di dalam ponsel yang ada di tangannya.


"Ya sudah jika kau tidak mau, kembalikan ponselnya!" Alan menjulurkan tangannya hendak mengambil ponsel dari tangan Araf. Entah bagaimana caranya tiba-tiba ponsel itu terbuka, sepertinya tanpa sengaja tangan Araf menekan vidio, sebuah vidio yang menampilkan sosok yang sangat dirindukan netranya.


Araf tersenyum, namun air matanya mulai menetes. kerinduan ini telah memenuhi seluruh pori-pori tubuhnya, otaknya tak bisa berpikir karena ada satu nama yang terus menghantuinya, Sabina.


"Nak, apa kau merindukan Papa? Mama juga sangat merindukannya. Disini, Mama harus bersikap baik pada Oma dan Opa kalian. Namun disisi lain, ada Papa kalian yang sangat Mama rindukan. Kalian harus janji, kalau kalian tidak akan meyusahkan Mama selama kita jauh dari Papa." Ucap Sabina pada penggalan vidio singkatnya, wajah cantik itu mengukir senyuman namun matanya menampakkan kesedihan.


Tuhan... Aku sangat mencintai Sabina. Tolong, jangan ambil kebahagiaan kami karena dosa masa laluku. Aku janji untuk selalu bersikap baik. Gumam Araf di dalam hatinya, ia menatap Alan yang merupakan sahabat baik sekaligus kakak iparnya sembari bibirnya berucap 'Terima kasih' setidaknya penggalan vidio singkat itu sudah bisa mengobati kerinduan yang menuhi ubun-ubunnya.


...***...