
Assalamu'alaikum... Dokter Araf, kami dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan kalau istri dokter Araf yakni Nyonya Sabina pingsan di rumah sakit.
Dada ku bergemuruh, sekujur tubuh ku terasa mati rasa setelah mendapat panggilan dari pihak rumah sakit, mereka mengabarkan kalau Sabina ku yang sakit dan bukan Opa-nya, aku merasakan ketakutan luar biasa. Untuk pertama kalinya aku takut kehilangan sesuatu dalam hidup ini.
Dalam hati, aku bertanya-tanya ada apa sebenarnya? Semalam Sabina baik-baik saja, lalu ada apa dengan pagi ini? Apa Sabina benar-benar belum bisa memaafkan ku? Apa jiwanya masih tertekan karena itu dia pingsan? Memikirkan semua ini membuat ku hilang akal.
Selama dalam perjalanan aku sangat kesal, kesal luar biasa. Bukannya sampai rumah sakit dengan segera aku malah terjebak dalam kemacetan panjang, kemacetan yang membuat sekujur tubuh ku kembali merinding.
Syukurlah, sekarang aku sudah sampai di halaman depan rumah sakit. Memarkir mobil kemudian berlari menuju ruang inap Sabina yang berada di lantai tiga.
"Ada apa dengan ku? Kenapa air mata ini tidak bisa berhenti menetes." Ujar ku sambil berjalan pelan.
"Selamat pagi Dokter."
"Iya, selamat pagi." Balas ku pada staf yang menyapa ku dengan kepala tertuduk.
Lima menit kemudian aku sudah berada di ruang inap Sabina. Ia sedang tidur, dan wajah cantiknya terlihat sangat pucat. Air mata ku kembali menetes sambil menatap wajah cantik Sabina. Aku tidak menyangka kalau aku telah melukai perasaannnya. Melukainya sangat dalam sampai tidak bisa termaafkan.
Aku membelai puncak kepala Sabina yang tertutup kain penutup kepala. Aku tidak tahu harus memulai dari mana.
"Selamat pagi dokter Araf! Anda sudah sampai? Syukurlah!" Seorang Dokter paruh baya memasuki ruang inap Sabina sambil memamerkan senyuman terbaiknya.
"Saya baru saja sampai, Dok. Saya mendapat panggilan yang mengatakan istri saya pingsan. Apa yang terjadi padanya sampai dia terlihat selemah ini?" Aku mulai bertanya tanpa basa-basi. Berharap segera mendapat jawaban.
"Dokter Araf tidak perlu khawatir, Nyonya Araf baik-baik saja. Beliau seratus persen baik-baik saja. Hanya saja selama beberapa waktu kedepan Nyonya Araf akan merasa..."
Dag.Dig.Dug.
Dada ku berdebar sangat kencang, jantungku seolah akan loncat keluar, bukannya mengatakannya dengan cepat, Dokter Fahira malah menggantung kalimatnya. Rasanya aku ingin marah dan berteriak padanya, namun sebisa mungkin aku berusaha mengendalikan diri agar tidak marah-marah di depan Sabina yang saat ini sedang tertidur pulas.
"Saya kecewa pada dokter Araf! Benar-benar sangat kecewa. Saya tidak menyangka anda yang begitu saya hormati ternyata sangat ceroboh.
Saya tidak mengharapkan hal ini dari anda, tapi mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terjadi, mau tidak mau saya pun harus menghormati keputusan anda." Dokter Fahira berucap dengan nada sinis, tatapannya sangat tajam. Melihatnya bertingkah sok akrab membuat ku merasa takut. Aku sendiri tidak bisa menebak jalan pikirannya.
Glekkk!
Aku hanya bisa menelan saliva, tidak tahu harus berkata apa. Aku sendiri tidak tahu arah pembicaraan dokter Fahira. Jika dia tidak lebih tua dariku, aku pasti sudah memakinya. Untuk apa ia menggantung kalimatnya dan bicara berbelit-belit? Ya, kuakui dia dokter yang handal dan juga cekatan. Aku rasa hanya alasan itu yang ku punya sampai aku masih terdiam saat dia bicara seperti sedang menghakimi ku.
Di ruang inap Sabina hanya ada kami berdua, aku tidak mengizinkan siapa pun masuk sebelumnya, namun tanpa ku duga dokter Fahira tiba-tiba menerobos masuk kemudian memamerkan senyuman ramahnya. Aku berharap dia segera pergi dan membiarkan ku berdua dengan istri yang sangat ku kasihi yang saat ini dalam kondisi tidak berdaya.
"Saya tidak akan tahu jika Dokter Fahira tidak mengatakan apa pun. Jujur, saya benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan ini.
Ucapan Dokter Fahira seolah sedang menghakimi ku! Apa Dokter tahu? Mendengar ucapan yang baru saja keluar dari lisan Dokter Fahira membuat ku merasa kesal, kesal luar biasa. Anda bicara seolah anda tahu kehidupan pribadi ku." Balas ku dengan nada suara lantang. Setiap kata yang keluar dari bibirku terdengar sangat pedas, bukannya membalas ucapanku, Dokter Fahira malah terkekeh sampai memperlihatkan gigi putih bersihnya.
"Apa aku mengatakan hal yang salah? Aku rasa Dokter Fahira sedang meledekku?" Selidik ku dengan tatapan tajam.
"Haha! Itu tidak benar Dokter. Yang tadi itu, saya hanya bercanda. Saya hanya ingin menggoda Dokter Araf saja. Sebenarnya saya ingin mengatakan kalau anda sangat di berkati!"
Lagi-lagi Dokter Fahira hanya bisa menggantung kalimatnya, untuk sejenak aku menatap wajah tersenyumnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Saya bilang selamat! Anda akan jadi seorang ayah." Sambung dokter Fahira tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah terkejutku.
Apa aku sedang bermimpi? Aku masih belum bisa mempercayai semua yang ku dengar. Alih-alih mencoba mengkonfirmasi dengan Dokter Fahira, aku malah mencubit lengan ku berharap segera bangun dari mimpi indah ini.
Sakit!
Itulah yang ku rasakan setelah aku kembali fokus. Dadaku berdebar sangat kencang, perasaan bahagia kini memenuhi rongga dadaku. Bibir tipisku kembali mengukir senyuman sembari menatap Sabina yang masih saja terlelap.
"Apa aku tidak salah dengar? Apa ucapan Dokter Fahira bisa di percaya? Jika itu salah, aku pasti akan sangat marah karena dokter berani mempermainkan perasaan ku."
Tidak ada balasan dari Dokter Fahira, ia hanya bisa mengangguk tanpa melepas senyuman dari bibir merahnya.
"Iya, itu memang benar, dan tak bisa di bantahkan. Nyonya Araf benar-benar mengandung, saat ini usia kandungannya sudah memasuki minggu kedua.
Saya tidak akan meminta dokter Araf untuk menjaga Nyonya Araf karena tanpa di minta Dokter Araf pasti akan melakukannya.
Awal-awal kehamilan memang sedikit berat, jadi saya hanya bisa meminta tetap jaga Nyonya Araf sebaik yang Dokter bisa. Buat dia tetap merasa bahagia. Jauhkan dia dari stres yang bisa saja mengganggu kesehatannya dan juga calon bayinya." Ucap Dokter Fahira menjelaskan panjang kali lebar.
Seketika rasa khawatir ku langsung menguap keangkasa. Saat pihak rumah sakit memberitahukan keadaan Sabina hampir saja aku tiada karena terkejut, berita yang ku pikir berita buruk ternyaya berita terbaik yang pernah ku dengar.
Aku sangat bahagia sampai tidak bisa mengendalikan perasaan ku. Bukan hanya itu, tetesan demi tetesan air mata mulai membasahi wajah tampan ku.
"Saya akan meninggalkan dokter Araf dan Nyonya Araf. Kalian bisa bicara. Permisi!" Ucap Dokter Fahira sembari mengulurkan tangan hendak menjabat pergelangan tangan ku. Dan tentu saja aku menyambutnya dengan bahagia.
...***...