
Aku berdiri mematung sembari menggigit bibir bawahku. Sungguh, aku tidak berbohong, dadaku berdebar sangat kencang seolah jantung ku akan loncat keluar. Bagaimana tidak? Lengan Mas Araf yang sobek terkena pisau bedah, setelah di bersihkan kini sedang di jahit. Entah mimpi apa aku semalam sampai menyaksikan pristiwa mengerikan ini?
Mengerikan?
Tentu saja bagiku itu sangat mengerikan, aku sangat takut melihat darah yang terus saja menetes. Melihat Mas Araf menahan sakit semakin membuatku merinding.
"Dokter Araf, ini sudah selesai." Ucap Dokter muda yang menjahit lengan Mas Araf.
"Syukurlah lukanya tidak terlalu dalam, Tapi yang jadi masalahnya, siapa yang meletakkan pisau bedah di atas nakas ruang inap pasien? Tidak mungkin pisau itu jalan sendiri jika tidak ada yang membawanya."
Mas Araf yang di tanya hanya bisa mengedikkan bahunya. Mengisyaratkan kalau dia tidak tahu jawabannya.
"Itu pasti pekerjaan perawat yang bertugas, mungkin tanpa sengaja dia membawa pisau itu karena terkejut dengan suara teriakan wanita itu." Ucapku menengahi.
"Bagaimana menurut dokter Araf? Apa kita harus mengusutnya? Ini merupakan pelanggaran serius, bagaimana jika nyawa orang lain hilang hanya karena kecerobohan satu orang?"
"Dokter Ardan tidak perlu melakukan itu. Kita semua dalam keadaan panik, siapa pun bisa melakukan kesalahan.
Hanya saja, aku meminta. Selidiki secara diam-diam siapa orang yang bertanggung jawab memerintahkan wanita itu dan bayinya keluar dari rumah sakit ini tanpa seizinku.
O iya, aku juga meminta informasi tentang siapa yang membawa pisau bedah itu, aku hanya akan memberikan peringatan padanya. Itu saja." Ujar Mas Araf sambil bangun dari posisi duduknya.
"Baik, Pak. Akan saya lakukan sesuai perintah anda. Insya Allah informasinya akan anda terima besok sore!" Balas Dokter Ardan tanpa ragu-ragu.
"Baiklah, kami permisi dulu. Kami harus pulang." Kali ini aku menatap wajah Mas Araf dan Dokter Ardan secara bergiliran.
Sedetik kemudian aku mulai memegang lengan Mas Araf tanpa berucap sepatah kata pun. Berjalan pelan menuju area parkir, langkah kaki kami terhenti saat tiba di Lobi rumah sakit.
"Papa, Papa ada disini?" Ucap Mas Araf menyapa Papa mertua, tatapannya membulat sempurna.
"Apa Papa akan menjemput Mama?" Aku bertanya sambil menatap wajah terkejut Papa.
"Iya. Dimana Mama kalian?"
"Mama ada di kantin, Pa. Bersama Mama Nani. Tadi Sabina dan Mas Araf sudah bicara dengan beliau kalau kami akan pulang duluan." Sambungku lagi, kali ini aku tersenyum tipis sembari menunjuk kearah kantin.
Untuk sesaat aku menatap wajah Mas Araf, wajah tampannya terlihat kesal. Tidak ada yang bisa ku lakukan selain menatapnya dengan tatapan tajam. Tidak mungkin aku menasihatinya di depan Papa Mertua, itu akan melukai harga dirinya.
"Papa akan menjemput Mama?" Aku kembali bertanya.
"Iya, Mama mu bilang tidak akan pulang jika Papa tidak menjemputnya. Haha!" Balas Papa Mertua sambil terkekeh.
"Baiklah, Pa. Kami pulang dulu." Ucapku berpamitan, aku mencium punggung tangan Papa penuh takzim.
"Semoga Allah selalu membuat kalian bahagia." Ucap Papa sambil menyentuh kepalaku.
Rasanya aku ingin memarahi Mas Araf, ia bahkan tidak menghiraukan Papa. Teganya dia meninggalkan kami dan berjalan pelan menuju parkiran. Papa Mertua yang baik, beliau bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Beliau hanya menatap punggung Mas Araf sampai tubuh kekar itu menghilang di balik kokohnya dinding rumah sakit.
...***...
"Aku tidak ingin bicara dengan mu!" Celoteh ku di dalam mobil yang masih berjalan.
"Honey, kenapa kau marah? Katakan padaku apa salah ku agar aku bisa memperbaiki segalanya!"
"Sayang... Kau tahu sendirikan? Hubunganku dan Papa itu sedikit rumit." Balas Mas Araf dengan suara tegas. Ia menatap tajam kedepan.
Untuk beberapa saat, kami bahkan tidak saling bicara. Baik aku atau Mas Araf hanya bisa diam, entah kenapa aku sangat marah. Apa aku marah karena Mas Araf mengabaikan Papa? Atau justru sebaliknya, aku kesal karena tantangan dari Morgiana? Jika ini bukan tentang keduanya, apa ini bawaan Bayi? Entahlah aku sendiri tidak tahu jawabannya.
Begitu mobil yang Mas Araf kendari berhenti di halaman rumah, aku membuka pintu mobil masih dalam keadaan diam. Pura-pura cuek.
"Honey... Tunggu aku!"
"Tidak!" Balas ku singkat.
Huekkkk!
Aku menjulurkan lidah sambil berlari pelan masuk kedalam rumah. Mas Araf yang malang, dia bahkan tidak tahu kalau amarahku sudah menghilang dan sekarang aku sedang menggodanya.
Baru saja aku memasuki rumah, netraku langsung menatap tajam kearah sumber suara.
Ada apa disana? Batinku sambil berjalan pelan. Aku menoleh kebelakang namun aku tidak mendapati Mas Araf, sepertinya dia sedang menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Berani sekali kamu menatapku seperti itu? Apa orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun?"
"Maaffff Kak."
"Kakak? Siapa Kakak mu? Jangan pernah berani memanggil ku seperti itu karena aku tidak punya adik seorang pembantu."
Mmm!
Aku berdeham sambil menatap tajam sosok pemarah yang berdiri di depan ku.
"Rita, apa yang kamu lakukan disana? Masuk. Ibumu menunggu di dalam." Ucapku begitu aku berdiri jarak lima langlah dari bocah manis itu.
"Kakak. Maaf!" Ucap Rita sambil menatap ku dengan wajah sedihnya.
"Tidak apa-apa. Kakak cantik itu sudah memaafkanmu, dia tidak akan marah lagi. Sekarang kau bisa masuk dan belajar." Ucapku lagi.
Tidak ada balasan dari Rita selain anggukan kepala, netra coklatnya memancarkan kesedihan mendalam. Kesalahan apa yang dia lakukan sampai Morgiana berani memarahinya? Dan yang membuatku semakin bingung, kenapa Morgiana bisa ada di rumahku? Padahal empat jam yang lalu gadis pemarah itu menantang akan merebut Mas Araf dariku.
"Apa yang kau lakukan di rumah ku?" Aku bertanya sambil melipat kedua lengan di depan dada.
"Hari ini kau menantangku dengan penuh percaya diri, dan sekarang kau mengamuk lagi di rumah. Bukan dengan ku, melainkan dengan anak kecil yang bahkan belum mengenal bangku sekolah!
Apa kau mulai hilang kesabaran karena waktu yang kau punya terlalu singkat? Jika itu benar, lebih baik kita akhiri semuanya sampai disini dan kau bisa kembali ke Kanada dan berkumpul dengan Tante Begum." Ucapku ketus, aku menatap Morgiana dengan tatapan tajam.
"Aku datang atas permintaan Tante Nani. Lagi pula, aku tidak suka melihat wajahmu.
Jika bukan karena Laurent, aku tidak akan pernah membiarkan diriku berada di bawah atap yang sama dengan wanita pengganggu sepertimu." Ujar Morgiana tanpa melepaskan senyum mengejeknya.
Darahku terasa mendidih, aku tidak sabar ingin menjambak rambut Morgiana. Sayangnya, disaat aku akan melakukan itu Mas Araf malah datang tanpa melepas senyuman menawan dari wajah tampannya, ia membawa buket bunga di tangan kanannya. Ia masih tersenyum sambil menatapku, namun senyuman itu langsung menghilang begitu ia menatap sosok Morgiana yang berdiri di depanku.
Sabina, kau dalam masalah besar. Kau terjebak dimana? Batinku sambil merunduk menahan amarah.
...***...