
Sejak pagi aku tidak bisa melihat senyuman Sabina, entah kenapa dia berubah menjadi pendiam. Aku sendiri tidak tahu kesalahan apa yang sudah kubuat sampai membuatnya berubah secara tiba-tiba. Pagi ini dia membuatkan kopi seperti biasa, sayangnya tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari lisannya, dia mengabaikan ku, dia juga bersikap dingin padaku.
Apa karena ucapan tante Dinda? Atau justru aku mengigau dalam tidur ku dan tanpa sengaja menyebut nama wanita itu? Wanita yang menjadi masa laluku dan aku pun sudah melupakannya. Entah lah, aku sendiri tidak bisa menebak jalan pikiran Sabina. Berada di rumah sakit pun tidak membawa perubahan apa pun bagi hati ku, aku justru semakin gelisah. Dan di saat seperti ini tidak ada hal lain yang bisa ku lakukan selain menyusul Sabina.
Hahaha...
Suara tawa memenuhi indra pendengaran ku begitu aku memasuki rumah Alan, untungnya pintunya tidak terkunci. Aku penasaran kenapa semua orang tertawa dan terlihat bahagia tanpa kehadiranku. Apa aku datang di saat yang salah? Bagaimana jika mereka terganggu karena kehadiran ku? Aku berniat pergi secara diam-diam namun satu panggilan dari Fazila menghentikan langkah kaki ku.
"Paman ganteng? Yeeee...!" Ucap Fazila penuh semangat. Dia berlari kearah ku tanpa melepas senyuman menawan dari wajah cantiknya.
"Paman ganteng mau kemana? Apa paman ganteng tidak merindukan Fazila?"
"Rindu. Sangat rindu!" Balas ku sambil mencubit hidung bangir Fazila.
"Jika paman ganteng merindukan Fazila kenapa paman ganteng ingin pergi sebelum bertemu dengan Fazila? Paman ganteng bohong!" Celoteh Fazila lagi, kali ini anak manis itu menyebikkan bibir tipisnya.
Hahaha...
Aku mulai tertawa lepas, melihat tingkah menggemaskan Fazila membuat ku tidak bisa berhenti untuk tertawa. Setelah sekian lama akhirnya untuk pertama kalinya aku bisa tertawa lepas. Aku mengehentikan tawaku saat aku mulai menyadari semua mata menatap ku dengan tatapan heran. Fatimah, Alan, dan Sabina.
Netraku mengunci pada satu titik, aku melihat sosok mengagumkan duduk di samping Alan. Aku tidak mengenalnya, aku juga tidak pernah melihatnya. Entah siapa pemuda berkulit pucat itu? Sesekali aku bahkan melihatnya menatap Sabina sambil tersenyum.
"Ayo, kita duduk disana!" Fazila memegang jemari ku, berjalan kearah sofa sambil balas menatap Alan yang saat ini menatap ku dengan tatapan heran.
"Aku pikir kau lupa alamat rumah ku. Sudah lama sekali sejak terakhir kali kau menginjakkan kaki di tempat ini." Ucap Alan sedikit ketus.
"Abi... Biarkan dokter Araf duduk dulu, jangan mengganggunya. Istrinya ada disini, bagaimana jika Sabina ngambek karena Abi meledek suaminya?"
"Tidak apa-apa nona Fatimah, biarkan Alan melakukan apa pun yang dia inginkan. Aku yakin setelah dia bosan dia akan berhenti sendiri. Siapa tahu saat Alan bicara Nona Fatimah akan menemukan kalau dia tidak sebaik yang kau kira." Celoteh ku sambil duduk di samping Sabina.
Cesss!
Dadaku berdebar, akhirnya senyuman Sabina kembali. Senyuman menawannya membuat jantungku berdetak semakin kencang, bahkan darah ku terasa mengalir sepuluh kali lebih cepat. Bukankah aku terlalu berlebihan? Apa pun itu aku tidak terlalu memperdulikan-nya.
"Bukankah Mas Araf bilang hari ini ada oprasi darurat? Kenapa Mas Araf datang jika mas Araf sibuk? Aku bisa pulang menggunakan taksi." Celoteh Sabina dengan suara lembutnya.
Jujur, aku merasa sedikit kecewa mendengar ucapan Sabina. Rasa-rasanya seolah kehadiran ku tidak di inginkan.
"Kenapa? Kakak justru bahagia Dokter Araf datang kemari, itu artinya dia sangat merindukan istri cantiknya." Ummi Fazila berucap sambil menatapku dan Sabina secara bergantian, senyum manis terus saja merekah dari bibir merah muda alami miliknya.
Ternyata takdir itu sangat menakjubkan, dulu aku sangat mencintai Ummi Fazila, tapi sekarang? Takdir bahkan menyatukan kami menjadi satu keluarga, terikat dalam satu hubungan, hubungan persaudaraan. Menjadi adik dan kakak ipar, dan sejujurnya itu tidak buruk.
"Paman ganteng, perkenalkan! Dia guru ngaji Fazila, namanya paman Ikmal. Saudara Ummi."
Oooo... Ternyata si kulit pucat itu guru ngaji Fazila. Pantas saja penampilannya seperti orang timur tengah yang sedang kesasar. Aku bergumam di dalam hati sambil menatap kearah pemuda rupawan yang di tunjuk Fazila.
"Saudara?" Aku bertanya sambil mengerutkan kening, ini untuk pertama kalinya aku mendengar Ummi Fazila memiliki saudara. Bukan perempuan, tapi seorang pria berparas rupawan.
Mendengar penuturan singkat Ikmal, aku hanya bisa menganggukkan kepala pelan. Iya, itu bisa saja terjadi. Aku juga menganggap Alan sangat berharga dalam hidup ku, aku lebih menyayanginya di bandingkan dengan kedua adik ku. Ini aneh tapi nyata.
"Tuan, makan siangnya sudah siap." Ucap seorang Art separuh baya yang tiba-tiba muncul dan mengganggu pembicaraan hangat kami.
"Baik Mbok, terima kasih." Balas Alan singkat. Sejak menikah dengan Ummi Fazila aku bisa melihat perubahan drastis dari sosok Alan Wijaya, dia yang dulunya seorang pemarah sekarang berubah menjadi sosok yang ramah, dia bisa mengendalikan amarahnya, menurut ku itu hal yang besar, jarak Alan dengan keluarganya pun sekarang telah terkikis habis. Tidak ada lagi duka ataupun air mata, yang ada hanya bahagia saja.
...***...
"Kelihatannya pria berkulit pucat itu sangat baik padamu? Dia bahkah memberikan kado pernikahan untukmu."
Aku kembali membuka suara di antara senyapnya udara, sejak tadi ku perhatikan Sabina terus saja tersenyum. Dan buruknya, aku tidak tahu hal apa yang membuatnya sebahagia itu. Aku ingin bertanya, tapi aku tidak tahu dari mana akan memulainya?
"Dia tidak berkulit pucat, Mas Araffff! Dia berkulit putih bersih dan juga tampan." Balas Sabina sambil menoleh kearahku yang saat ini sedang duduk di kursi kemudi.
"Tanyakan apa pun yang Mas Araf inginkan, tidak perlu sungkan." Ucap Sabina lagi setelah melihat ekspresi wajah gusar ku.
"A-ak aku, aku..."
"Aku apa? Kenapa mas Araf gugup. Aku tidak akan menggigit mu, aku juga tidak akan mencela." Ujar Sabina, lagi-lagi ia hanya bisa memamerkan senyuman-nya.
"Si kulit pucat itu, bagaimana kau bisa mengenalnya? Dia terlihat seperti pria mata keranjang!"
"Haha... Mas Araf bisa saja. Namanya Ikmal, dia terlihat baik-baik saja. Dia juga bukan pria sembarangan." Jawab Sabina penuh pertimbangan.
"Baik apanya! Dia tersenyum padamu seolah kau belum menikah! Apa namanya itu kalau bukan mata keranjang?" Aku bicara dengan nada sewot.
"Haha... Mas Araf bisa aja. Bukan Mas Ikmal yang mata keranjang, tapi mas Araf yang cemburuan. Ayo ngaku?" Celoteh Sabina Sambil mencolek lengan ku, bukannya menenangkan hati ku yang sedang gundah dia malah cekikikan sambil memegang perut ratanya.
"Kata siapa aku cemburu? Iiiihhhhh!" Aku pura-pura mengelak sambil menggelengkan kepala.
"Ngomong-ngomong Mas Ikmal itu ganteng ya? Semua gadis pasti akan mudah...."
"Sabina, cukup!" Ucap ku dengan tatapan tajam.
Lagi-lagi Sabina hanya bisa cekikikan, entah apa yang ada dalam pikirannya sampai dia sebahagia itu. Padahal pagi ini wajah cantiknya tampak seperti baju yang tidak pernah di sentuh seterikaan. Kusut dan muram, setidaknya dua kata itu cocok untuk menggambarkan keadaannya.
Melihat Sabina bahagia aku juga merasa bahagia. Padahal sebelumnya perasaan ku padanya hanya sebatas rasa hormat pada adik dari sahabat baiknya. Entah sejak kapan rasa hormat ku berubah menjadi perasaan kagum seorang pria pada wanita pada umumnya.
Apa aku cemburu? Aku sendiri tidak tahu jawabannya. Bukankah aku sangat bodoh? Iya, itu mungkin saja, entah berapa banyak wanita yang sudah ku pacari namun sekalipun aku tidak pernah merasakan cemburu. Sementara Sabina? Ada semacam magnet yang menarikku kearahnya, aku merasa sedih saat dia mengabaikan ku, dan aku merasa jantung ku akan loncat keluar saat dia menggodaku.
Dan lihatlah senyuman Sabina saat ini? Senyumnya lebih indah dari purnama, dan kelembutan sikap yang ia tunjukan setiap hari sanggup meluluhkan batu besar yang memisahkan jarak di antara kami berdua.
...***...