Mr Love Love

Mr Love Love
Mama Riska Terluka



"Mr. Amerika? Apa aku tidak salah dengar? Hay Nona, kita ada di Indonesia. Jika kau mencari Mr.Amerika mu disini, apa itu tidak terkesan seperti kau sedang bicara omong kosong?" Aku bertanya sambil menatap wajah tersenyum Morgiana.


Jika di lihat dari tingkah lakunya, sepertinya Morgiana tidak berbohong. Hanya saja aku tidak begitu yakin dengan gadis manja itu, dia terlalu sering berbohong, karena itulah sulit sekali bagiku untuk bisa mempercayai ucapannya.


Hhmmmm!


Aku menghela nafas. Aku terdiam. Tidak ada yang bisa ku lakukan, menasihati Morgiana sama saja dengan menasihati patung, sekuat apa pun aku mencoba untuk bicara dia tetap tidak akan mendengarkan. Entah pria seperti apa yang berhasil mencuri hatinya sampai dia kehilangan akal sehatnya.


"Dia pria yang tampan. Dia pria yang baik. Tidak ada yang bisa menyamainya, dan tidak ada yang bisa menggantikannya di hati ku. Hati ku tenang saat bersamanya, jiwa ku terasa terbang keawan setiap kali mendapat perlakuan manis darinya."


Untuk sesaat, suasana di kantor Mas Araf terasa senyap. Aku kembali terdiam, penuturan Morgiana terlalu berat bagiku. Jika ada yang bertanya kenapa terlalu berat? Jawabannya sangat sederhana, karena aku tidak pernah merasakan cinta sebesar itu pada siapa pun. Aku tidak ingin terlibat perasaan cinta dengan siapa pun sebelum ada status di antara kami berdua. Bagiku pacaran atau cinta di mulai setelah Akad nikah, dan sekarang itulah yang sedang terjadi dengan ku.


"Sekuat apa pun kamu mencoba, kamu tidak akan bisa mengerti tentang semua perasaan ini karena kamu berbeda dengan ku." Sambung Morgiana lagi. Tatapannya menjelaskan kalau sebenarnya dia sedang meremehkan ku.


Aku tidak perduli dengan tanggapan orang lain tentang diriku, aku juga tidak perduli jika orang lain mengataiku ketinggalan Zaman. Perlakuan manis dari pria yang tidak halal, pelukan dan juga ciuman, bagiku, itu musibah dan bukan berkah.


"Iya, kamu benar. Kamu berbeda jauh dengan ku. Jika itu aku, aku tidak akan pernah mencintai pria manapun sedalam itu. Apa lagi sebelum Akad Nikah.


Entah orang mengataiku tidak laku atau apapun itu, aku sama sekali tidak perduli. Yang ku perdulikan hanya kebahagiaan keluargaku dan keridoan Tuhan ku, yang lainnya bisa belakangan." Balas ku sambil menatap Morgiana dengan tatapan penuh percaya diri.


Aku percaya pada keputusan ku, aku juga percaya Tuhan ku tidak akan pernah mengecewakan ku seperti Manusia yang selalu meninggalkan luka.


"Terserah apa pun yang kau katakan tentang Mr.Amerika mu, aku tidak ingin terlibat dengan semua itu. Habiskan teh mu setelah itu kita akan kembali ke kamar kak Fatimah." Celoteh ku lagi, kali ini sambil menepuk pundak Morgiana pelan.


Hehehe!


Bukannya sedih mendengar ucapan ku, Morgiana malah terkekeh sambil memegangi perut ratanya. Ia mencubit lengan ku kemudian berjalan pelan menuju balkon. Entah apa yang di rancang otak kecinya sampai ia terlihat bahagia. Aku bisa melihat dari sikap yang di tunjukan gadis aneh itu, tatapannya di penuhi oleh percikan pengharapan. Di saat seperti ini jangan sampai dia berbuat nekat apa lagi sampai mengganggu orang lain.


"Sabina, I know you! Jangan pura-pura marah di depan ku. Itu tidak akan berhasil. Marah-marah tidak cocok dengan gayamu." Celetuk Morgiana, kali ini ia kembali berjalan mendekati ku.


"Kau harus membantu ku! Bantu aku menemukan Mr.Amerika. Jika kau bisa melakukan itu, aku akan sangat, sangat berterima kasih padamu."


"Aku tidak bisa dan aku tidak mau. Bagaimana aku bisa membantumu? Aku juga tidak mengenal Mr. Amerika mu, walau tanpa sengaja berpapasan dengannya aku tidak akan pernah mengenalinya. Lupakan saja semuanya, akan jadi masalah jika dia sudah menikah."


"Morgiana, itu dulu. Maksud ku, dulu pria itu mencintai mu dan dulu dia juga meminta mu untuk menikah dengannya, apa pun bisa saja terjadi dalam detik selanjutnya. Aku memintamu melupakannya karena aku khawatir dia sudah menikah dan punya kehidupan bahagia bersama Istri dan anak-anaknya. Aku tidak ingin kita datang secara tiba-tiba kemudian mengganggunya." Ujar ku tanpa memgalihkan pandangan dari wajah cantik Morgiana.


Wajah Morgiana yang tadinya tersenyum penuh kemenangan kini berubah masam. Aku yakin jika orang lain yang bicara ketus seperti yang ku lakukan, dia pasti sudah mematahkan lengannya. Aku benar-benar tidak tahu, apa yang ku lakukan ini sudah benar atau tidak? Yang jelas aku tidak ingin Morgiana terluka, lebih baik dia mendengar ucapan ketus ku sekarang dari pada harapannya harus pupus di tengah jalan.


"Aku tidak akan pernah mendengar ucapan mu. Jangan pernah ulangi apa yang sudah kau katakan barusan. Aku mencintai Mr.Amerika, dan akan selalu seperti itu. Aku tidak perduli dengan pendapat orang lain, dia milik ku dan akan selalu menjadi milik ku!" Ucap Morgiana sambil menunjuk wajah ku dengan jari telunjuknya, dia menatap ku dengan tatapan tajam, seolah tatapannya akan menguliti ku hidup-hidup. Wajah cantiknya kini memamerkan amarah luar biasa.


Prakkkkk!


Daun pintu kantor Mas Araf di banting cukup keras. Karena terkejut aku bahkan sampai bersimpuh di lantai. Aku benar-benar terkejut melihat reaksi spontan Morgiana. Akhirnya Morgiana si pemarah dan judes kembali juga ke sifat awalnya. Apa yang harus ku lakukan pada gadis manja itu? Sekarang dia mulai memasuki batas ketidak warasan yang ku sebut dengan cinta buta. Bicara dengannya atau pun membantunya tidak akan berguna. Karena semuanya hanya akan sia-sia saja.


...***...


Sementara itu di tempat berbeda Mama Riska duduk sambil menyenderkan kepala di sandaran ranjang besarnya. Mama terlihat kesakitan. Berkali-kali, dia bahkan meringis kesakitan. Netra teduhnya terus saja meneteskan air mata, entah sesakit apa kaki Mama sampai dia menangis dalam diamnya.


"Apa yang Mama lakukan sampai kondisi kaki Mama seburuk ini? Jika Mama butuh sesuatu dari gudang, seharusnya Mama meminta pelayan yang mengambilkannya. Untuk apa mereka di gaji jika mereka tidak berguna? Jika Papa tidak datang tepat waktu apa yang akan Mama lakukan?" Aku mulai mengoceh tanpa menghiraukan Papa yang sejak tadi memintaku untuk bersabar.


Bagaimana aku bisa bersabar setelah mengetahui Mama terjatuh dan kakinya terluka cukup parah. Aku mungkin anak pembangkang, tapi aku tidak akan pernah bisa bernafas dengan tenang jika Mama dan Papa sampai terluka.


Aku kesal, sangat kesal sampai tidak bisa menahan amarah ku.


"Araf, sudahlah, nak. Mama tidak apa-apa. Kau tidak perlu marah-marah lagi. Kebiasaan lama mu mulai kambuh lagi, Mama berharap Sabina tidak melihat sisi mu yang seperti ini. Mama khawatir dia akan marah kemudian mengabaikan mu!" Ucap Mama sambil menatap ku dengan tatapan kesedihan.


"Mama tidak perlu mengalihkan pembicaraan, aku sedang marah pada Mama. Jika hal seperti ini terjadi lagi aku tidak akan pernah datang menemui Mama." Oceh ku lagi, kali ini aku mulai meneteskan air mata.


Aku sangat takut. Mendengar Mama terluka jantung ku seolah berhenti berdetak. Sebenarnya aku tidak ingin bicara kasar di depan Mama, hal itu ku lakukan hanya untuk menyembunyikan kesedihan dan ketakutan ku. Bukankah aku sangat bodoh? Iya, itu memang benar. Aku benar-benar bodoh. Seharusnya aku memeluk Mama, menangis bersamanya dan menghapus air matanya. Bukannya melakukan itu, aku malah memberikan ancaman omong-kosong.


Araf... Ada apa dengan mu? Kau memikirkan lain dan kau melakukan lain. Gumam ku dalam hati sambil memperbaiki posisi kaki Mama yang masih terbalut perban.


...***...