Mr Love Love

Mr Love Love
Terlibat (Araf)



Kejadian di ruang tengah yang hampir membuat jantungku serasa copot akhirnya meninggalkan ketakutan luar biasa. Aku sangat takut sampai tidak bisa bernafas dengan tenang. Aku masih bisa merasakan betapa kepanikan itu sangat menakutkan, karena itulah aku sudah membuat keputusan.


"Honey... Apa kau percaya padaku?"


Aku menatap wajah cantik Sabina sambil memegang jemarinya dengan erat. Tidak ada balasan dari Sabina selain kedipan mata, mengisyaratkan kalau dia sangat-sangat mempercayaiku.


"Honey... Mulai besok, kau akan di jaga oleh seorang perawat. Karena mulai besok, aku akan sedikit sibuk, aku akan mengurus oprasi bayi kembar yang ada di rumah sakit. Semakin hari kondisi mereka semakin membaik. Dan jadwal untuk oprasi pun sudah di tentukan. Besok, seharian aku tidak akan bisa pulang. Apa aku bisa melakukan itu?"


Untuk sejenak, Sabina tampak ragu-ragu.


"Untuk apa bertanya? Jika aku mengatakan tidak, apa Mas Araf tidak akan pergi?" Sabina bertanya padaku, sementara tangan kanannya menangkup pipi kananku.


Kali ini giliranku yang ragu-ragu. Aku bahkan tidak bisa mengatakan 'Iya' atau 'Tidak' untuk pertanyaan singkat Sabina.


"Apa pun yang terjadi, aku akan selalu mendukung Mas Araf. Aku akan berdiri di belakang Mas Araf sebagai kekuatan, bukan kelemahan. Jadi, tidak perlu meminta izin dariku. Lakukan apa pun yang menurut Mas Araf benar. Aku mencintaimu." Ujar Sabina dengan senyuman mengembang di wajah cantiknya.


"Aku juga mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu." Balasku sambil mendekatkan diri di samping Sabina, kemudian mencium puncak kepalanya.


Aku berharap malam ini tidak akan berlalu dengan cepat. Berada di samping Sabina membuatku merasakan ketenangan luar biasa. Segala puji bagi Tuhan yang telah menciptakan wanita sebaik dirinya, aku bersyukur dan aku merasa bahagia.


...***...


Seperti ucapanku semalam, hari ini aku akan sibuk seharian. Setelah bangun tidur kemudian melaksanakan Shalat Subuh berjama'ah bersama Sabina, aku bergegas menuju ruang Gym ku yang terletak di samping ruang kerjaku. Berolahraga sebentar kemudian bersiap berangkat kerumah sakit.


"Kira-kira jam berapa oprasinya selesai?" Sabina bertanya sambil berjalan mendekatiku.


"Pagi ini ada rapat direksi. Setelah itu, Oprasinya akan di mulai pukul sepuluh." Ucapku sambil memakai dasi.


"Seharian ini, aku tidak akan menelpon."


"Iya."


"Aku akan merindukanmu."


"Iya."


"Aku tidak bisa makan tanpa kehadiran istri cantikku di dekatku."


"Iya." Ucap Sabina lagi.


Iya! Haya satu kata itu yang keluar dari lisan Sabina, sementara tangannya sibuk bergerak di leherku, ia memasangkan dasi yang belum sempat ku selesaikan.


"Apa yang harus ku lakukan jika aku merindukanmu?" Kali ini aku berucap sembari mengalungkan kedua lenganku di leher Sabina.


Untuk sesaat, Sabina mengangkat pandangannya, menatapku sambil tersenyum tipis.


"Katakan, apa yang harus ku lakukan jika aku merindukanmu?" Ucapku mengulangi pertanyaan yang sama.


Tanpa kuduga, Sabina mengusap dadaku dengan lembut. Menatapnya selalu saja membawa ketenangan untuk hatiku. Membuatku merasa hilang akal jika jauh darinya. Apa cinta sungguh segila ini?


"Aku ada disini." Ucap Sabina sembari mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di dada bidangku.


"Dan kau ada disini." Ucap Sabina lagi, kali ini ia mengetuk dadanya sendiri dengan jari telunjuknya. Mengabarkan padaku kalau kami akan selalu dekat walau kami terpisah oleh ruang dan waktu.


Sungguh, mendengar ucapan Sabina membuat risauku seolah menguap keangkasa. Sebelumnya aku risau ia akan terluka tanpa pengawasanku, tapi sekarang aku baik-baik saja.


"Terima kasih sudah mengatakan itu." Ucapku sambil berbisik dengan suara lembut, kali ini aku memeluk tubuh ramping Sabina dan menghirup aroma Mawar yang menguar dari tubuh rampingnya. Mendengar ucapan lembut Sabina dan mencium aroma lembut tubuh Sabina selalu saja mendatangkan ketenangan tersendiri untuk hatiku.


Dan bodohnya, aku termasuk salah satu pria bodoh itu. Setiap kali menatap wajah Sabina penyesalan selalu saja memenuhi rongga dadaku. Tak sedetikpun aku tidak menyesali masa laluku, masa terkelam dalam hidupku.


"Tatap mataku!" Ucap Sabina sembari mengangkat daguku.


"Aku tahu! Mas Araf merasa malu padaku lantaran masa lalu kelam itu, Mas Araf tidak akan berani menatap mataku. Jangan lakukan itu.


Aku menerima segalanya tentang dirimu, kekurangan dan kelebihanmu. Aku mencintaimu, dan akan selalu seperti itu." Ucap Sabina dengan suara lemah lembut. Kali ini sabina berjinjit, ia mencium bibirku, cukup lama ia berada dalam posisi itu sampai akhirnya ia kembali mengalungkan kedua lengannya.


"Ayo, aku akan mengantar Mas Araf sampai depan. Setelah itu aku akan pergi kerumah Mama di temani Mas Amri. Apa aku boleh melakukan itu?"


"Lakukan apa pun yang membuatmu bahagia. Aku berjanji akan menjadi suami yang pengertian dan tidak akan pernah membatasi ruang gerakmu." Jawabku sambil mengangguk pelan.


Tok.Tok.Tok.


Hmm!


Aku menghela nafas kasar mendengar ketukan pintu yang terasa sangat mengganggu, gangguan kecil ini membuat ingatanku tentang percakapan dengan Sabina dua jam yang lalu menghapus moment bahagia itu.


"Ada apa?" Aku bertanya sambil melipat berkas yang ku baca.


"Tuan, saya sudah mengantar Nona Sabina kerumah Nyonya Nani. Beliau berpesan Tuan tidak perlu khawatir. Sopir Nyonya Nani yang akan mengantarnya pulang sore ini." Ucap Amri melapor.


Tidak perlu khawatir?


Mendengar ucapan Amri, Asisten yang selalu menemaniku sejak tinggal di Malang dulu membuatku ketakutan. Semoga saja tidak ada masalah yang akan mendekati Sabina.


"Apa kau yakin istriku baik-baik saja dan aku tidak perlu khawatir Padanya?"


Tidak ada balasan dari Amri selain anggukan kepala, mengisyaratkan kalau ia tidak menyimpan rahasia apa pun. Sayang sekali, aku masih belum yakin padanya. Dia memang Asistenku, tapi tidak jarang dia juga berpihak dan menjadi mata-mata Mama ku.


"Apa kau yakin?"


"Iya, Tuan. Saya yakin." Balas Amri serius. Kepalanya tertunduk sempurnya.


Tok.Tok.Tok.


Fokus ku kembali teralihkan.


"Dokter, anda di tunggu di ruang rapat." Ucap seorang perawat sambil membungkuk begitu Amri membukakan pintu untuknya.


"Iya, baiklah. Aku akan datang." Balasku sambil mempersilahkannya untuk pergi.


"Amri, kau bisa kembali kerumah Mama mertuaku. Perasaanku tidak enak." Ucap ku sambil bangun dari posisi dudukku.


"Baik, Tuan." Balas Amri pasrah, padahal dia baru saja datang.


Sedetik kemudian aku mulai beranjak meninggalkan Amri dan berjalan menuju ruang rapat yang di katakan perawat itu. Netraku membulat sempurna, menatap kearah kamar pasien yang ku lewati. Entah apa yang di katakan pria berbadan tegap itu di balik daun pintu, ia terlihat marah, bahkan wanita yang ada di depannya terlihat menangis prustasi.


Adakalanya memilih untuk tidak terlibat dalam urusan orang lain itu akan menjadi pilihan terbaik, sayangnya aku tidak bisa menahan diri untuk tidak terlibat setelah melihat wanita muda itu menangis. Ku tebak mereka pasangan suami istri.


"Ada apa ini?" Aku bertanya sambil menatap tajam kearah pria yang terlihat marah.


Araf... Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau tidak perlu terlibat dalam urusan orang lain. Batinku sambil melangkah mendekati dua orang yang saat ini sedang cekcok.


...***...