
Air mata bahagia!
Saat ini, hanya itu yang bisa mewakili perasaan ku. Aku tidak pernah menyangka akan merasakan bahagia sebesar ini. Bahkan dinding-dinding rumah sakit menjadi saksinya kalau aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Apa semua pria merasakan hal yang sama? Maksudku merasakan bahagia luar biasa saat mereka mendengar kabar bahagia seperti kabar yang di sampaikan doktet Savira padaku?
Aku ingin berteriak. Aku ingin mengabarkan pada dunia kalau aku akan menjadi seoramg ayah. Untuk sejenak, bayangan wajah bahagia Mama dan Papa menuhi pikiranku. Entah seperti apa reaksi yang akan mereka tunjukan begitu mendengar cucu pertama mereka akan segera hadir di dunia? Aku penasaran, sangat penasaran sampai-sampai aku ingin memanggil semua orang.
Muach!
Aku mendaratkan kecupan singkat di puncak kepala Sabina. Menatap wajahnya dengan deraian air mata. Semua ini masih terasa bagai mimpi, entah kebaikan apa yang telah ku lakukan di masa lalu sampai Allah memberikan ku kebahagiaan sebesar ini? Semoga kebahagiaan ini bertahan dan takkan berkurang walau sekeras apa pun cobaan datang dimasa depan.
"Mas Araf ada disini?" Sabina bertanya sembari memijit kepala dengan ibu jarinya. Wajah cantiknya masih terlihat pucat.
"Mas Araf... Ada apa dengan ku? Kepala ku rasanya akan pecah. Jantung ku berdetak sangat cepat. Nafas ku tidak beraturan. Apa aku sakit karena aku tidak sarapan? Atau aku mendapat balasan karena semalam aku bersikap kasar padamu?"
Sabina bicara tanpa henti, ia bahkan meraih tanganku dan meletakkannya di wajah pucatnya. Sesekali, Sabina bahkan mencium punggung tanganku.
Sungguh, aku masih belum bisa berkata-kata. Bibirku terasa kelu. Di saat seperti ini air mata kembali mengekspresikan perasaan ku.
"Ada apa? Apa aku membuat Mas Araf kesal? Tolong maafkan aku, aku janji tidak akan melakukan hal yang akan membuat Mas Araf menangis lagi.
Hukum saja aku, tapi tolong jangan menangis seperti itu. Aku tidak suka melihat Mas Araf menangis. Aku merasa seolah aku istri yang gagal, gagal karena membuat mu meneteskan air mata berhargamu." Ujar Sabina pelan, kali ini ia menghapus air mataku dengan jemari lentiknya.
"Aku bahagia. Sangat bahagia sampai tidak bisa berkata-kata." Balas ku pelan, wajah tampan ku kembali mengukir senyuman.
"Bahagia? Kenapa?" Sabina bertanya dengan nada suara pelan. Ia masih terlalu lemah sampai tidak bisa bersikap manis seperti yang biasa dia lakukan.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku menduakan Mu?" Aku bertanya sembari menatap lekat netra teduh Sabina. Bukannya menjawab pertanyaan ku, dia malah menangis seperti bayi, sangat lucu sampai aku ingin mencubit pipinya dengan manja.
"Jika kau melakukan itu, aku akan marah padamu dan aku akan meninggalkanmu. Selamanya." Ucap Sabina menegaskan. Perlahan aku mulai menghapus mata basah Sabina dengan jemariku.
"Sebelumnya aku tidak pernah melakukan itu, tapi sekarang aku akan melakukannya." Ucapku menegaskan, sedetik kemudian wajah tampan ku mulai mengukir senyuman.
Sebelum Sabina membuka bibirnya dan mengatakan apa pun, aku langsung menyumpal bibir semanis madu itu dengan ciuman lembutku, memperdalam ciuman sampai kami bisa mendengarkan degupan jantung masing-masing, degupan yang semakin detik semakin kencang.
"Selamat Nyonya Araf, kau akan menjadi seorang Ibu." Ucapku setelah menghentikan aksi nakal ku, aku berbisik di telinga Sabina dengan suara cukup lembut.
Jujur, saat aku mengatakan itu air mata ku kembali terjun bebas. Aku sangat bahagia, kebahagiaan yang tidak bisa ku ungkapkan dengan sekedar kata-kata. Rasanya dunia berputar di bawah kakiku. Dan aku yakin semua orang pasti bisa memahami perasaanku saat ini. Aku merasa malu saat Sabina menatap wajah menangis ku, dan di saat seperti ini hanya satu hal yang bisa ku lakukan, menempelkan keningku di kening mulus wanita tercantik di dunia, Sabina Wijaya.
"A-apa aku tidak salah dengar? Apa kita benar-benar akan menjadi orang tua sungguhan?" Sabina menangkup wajah ku, sementara bibirnya tak berhenti mengukir senyuman menawan.
"Iya, tentu saja." Balas ku singkat.
Aku tersanjung, tanpa berpikir panjang Sabina mendaratkan kecupan hangatnya di puncak kepala ku.
"Apa aku boleh jujur?"
"Katakan!" Jawabku sembari mencubit hidung bangir Sabina.
"Sejujurnya aku masih marah pada Mas Araf, membayangkan bagaimana Morgiana memeluk dan mencium mu, membuat ku kesal.
Dag.Dig.Dug.
Dadaku berdebar sangat kencang, seolah jantung ku akan loncat keluar. Mendengar Sabina berkata jujur membuat ku merasakan kesedihan mendalam.
Ucapan maaf dan ucapan cinta yang Sabina tuliskan di catatan singkatnya ternyata hanya sebuah alasan agar tidak melihat wajah ku. Walau aku sedih mengetahui kenyataan itu namun aku lebih menyukai saat Sabina berterus terang di depan ku. Dengan begitu aku tahu apa yang harus ku perbaiki dan apa yang harus ku pertahankan dalam hubungan ini, hubungan yang di penuhi cinta.
"Mulai saat ini, kita akan memulai segalanya dari awal. Aku tidak bisa berjanji untuk tidak marah dalam menjalani hubungan ini, tapi aku bisa janji akan selalu berusaha menjaga hatiku hanya untuk mu." Celoteh Sabina diantara senyapnya udara.
"Terima kasih. Itu sudah cukup untuk ku." Balas ku sambil memejamkan mata, sedetik kemudian aku mulai menangkup wajah cantik Sabina, tetesan bening itu kembali mendarat di pipi mulusnya.
Aku tahu Sabina menangis bukan karena sedih, karena itu aku hanya bisa tersenyum tipis untuk mengekspresikan betapa besar perasaan cintaku padanya.
Tok.Tok.Tok.
Suara ketukan yang bersumber dari daun pintu kamar Sabina membuat ku tersadar kalau kami tidak menyadari waktu begitu cepat berlalu.
"Masuk!"
"Selamat siang dokter Araf. Sekarang waktunya Nyonya untuk makan siang. Saya akan menyuapi beliau."
"Tidak perlu, aku yang akan menyuapi istri ku. Kau bisa pergi."
"Tapi dokter..."
"Ckckck." Aku menatap suster muda itu dengan tatapan tajam, seolah tatapanku akan menjungkir balikkan dunianya. Sabina yang melihat tingkah konyolku hanya bisa tersenyum sambil mengelus dada.
"Haha! Mas Araf tidak perlu menakutinya seperti itu, bagaimana kalau dia mulai menyebarkan gosip kalau Direktur rumah sakit ini sangat judes."
"Dia tidak akan berani!" Ucap ku menegaskan.
"Buka mulut mu." Sambung ku lagi seraya menyodorkan sendok yang di penuhi makanan.
"Kenapa tidak berani? Jika itu aku, aku pasti akan melakukannya untuk membalas perlakuan direktur rumah sakit yang sok keren dan sok ganteng." Ucap Sabina lagi.
Bukannya membuka mulutnya dan menerima makanan yang sudah ku sodorkan, Sabina malah mengocehkan hal yang tidak seharusnya dia terlibat di dalamnya, karena memang dia tidak akan pernah terlibat, sampai kapan pun.
"Jika wanita itu berani melakukannya maka aku akan memotong gajinya. Tapi jika kau yang berani melakukannya maka aku akan menghukum mu dengan hukuman termanis." Ujar ku serius.
"Bagaimana kau akan menghukum ku? aku mau lihat!"
Hhhmm!
Aku mendengus sambil menyebikkan bibir, bukannya takut, Sabina malah tertawa lepas seolah beban di pundaknya telah menguap keangkasa. Sungguh, bagian dari Sabina yang seperti inilah yang sangat-sangat ku rindukan. Jika ini mimpi, maka aku tidak mau bangun dari tidur lelap ku, dan untungnya ini bukan mimpi karena bahagia ini terasa sangat nyata.
...***...