
"Aku sangat mencintai istriku, sekuat apa pun usahamu untuk mengganggu hubungan kami, aku tidak akan pernah berbalik kebelakang." Ucapku sambil menatap tajam pada Morgiana yang sejak tadi menantangku.
"A-apa maksudmu? Apa Sabina menjelek-jelekanku? Aku sudah duga itu." Morgiana mencoba membela diri, sayangnya aku sudah terlanjur membenci setiap gerak-geriknya.
"Reem, jangan berpura-pura manis di depanku. Tidak ada yang mengenalmu di tempat ini melebihi diriku.
Apa kau tahu? Saat ini aku sangat marah, rasanya aku ingin mematahkan tangan yang telah berani menghancurkan Poto pernikahanku. Demi hubunganmu dengan Sabina, aku memaafkanmu untuk terakhir kalinya. Tapi ingat, jangan pernah tunjukan wajahmu di depanku." Aku menunjuk Morgiana, menatapnya dengan tatapan setajam belati.
"Apa masalahmu, kenapa kau jadi seperti ini? Bukankah dulu kau sangat mencintaiku? Hidup bersama Sabina membuatmu hilang akal."
Darahku terasa mendidih, aku mengangkat tanganku hendak menampar Morgiana, berani sekali dia berkata seperti itu. Aku datang untuk mempringatkannya dan dia berani menghina Sabina? Ini benar-benar tidak bisa di biarkan.
"Dengarkan aku! Aku bukan lagi Laurent berhati lemah lembut yang kau kenal dulu, aku hidup untuk istriku dan akan selamanya seperti itu. Aku mempringatkanmu, pergi dari sini jika kau tidak ingin aku menyakitimu!" Ocehku sambil mencengkram leher Morgiana.
"Hanya aku yang berhak padamu! Tidak Sabina, dan tidak juga wanita lain. Jika kau mengabaikanku, lihat apa yang bisa ku lakukan untuk menyakiti Sabina. Aku muak dengan semuanya. Dan aku tidak akan berpura-pura lagi."
Dadaku seolah bergemuruh, mendengar ucapan Morgiana membuat amarah memenuhi setiap pori-pori tubuhku.
"Aku sudah mempringatkanmu, jadi jangan salahkan aku jika suatu hari nanti kau akan terluka karena ulahmu sendiri." Ucapku menegaskan.
"Lepaskan. Uhuk. Uhuk. Lepaskan."
Cengkramanku semakin kuat di leher jenjang Morgiana, jika saja aku tidak mengingat Sabina maka aku akan mengakhiri segalanya di tempat ini.
Huhhh!
Aku membuang nafas kasar sambil melepaskan cengkramanku di leher jenjang Morgiana. Lehernya terlihat memerah.
Uhuk.Uhuk.Uhuk.
Morgiana kembali terbatuk. Jujur, sedikitpun aku tidak merasakan kasihan padanya. Cinta yang dulu kedalamannya melebihi lautan kini tak lebih dari sekedar cerita lama yang tak berarti.
Setelah aku kembali tenang, kini aku kembali duduk di kursi yang terbuat dari jati. Aku menatap Morgiana dengan tatapan kasihan. Kasihan karena dia tersesat terlalu jauh, tersesat karena perasaannya sendiri.
"Reem... Kita ibarat catatan kecil dari semesta yang pernah tertulis di ujung senja. Sekarang catatan itu telah usang dan berdebu, tertinggal di ujung lorong.
Mungkin bagimu kisah lama itu masih wangi layaknya bunga di taman terbuka. Namun bagiku?" Aku terdiam sambil menatap wajah putus asa Morgiana.
"Bagiku, aku tidak ingin mengenang masa itu. Masa dimana aku bergelud dengan semua kebodohan. Aku menasihatimu sebagai orang yang dulu pernah menghormatimu, lupakan aku. Lupakan masa lalu, hiduplah dengan cara yang baik, dengan cara tidak menyakiti orang lain." Celotehku sambil beranjak bangun dari kursi yang ku duduki sejak lima belas menit yang lalu.
Ku tatap wajah Morgiana untuk terakhir kalinya, wajah itu tetap cantik seperti biasa, cantik seperti saat pertama kali aku melihatnya. Ada setitik kesedihan di dalam hatiku untuknya, namun rasa kesalku karena dia berani mengganggu Sabina jauh lebih besar dari apa pun juga.
...***...
Waktu telah menunjukan pukul 19.30.
Seperti rencana sebelumnya, keinginan Mama Riska dan Mama Nani yang ngotot ingin mengadakan pesta. Selesai magrib, beberapa tamu undangan terus saja berdatangan, di mulai dari rekan kerja Mas Araf di rumah sakit, sahabat-sahabatku di kampus, dan beberapa Dosen yang memang dekat denganku pun ikut di undang sehingga kediaman yang ku huni bersama Mas Araf tampak ramai.
"Assalamu'alaikum, Bii."
Mas Ikmal menyapaku sambil menyodorkan kotak kado yang sudah ia bungkus rapi. Wajah tampannya memamerkan senyuman, senyuman menawan.
"Wa'alaikumsalam, Mas. Mas Ikmal apa kabar? Terima kasih sudah datang." Balasku sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Kau terlihat cantik, dimana suamimu?"
"Terima kasih untuk sanjungannya. Dan satu lagi, Mas Araf masih di kamar. Beliau sedang menerima panggilan penting dari rumah sakit. Sebentar lagi beliau pasti turun."
"Selamat untuk kehamilan mu. Sebelum kau bertanya dari mana aku mengetahui segalanya, maka jawabannya sama seperti yang kau pikirkan. Dari Kak Fatimah." Ucap Mas Ikmal menjelaskan.
"Tanpa Mas Ikmal mengatakan apa pun, aku juga sudah tahu itu. Aku bangga pada hubungan Mas Ikmal dan Kak Fatimah. Kalian bukan saudara kandung tapi kalian saling menyayangi melebihi saudara kandung manapun yang kuketahui." Sanjung ku tanpa melepas tatapanku dari wajah tampan Mas Ikmal. Di Kampus dia Profesor yang tegas, tapi di luar Kampus kami bagai saudara yang saling mendukung, jika aku tidak bertemu dengan Mas Araf lebih dulu, mungkin Mas Ikmal adalah pilihan terbaik yang bisa ku pilih sebagai pendamping, itu memang kebenaran yang pahit.
"Apa kau sudah bertemu Mas Alan? Tadi aku melihatnya bersama Fazila."
"Benarkah? Fazila juga ikut? Wahh, ini benar-benar berita besar, aku sangat merindukan keponakan cantikku." Ucapku sambil tersenyum lebar.
"Nikmati pestanya, aku akan meninggalkan Mas Ikmal. Aku ingin menemui Kakak Ipar Fatimah di lantai atas. Aku yakin Fatih pasti masih Rewel." Ucapku berpamitan.
Tidak ada bantahan dari Mas Ikmal selain anggukan kepala pelan. Sedetik kemudian, aku mulai meninggalkan keramaian dan berjalan pelan menuju kamar tamu yang terletak di lantai atas.
"Sayangnya Ummi masih lapar yaa? Maafkan Ummi karena mengajakmu keluar malam-malam. Saat ini kita ada di rumah Tante Cantik dan Om ganteng."
Aku tersenyum sambil menatap kak Fatimah yang saat ini bicara dengan Baby Fatih. Refleks, aku mengusap perut rataku, aku berharap bisa menjadi ibu yang baik seperti Kak Fatimah.
Kak Fatimah adalah contoh terbaik bagi setiap wanita yang ingin mendidik buah hatinya menjadi generasi sehebat Fazila.
"Kakak."
"Hay, Bii."
"Kapan kau datang? Kenapa hanya berdiri disana? Kemari!" Ucap Kak Fatimah sambil merentangkan tangan kanannya.
"Seharusnya Bintang kita tetap berada di bawah, tapi terima kasih karena kau datang menemui Kakak. Itu Artinya Kakak sangat berharga untukmu." Ucap Kak Fatimah dengan senyuman mengembang di wajah cantiknya. Dia memelukku, menepuk pundakku pelan.
"Kakak selalu berharga, bagiku Kakak seperti Mentari yang selalu menghangatkan. Terima kasih, berkat dukungan Kakak aku bisa merasakan kebahagiaan sebesar ini." Ucapku sambil berbisik di telinga Kak Fatimah.
"Tidak perlu berterima kasih, jika kau bahagia Kakak juga bahagia." Ucap Kak Fatimah lagi.
"Sabina. Hay... Semua orang menunggumu, kenapa kau ada disini? Kakak, apa aku bisa membawanya? Aku yakin semua orang akan marah jika Bintang malam ini tidak ada di tengah-tengah tamu undangan." Ucap seseorang yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.
"Morgiana, kau? Iya, aku juga mengatakan hal yang sama. Kalian bisa pergi." Ucap kak Fatimah sambil meraih lengan Morgiana.
Setelah mendapat Izin untuk pergi dari Kak Fatimah, aku berjalan beriringan dengan Morgiana
"Kau sangat cantik. Pantas saja Laurent kekeh mempertahankan wanita sepertimu."
Glekkkk!
Aku menelan saliva.
Wanita seperti ku? Ucapan Morgiana benar-benar terdengar kasar di telingaku. Sayangnya tidak ada hal yang bisa ku lakukan selain tersenyum, senyum yang coba ku paksakan walau sebenarnya aku ingin menjambak rambut sepupu tidak tahu maluku.
"Kau juga! Kau wanita yang kasar, pantas saja Mas Araf kekeh ingin melupakan dan meninggalkan wanita seburuk dirimu." Balasku tak kalah sadis.
Dalam hati aku tertawa lepas, menertawai Morgiana yang mencoba memancing amarahku. Dan buruknya, dia sendiri yang terbakar dalam amarah yang ia buat sendiri.
Aaaaaa!
Aku berteriak dengan suara tinggi, aku bisa lihat kini semua mata menatapku dengan tatapan takut.
"Sabina...."
Mas Araf berteriak kearah tangga, wajahnya terlihat pucat.
...***...