Mr Love Love

Mr Love Love
Mengurai Masa Lalu (Part2)



Mengurai Masa Lalu!


Aku rasa itu judul yang tepat jika saat ini aku ditanya apa yang sedang ku lakukan. Aku berusaha berhati-hati agar setiap hurup yang akan ku rangkai menjadi kata-kata tidak akan melukai hati Sabina. Namun tetap saja, sebaik apa pun aku mencoba hal yang buruk akan tetap saja meninggalkan luka.


Aku berusaha menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya kasar dari bibir, berharap setelah ini keberanianku akan terkumpul sempurna.


"Kak Aleta jatuh cinta pada pria biasa, cinta mereka terjalin bukan sehari atau dua hari saja. Cinta mereka sangat dalam sampai bisa mengorbankan nyawa satu dan lainnya. Papa menolak pria itu dengan alasan dia bukan pria yang baik.


Malam itu untuk pertama kalinya aku melihat kak Aleta marah. Dia meninggalkan rumah dalam keadaan sedih.


Sementara Mama? Mama hanya bisa menangis melihat kak Aleta menderita. Mungkin Mama berpikir putri kalemnya berubah dalam hitungan detik dan hal itu mempengaruhi jiwanya." Ucapan ku tertahan di tenggorokan. Aku berusaha mengatur nafas yang mulai terasa berat.


Sabina semakin menautkan jemari lentiknya di jemariku, sesekali menepuk lenganku, berusaha menenangkan.


"Mas Araf menangis lagi? Aku minta maaf. Jika itu terasa berat sudahi sampai di sini." Ujar Sabina karena tetesan air mataku mendarat di wajah cantiknya.


"Tidak apa-apa. Walau sakit aku janji akan menahannya. Kau berada di sisiku malam ini saja sudah memberikan kekuatan terbesar dalam hidupku."


"Baiklah. Lakukan apa pun yang Mas Araf inginkan, jika terasa berat berjanjilah kau akan berhenti."


"Iya, akan ku lakukan. Aku akan berhenti jika aku tidak bisa menahannya!" Ujarku sambil menatap netra teduh Sabina. Tanpa ku minta Sabina langsung menghapus sudut mataku dengan jemari lentiknya.


"Tidak ada air mata, dan tidak perlu sedih lagi. Mas Araf paham?"


Aku mengangguk sambil mencubit hidung bangir Sabina, dia terlihat semakin cantik sejak dia memutuskan menutup Auratnya, aku rasa keponakan kecilnya Meyda Noviana Fazila sudah memberi warna baru dalam kehidupan Sabinaku, dan aku bersyukur untuk itu.


"Kak Aleta pergi meninggalkan rumah dengan mata bengkaknya. Aku masih ingat, malam itu kak Aleta memintaku menjaga Mama dan Papa, dua jam setelah ia meninggalkan rumah empat pria memakai baju medis datang kerumah kami sambil membawa jenazah kak Aleta, salah satu dari pria itu mengatakan mobil Kak Aleta mengalami kecelakaan dan membentur pembatas jalan. Kekasihnya meninggal di tempat kejadian, dan Kak Aleta meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit dengan luka serius di kepalanya.


Mama histeris. Bahkan setelah dua bulan kepergian kak Aleta Mama masih terlihat seperti mayat hidup. Aku menyalahkan kepergian kak Aleta karena tingkah egois Papa, aku bahkan sampai berani bicara kasar pada Papa. Seperti orang tua lain pada umumnya, Papa menamparku, aku tersungkur dan sudut bibirku berdarah."


Aku kembali meneskan air mata mengingat kondisi Mama saat itu.


"Aku pikir menjadi putra penurut tidak akan berguna, saat itu aku berubah menjadi putra pembangkang dan pemarah. Karena Papa melarang kak Aleta berkencan dengan orang yang dia cintai, maka saat itu aku bersumpah akan mengencani wanita manapun sebagai bentuk protes dan kekesalanku pada Papa."


Hhhmmm!


Sabina menghela nafas kasar, sontak hal itu membuat ku beralih menatapnya dengan tatapan penasaran.


"Kenapa kau menghela nafas? Apa ucapanku membuat mu kesal?"


"Iya, aku kesal!" Balas Sabina ketus.


"Bukankah aku sudah bilang kau akan kesal, apa kita sudahi saja pembicaraan tidak berguna ini?" Aku bertanya sambil memegang dagu Sabina. Di luar dugaan ku, Sabina malah menggelengkan kepala, pertanda dia tidak setuju.


"Aku kesal pada Papa mertua, gara-gara dia Araf ku berubah menjadi pria pemarah, pembangkang dan seorang playboy. Lihat saja nanti, aku pasti akan membalasnya!" Ucap Sabina dengan suara geram. Wajahnya terlihat kesal.


Jujur, mendengar ucapan Sabina membuat ku merinding. Aku tidak pernah menyangka ucapan yang di penuhi amarah akan keluar dari bibir tipisnya.


"A-apa? Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Bagaimana kau bisa membalas Papa? Bukankah kau bilang kau sangat menyayangi dan menyukai Mama dan Papa?" Aku bertanya sambil mengangkat kepala Sabina dari pangkuanku, membantunya untuk duduk.


"Sekarang katakan, bagaimana kau akan membalas Papa?" Aku kembali bertanya karena penasaran.


"Aku akan menaruh garam di dalam tehnya!"


"Apa? Garam!" Mataku membulat tak percaya, rasanya aku ingin tertawa lepas.


"Kapan kau akan melakukan itu?"


"Apa? Malam ini? Kita ada disini sementara Papa ada di rumahnya, bagaimana kau akan melakukannya?"


"Mimpi! Aku akan melakukannya dalam mimpiku." Celetuk Sabina sambil mengepalkan kedua tangannya.


Hahaha!


Bukannya marah, aku malah terkekeh mendengar ucapan manis Sabina. Entah bagaimana bisa dia membuat lelucon aneh seperti itu. Malam ku terasa berwarna mendengar ucapan singkatnya. Aku semakin mengaguminya, mencintainya, dan juga menghormatinya.


Apakah ini yang dinamakan Surga cinta? Aku bertanya-tanya di dalam hati, pertanyaan yang tidak akan mendapat jawaban.


Sungguh aneh perasaan cinta ini, hanya dalam hitungan detik saja aku menyadari aku di penuhi cinta, cinta yang semakin tumbuh, tumbuh dan terus tumbuh.


"Kau tahu kau sangat, sangat, sangat menggemaskan!" Aku kembali mencubit hidung bangir Sabina tanpa melepas senyuman dari bibir tipisku.


"Iiiihh! Mas Araf nakal!" Sabina berusaha melepaskan tanganku dari hidung bangirnya.


"Terima kasih sudah memilihku menjadi bagian dalam hidupmu! Hanya dengan menatap wajahmu ketenangan mulai memenuhi rongga dadaku. Tanpa ragu ku katakan aku sangat mencintaimu!" Aku menangkup wajah Sabina dengan kedua tanganku, melayangkan kecupan di puncak kepalanya. Cukup lama aku berada dalam posisi itu sampai aku bisa merasakan darahku mengalir sepuluh kali lebih cepat.


Sedetik kemudian Sabina mulai menyandarkan kepalanya di pundakku.


"Apa aku boleh bertanya?" Sabina kembali membuka suara di antara senyapnya udara.


"Tanyakan apa pun yang kau inginkan, aku akan menjawab pertanyaanmu tanpa ada kebohongan." Balas ku singkat, aku semakin mengeratkan pelukanku di tubuh ramping Sabina, sementara kakinya yang terkilir ku letakkan di atas meja.


"Mas Araf bilang Mas Araf mengencani banyak wanita, bagaimana cara Mas Araf memutuskan hubungan dengan gadis-gadis itu?"


Aku ingin mengusap dada mendengar pertanyaan Sabina, rasanya aku tidak ingin mengungkapkan keburukanku di depannya. Dengan berat hati aku mulai mengungkapkan segalanya.


"Aku mencampakkan gadis itu dengan cara mengencani gadis lain di depannya, bermesraan di depannya sambil berpura-pura tidak melihatnya!"


Hhmmmm!


Sabina kembali menghela nafas kasar, dan inilah alasannya aku tidak ingin bicara. Bagiku masa lalu hanya masa lalu dan aku tidak ingin berbalik kebelakang. Aku tahu mengenang masa lalu adalah hal bodoh dan sia-sia saja.


"Jika aku bertanya berapa jumlah gadis yang Mas Araf kencani, aku yakin Mas Araf tidak akan ingat berapa banyak jumlahnya. Pertanyaan terakhir, apa di antara semua gadis itu ada yang berhasil mencuri ketenangan setiap malam mu? Apa ada di antara mereka yang berhasil membuatmu sedih saat jauh darinya?" Sabina bertanya dengan suara berat. Kali ini netra kami saling beradu.


Sabina sedang menanti jawaban. Sementara aku? Aku tidak ingin mengatakan apa pun. Aku terdiam. Aku tidak berani menatap Sabina terlalu lama, aku beranjak dari sofa kemudian berdiri di dekat meja.


"Katakan, Mas Araf! Aku menanti jawabanmu!" Celoteh Sabina tak Sabar.


"A-ada. Sa-tu!" Ucap ku gugup.


"Ceritakan tentang dirinya! Aku ingin mendengarnya. Dari gelagat Mas Araf aku yakin dia pasti gadis luar biasa! Walau aku tidak pernah melihat atau mengenalnya aku sangat cemburu padanya." Ucap Sabina dengan suara berat.


"Aku sangat membenci Papa, kebencianku padanya tidak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata. Setiap hari aku semakin rusuh, bertengkar, balapan liar, mempermainkan wanita. Bahkan aku sampai membakar mobil kepala sekolah.


Papa sangat marah, tanpa seizin ku Papa memasukkan ku di kampus kedokteran. Tentu saja aku berontak, walau aku marah aku bertahan setahun. Tapi, setelah itu tanpa seizin Papa aku mendaftarkan diri di kampus University Of Oxford. Mama menolak keinginan ku, aku memutuskan untuk tetap pergi karena aku sudah muak dengan semua hal yang ku temui." Aku berhenti sejenak, menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kasar dari bibir.


Sabina masih diam, aku yakin dia masih mendengarkan ku. Karena penasaran aku menoleh kearahnya, dan benar saja dia duduk sambil menatap punggungku.


"Apa kau yakin masih ingin mendengar kisah ku? Aku yakin setelah ini kau pasti akan membenciku, aku tidak ingin melihat Sabina ku murung." Aku berusaha meyakinkan Sabina, mendekatinya, duduk disampingnya kemudian menggenggam jemari lentiknya, menatapnya dengan penuh cinta. Berharap dia akan bilang 'cukup sampai di sini' nyatanya itu hanya hayalanku saja.


...***...