
"Honey, apa kau sudah tidur?" Aku bertanya sambil mengelus lembut puncak kepala Sabina.
Malam ini aku merasakan ketenangan luar biasa, ketenangan yang tidak pernah ku rasakan sebelumnya. Semoga saja kedamaian malam ini akan selalu meliputi kehidupan ku dan istri cantik ku Sabina Wijaya.
"Tidak. Aku tidak mengantuk." Balas Sabina sambil menghela nafas kasar.
Dari helaan nafas kasarnya aku bisa mengambil kesimpulan kalau hatinya sedang tidak baik-baik saja. Aku bisa merasakan kesedihan mendalam dari setiap huruf yang sudah ia rangkai menjadi kata-kata. Entah apa yang membuat hatinya merasakan duka sedalam itu. Bukankah aku sangat bodoh? Iya aku sangat bodoh, sejak tadi aku melihat Sabina tersenyum namun aku tidak menyadari kalau hatinya sedang menyembunyikan luka.
"Apa ada masalah? Katakan padaku?"
Aku bertanya dengan nada suara pelan, aku hanya bisa berharap semoga Sabina terbuka dan tidak ragu-ragu untuk mengungkapkan apa yang dia pikirkan.
"Hmm! Masalah? Ada masalah!" Ucap Sabina tanpa melepaskan pandangannya dari netra teduh ku.
"Masalah apa? Apa kau terluka?" Aku bangun kemudian duduk menghadap Sabina. Wajah cantiknya kini menunjukan kesedihan mendalam.
"Mas Araf ingat kan tadi siang aku memasuki kantor mu dengan sepupuku?"
"Iya. Aku ingat. Ada apa dengannya?
"Sebenarnya..."
"Tunggu sebentar. Apa kalian bertengkar?" Ucap ku menyela ucapan Sabina. Sabina yang mendengar pertanyaan ku langsung bangun dan duduk sambil merunduk.
"Iya, kami bertengkar. Aku bicara ketus padanya dan dia sangat marah padaku."
"Kalian baru bertemu setelah sekian tahun, masalah apa yang membuat kalian bertengkar dan tidak saling bicara? Apa dia sungguh seburuk itu? Aku yakin Honey ku ini tidak akan memulai pertengkaran, apa aku benar?"
Lagi-lagi aku hanya bisa mendengar helaan nafas kasar Sabina. Apa aku bersalah karena bertanya padanya? Sekarang aku malah menyesali tindakan bodoh ku. Jangan sampai gara-gara hal ini Sabina bersikap dingin padaku.
"Aku marah padanya. Aku juga kesal padanya. Dia memintaku membantunya menemukan mantan kekasihnya. Kemana aku harus mencarinya?
Sumbawa? Lombok? Bali? Surabaya? Bekasi? Bandung? Malang? Atau Sulawesi? Aku bahkan tidak bisa menyebut nama semua daerah di Indonesia lalu bagaimana cara ku bisa membantunya menemukan orang asing yang bahkan tidak pernah ku lihat batang hidungnya." Ucap Sabina panjang kali lebar, aku bisa melihat aura kekesalan dari raut wajah yang ia tunjukan.
Aku hanya ingin menenangkan hati dan pikiran Sabina, tidak ada yang bisa ku lakukan selain menariknya kembali ke dalam pelukan ku.
"Hari ini gadis aneh itu bahkan rela turun dari taksi dan berjalan di bawah derasnya guyuran hujan. Dia bilang dia melihat pria itu dan berusaha mengejarnya. Jika tante Begum tahu kelakuan putrinya, dia pasti akan marah besar."
"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Aku yakin sepupumu tidak akan tinggal diam, dia pasti memberitahukan Mama mertua."
"Dia tidak akan berani melakukan itu. Jika Mama tahu tujuannya datang liburan ke Indonesia hanya untuk mencari seorang pria, tanpa berpikir panjang Mama pasti akan mengirimnya kembali ke Kanada."
"Baiklah, akan ku pikirkan!" Balas Sabina pelan. Kali ini ia kembali berbaring, dan mengganjal kepalanya dengan bantal kecil.
Pukk! Pukk!
Sabina menepuk tempat tidur si sisi kirinya, memberikan isyarat agar aku juga kembali berbaring di sampingnya.
"Tadi Mama telpon, beliau bilang akan mengadakan pesta sambutan untuk Morgiana. Gadis itu sudah sepekan berada di rumah kami, karena kesibukan menyambut Baby-nya kak Fatimah dan kak Alan kami jadi melupakannya.
Apa besok Mas Araf sibuk? Jika tidak, apa besok kita bisa kerumah Mama sepulang ku dari kampus? Aku harus membantu beliau menyiapkan semua yang di butuhkan. Walau aku kesal pada Morgiana, setidaknya aku bisa melakukan ini untuk menghormatinya. Toh dia akan tinggal disini untuk beberapa hari saja."
"Aku akan mengantar mu, maaf aku tidak bisa menemanimu. Besok ada pertemuan penting dengan dokter senior. Jika aku tidak datang, itu akan buruk bagi kelangsungan rumah sakit kami. Rumah sakit itu didirikan oleh Mama dan Papa dengan dedikasi tinggi. Walau aku masih marah pada Papa, aku tidak akan mengabaikan tugas yang sudah di percayakan padaku." Ucapku sambil menatap netra teduh Sabina, kami saling menatap. Sesekali aku bahkan mencium punggung tangan Sabina penuh cinta.
Betapa indahnya hubungan ini, setiap guyonan dan juga sentuhan bernilai ibadah. Hubungan yang awalnya haram berubah menjadi halal setelah kami di ikat dengan ikatan yang kuat, ikatan yang di sebut sebagai pasangan suami istri. Kami sah atas izin Allah, dan aku berhak melakukan apa pun pada istri cantik nan menggemaskan ku Sabina Wijaya, sebagai pria normal yang tinggal dalam satu kamar aku menginginkan sentuhan melebihi sekedar pegangan tangan, aku tidak bisa mengendalikan hawa nafsu ku.
Perlahan aku semakin mendekatkan diri pada Sabina, menangkup wajah cantiknya dengan jemariku kemudian meraih bibir selembut kapas miliknya. Menciumnya perlahan namun penuh dengan gairah, tidak ada perlawanan dari Sabina karena dia tahu seorang istri harus meladeni suaminya. Tanganku mulai bergerak menuju kancing gamisnya.
Glekkkk!
Aku langsung menelan salipa mengetahui Sabina menahan tangan ku untuk tidak melakukan hal lebih jauh lagi. Apa aku kecewa? Jawabannya tentu saja. Karena setiap pasangan menikah pasti ingin menghabiskan malam indah dengan pasangan halalnya.
"Aku tidak akan mencegah Mas Araf melakukannya, karena ini hak mu. Tapi sekarang tidak bisa karena aku sedang datang bulan." Ucap Sabina sambil tersenyum kecil.
"Astagfirullah hal adzim!" Ucapku spontan sambil menatap wajah tersenyum Sabina. Aku kembali mendaratkan kecupan singkat di bibir lembutnya kemudian menempalkan keningku di kening mulusnya.
"Aku tidak tahu itu! Terima kasih sudah mengingatkan ku!" Ucapku lagi, aku kembali memeluk Sabina dan menenggelamkan kepalanya di dada bidangku. Kami sama-sama terdiam, larut dalam perasaan masing-masing.
...***...
"Apa kau masih marah padaku? Maaf!" Morgiana duduk di depan ku sambil menjewer kedua telinganya. Aku tahu dia sedang berpura-pura.
Apa aku biarkan saja dia? Sayangnya aku tidak sekejam itu. Dia sepupu ku dan dia berhak mendapatkan maaf ku. Aku tersenyum tipis sambil menurunkan kedua tangan Morgiana dari telinganya.
"Iya, aku memaafkan mu. Aku juga minta maaf karena bicara kasar. Kau bisa menelpon nomor ini, dia bisa membantu mu dengan mudah. Aku mendapatkan kartu nama ini dari suamiku." Ujar ku sambil menatap wajah bahagia Morgiana.
Haruskah aku mendoakannya agar bertemu dengan mantan kekasihnya itu? Entahlah, aku sendiri tidak tahu itu. Nurani ku mengatakan semua ini salah. Walau demikian aku tetap berharap semoga semuanya baik-baik saja.
Sabina, sepupu mu tidak waras. Jangan sampai ketidak warasannya menularimu. Celoteh ku dalam hati sambil beranjak pergi dari depan Morgiana dan berjalan mendekati Mama yang saat ini memberikan instruksi pada orang yang ia tugaskan mengatur dekorasi rumah kami.
...***...