
"Mam... Dimana Oma dan Opa? Kenapa mereka tidak terlihat dimana pun?" Apa mereka baik-baik saja?" Aku bertanya sambil memeluk tubuh Mama dari belakang.
"Oma dan Opa mu ada di kamar. Tadi pagi Opa tiba-tiba pingsan, dokter bilang tekanan darahnya naik. Untunglah, saat itu terjadi Oma sedang bersama Opa, jika tidak, hal buruk pasti akan terjadi."
Aku terdiam, mencium aroma tubuh Mama selalu saja menenangkan. Ternyata benar, jika dunia tidak lagi bersahabat maka pelukan seorang Ibu adalah obat terbaik sebagai penghilang resah dan gelisah.
"Ada apa? Kenapa kau datang sendiri? Dimana suamimu?" Mama bertanya sambil menepuk pelan tangan ku yang masih melingkar di tubuh beliau yang semakin hari semakin menua.
"Tadi Mas Araf mengantar Sabina sampai pintu depan. Beliau titip salam untuk Mama dan Papa, Mas Araf tidak bisa mampir karena di rumah sakit ada rapat darurat. Mas Araf janji akan segera datang setelah pekerjaannya selesai."
"Bagaimana rumah tanggamu dengan Araf? Apa semuanya berjalan lancar? Mama berharap kalian selalu bahagia dan di jauhkan dari mata jahat." Kali ini Mama mencium punggung tanganku. Aku sangat dekat dengannya, dan aku selalu menempel pada Mama setiap kali ada kesempatan.
Hal yang paling ku rindukan dari Mama setelah menikah adalah, beliau masuk kekamarku, memperbaiki selimut ku. Dan terakhir, beliau mencium kening ku kemudian mengucapkan 'Selamat malam Bidadari cantik Mama' Bukankah Mama ku sangat manis? Aku tahu itu walau orang lain tidak sependapat dengan ku.
"Iya, Mam. Semuanya baik-baik saja. Mas Araf selalu bersikap baik padaku. Terima kasih sudah menyatukan ku dengannya. Sabina janji. Sabina akan berusaha menjadi istri setegar dan sebaik Mama." Oceh ku lagi, aku tersenyum sambil menatap wajah bahagia Mama.
"Kakak mu dan istrinya tidak bisa datang dalam acara spesial Morgiana. Dia juga sedang sibuk mempersiapkan acara syukuran pemberian nama adik Fazila.
Sungguh, Mama benar-benar bahagia melihat kalian menemukan pendamping yang bisa mencintai kalian dengan sepenuh hatinya." Ujar Mama lagi, kali ini sambil membelai lembut wajahku. Jemarinya terasa hangat, netra beliau berkaca-kaca. Seolah tatapannya menjelaskan bahwa bahagia ku adalah bahagia beliau juga.
"Tante sangat benar. Dan tante tidak perlu khawatir, pendamping Sabina pria yang baik. Buktinya, pagi ini dia tidak mau meninggalkan Sabina sendiri."
Netraku membulat sempurna mendengar ucapan spontan Morgiana. Dalam hati, aku bertanya-tanya dari mana dia mengetahui segalanya?
"Aku tahu apa yang kau pikirkan! Jawabannya, pagi ini aku melihat kemesraan kalian melalui jendela kamar ku." Ucap Morgiana sambil menatap netra teduh Mama.
"Apa? Jadi tadi kau melihat kami?" Aku bertanya karena tidak percaya dengan apa yang ku dengar dari Morgiana. Aku mencoba mengingat kembali kejadian pagi ini. Kecupan di puncak kepala, dan sikap sok manja Mas Araf membuat ku merasa malu di depan Mama. Aku bertingkah seperti pencuri yang ketahuan oleh sang empunya rumah. Pipi ku memerah menahan malu.
"Haha! Kau tidak perlu malu, nak! Justru Mama bahagia mendengarnya. Itu artinya suamimu berhasil membuat mu bahagia." Ucap mama sambil mencubit hidung bangir ku.
"Mama akan melihat kondisi Opa kalian di kamarnya. Kalian bicara saja. Dan iya, jika ada yang datang membawa pakaian, persilahkan mereka masuk." Ucap Mama lagi, kali ini sambil tersenyum. Sedetik kemudian beliau mulai berjalan pelan menuju kamar Opa Ade yang terletak di dekat tangga sebelah kanan.
"Kenapa kau tidak mengatakan apa pun tadi? Maksudku tentang melihat kami berdua?" Aku bertanya sambil menatap Morgiana setelah kami sama-sama duduk di sofa.
"Bicara tentang apa? Tentang keromantisan kalian? Atau tentang tanggapan ku setelah melihat sikap manja suami mu?"
"Hehe! Tidak. Bukan itu maksud ku. Yang ingin ku katakan adalah, kenapa kau tidak mengatakannya lebih awal. Jika aku tahu, aku bisa meminta Mas Araf menemuimu.
Tadi aku memintanya masuk karena aku ingin memperkenalkan mu dengan beliau. Sayang sekali, beliau tidak bisa karena ada pekerjaan darurat di rumah sakit.
Tapi, jangan khawatir. Aku janji akan mengenalkan kalian nanti malam. Suami ku orang yang baik, aku yakin kalian bisa bersahabat. Dia juga sangat cerdas, kau bisa meminta bantuannya kapan pun kau ingin." Ucapku sambil tersenyum manis.
"Nona Muda, tuan telpon. Katanya beliau ingin bicara."
"Benarkah, Mbok?"
"Baiklah, terima kasih." Ucap ku pada Mbok Lisa sambil tersenyum tipis.
"Apa tidak apa-apa jika aku meninggalkan mu sebentar? Kita baru membicarakannya dan sekarang dia malah menelpon."
"Tidak apa-apa, Bina. Kau bisa pergi. Aku juga akan keluar sebentar. Aku akan menemui orang yang kau rekomendasikan kemarin. Maksudku detektif itu."
"Apa orang itu menemukan Mr.Amerika mu? Kapan kalian akan bertemu?"
"Aku tidak tahu. Tapi, dari nada suaranya aku yakin akan mendapatkan kabar baik." Ujar Morgiana lagi, wajahnya di penuhi senyuman. Entah sebahagia apa hatinya sampai dia tidak bisa berhenti tersenyum.
...***...
"Assalamu'alaikum Bidadari cantik ku!" Ucap ku sambil menyandarkan kepala di sandaran kursi.
"Wa'alaikumsalam. Ada apa Mas? Kita baru saja berpisah tapi sekarang kau malah menelpon ku. Apa kau melupakan sesuatu? Katakan apa itu? Aku janji akan membantumu."
Mendengar suara lembut Sabina membuat ku merasakan ketenangan. Aku bahkan sampai memejamkan mata, mencoba menghadirkan wajah cantiknya di hati dan pikiran ku.
"Tidak ada hal yang ku lupakan. Aku hanya ingin mendengar suara lembut istri cantik ku! Aku merindukan mu, kau membuatku semakin tergila-gila. Tergila-gila pada pesona indah mu." Ucap ku merayu. Sungguh, aku tidak berbohong, apa yang di ucapkan lisan ku maka itulah kebenarannya.
"Aku mengirimkan paket spesial untukmu. Aku berharap kau memakainya nanti malam. Aku ingin melihat mu bersinar melebihi semua orang sehingga mata ku hanya akan tertuju pada cahaya indah mu." Ucap ku lagi, seandainya aku berada di dekat Sabina, aku pasti bisa melihat betapa indah senyumannya.
"Cihhhh. Gombal!" Balas Sabina pelan.
"Aku tidak berbohong, Honey. Aku serius, aku jujur demi nyawa ku dan nyawamu."
"Baiklah, aku percaya itu. Tapi sekarang, tolong matikan telponnya. Aku tidak ingin kau semakin merindukan ku, dan buruknya aku tidak bisa memberikan ciuman lembut ku di pipimu." Ujar Sabina dengan nada suara malu-malu.
Ucapan Sabina terdengar bagai tetesan hujan yang membasahi lubuk hati terdalam ku. Aku bahagia, Aku tersanjung. Rasanya seolah aku terbang keawan.
"Mas Araf tahu sepupu ku? Dia melihat kita pagi ini. Dan aku sangat malu di depannya."
"Kenapa harus malu? Aku memeluk istriku. Aku juga mencium istriku. Jika dia cemburu suruh saja dia menikah." Guyon ku sambil berjalan pelan kemudian duduk di Sofa.
"Huss! Tidak boleh bicara seperti itu. Walau dia pemarah, dia sangat setia pada cintanya."
Setia dan Cinta?
Dua kata itu kini memenuhi rongga dada ku, sanggupkah aku selalu setia pada Sabina? Dan sanggupkah aku mencintainya sampai aku menutup mata? Aku yakin bisa melakukan itu karena hanya dia wanita yang ku cinta. Aku tidak sadar aku mulai meneteskan air mata. Entah sejak kapan aku berubah menjadi pria cengeng? Aku sendiri bingung soal itu. Yang jelas, saat Sabina terluka aku lah yang merasakan kepedihannya. Aku berharap hadiah yang ku kirimkan untuk Sabina akan semakin mengeratkan cinta kami.
...***...