Mr Love Love

Mr Love Love
Bersikap Manis



"Terima kasih untuk air dinginnya." Ucap ku setelah menghabiskan setengah botol air yang Sabina keluarkan dari kulkas.


Tidak ada balasan dari Sabina selain anggukan kepala.


"Rumah ini terlalu besar, kau tidak akan sanggup membersihkan dari depan sampai belakang. Aku sudah meminta Mama untuk mencarikan tujuh Art baru untukmu. Kau tidak perlu repot-repot mencuci piring atau mencuci baju sendiri." Sambungku lagi tanpa melepaskan tatapan ku dari Sabina.


"Tujuh? Itu terlalu banyak!" Balas Sabina tak setuju.


"Kenapa? Jika tujuh terlalu sedikit maka aku akan menambahnya menjadi sepuluh."


"Mas Araf jangan bercanda, Aku serius!"


"Aku juga serius, Bina. Bukankah ketika wanita mengatakan banyak berarti itu sangat kurang? Tidak apa-apa, katakan saja keinginanmu!"


Mendengar ucapanku Sabina malah tertunduk lesu di sofa. Tatapan matanya menjelaskan segalanya, Aku tahu dia berbeda dengan gadis-gadis yang pernah ku kencani dulu, dia bahkan sangat pemalu.


"Jika kau tidak suka ide ku mempekerjakan sepuluh Art, tidak apa-apa. Tapi kau tidak akan bisa merubah kehendak ku untuk mempekerjakan tujuh Art yang akan datang besok sore."


"Baiklah. Terserah mas Araf saja. Aku tidak akan membantah." Ucap Sabina pasrah.


"Nah gitu dong, itu namanya anak baik!" Ucapku sambil tersenyum. Sedetik kemudian aku meraih koran yang belum sempat kubaca, koran yang ku bawa dari kediaman Mama.


"Mas Araf!"


"Mmmm!"


"Kok mmmm si?"


Aku melipat koran dan menatap Sabina dengan tatapan heran.


"Apa yang ingin kau katakan sampai kau berusaha bersikap manis?"


"Iiiiihhhhh, Mas Araf lebay. Kapan aku bersikap manis? Tidak pernah, kan? Jadi jangan mengada-ngada."


"Iya, baiklah. Sekarang aku akan serius. Sekarang katakan apa yang kau inginkan? Dan satu lagi, besok aku akan transfer uang ke rekening mu. Tidak perlu menahan air liur jika kau ingin membeli apa pun yang kau butuhkan."


"Itu tidak perlu!" Ucap Sabina.


"Itu perlu." Balas ku.


"Ya sudahlah, terserah mas Araf saja. Aku hanya ingin mengatakan, aku mau minta izin pergi kebandara besok pagi. Sepupuku yang tinggal di luar negri akan datang."


"Iya, aku mengizinkan mu."


"Mas Araf serius? Mas Araf tidak marah?"


"Untuk apa marah? Aku akan marah jika kau berani lari dengan pria lain." Guyon ku sambil tersenyum, aku bangun dari sofa kemudian beranjak menuju lantai atas. Aku meninggalkan Sabina yang masih terlihat heran. Dia bahkan sampai mengerutkan keningnya tak percaya dengan ucapan yang ku lontarkan secara tiba-tiba.


Sabina pasti berpikir aku suami yang aneh. Bagaimana aku bisa memikirkan guyonan tidak berguna dan mengatakan akan marah padanya jika dia sampai lari dengan pria lain.


Di kamar aku malah tersenyum sambil menatap pantulan wajah ku di cermin. Sungguh, Sabina terlalu menggemaskan untuk di tinggal sendirian. Rasa-rasanya aku ingin menggigitnya dengan lembut. Sayangnya aku masih terlalu malu untuk melakukan itu.


Tok.Tok.Tok.


"Kenapa kau mengetuk pintu? Kau bukan orang asing, kau istri ku!" Ucapku ketus begitu melihat kepala Sabina menyembul dari balik daun pintu.


"Maaf, Mas!"


"Tidak perlu minta maaf, kau tidak melakukan kesalahan."


"Besok aku akan berangkat pagi, maksud ku, aku akan pergi setelah menyiapkan sarapan, apa Mas Araf akan ikut bersama ku?"


Aku menatap wajah tertunduk Sabina, dia berdiri di sisi kiri ranjang kami.


"Aku tidak bisa ikut bersama mu, Amri yang akan mengantar mu ke Bandara! Kau masih ingat Amri, kan? Dia Bodyguard ku.


Kau mungkin tidak mengenalnya karena selama sebulan ini dia meminta cuti, pulang kampung."


Mendengar penuturan ku Sabina hanya bisa mengangguk pelan, setidaknya Amri ada bersamanya dengan begitu kekhawatiran ku saat jauh dari Sabina tidak akan berpengaruh buruk bagi pekerjaan ku di rumah sakit.


...***...


Dua kali putaran, berlari mengelilingi kompleks, akhirnya aku kembali kerumah dengan perasaan lega.


Entah kenapa rasa kantuk kembali menyerangku, aku ingin kembali ke kamar dan tidur dengan santai. Sayang sekali aku tidak bisa melakukan itu karena aku harus ke-rumah sakit setengah jam lagi.


"ini kopi-nya Mas."


"Kau belum berangkat? Aku pikir kau tidak ada di rumah!" Netra ku membulat melihat Sabina berdiri di depan ku.


"Bukankah kau bilang kau akan berangkat pagi? Bagaimana jika kau terlambat, sepupumu itu pasti akan marah. Aku tidak nyakin dia memiliki watak seperti mu!" Sambungku lagi sambil meraih cangkir kopi yang di letakkan Sabina di atas meja.


"Mmm! Mas Araf benar, dia memiliki watak sedikit keras. Dia sangat manja sampai tante ku kewalahan menghadapinya. Jika dia menginginkan sesuatu, maka hal itu harus ada di depannya. Baginya dunia ini adalah miliknya dan semua hal harus berjalan sesuai kehendaknya. Dia bahkan tidak segan-segan mematahkan lengan orang lain hanya untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya."


"Itu namanya kegilaan. Aku benar-benar merinding mendengar ada orang yang bertingkah seperti itu."


"Sudahlah, kita tidak perlu membicarakannya. Sarapannya sudah siap. Ayo kita sarapan." Ujar Sabina pelan, bibirnya mengukir senyuman tipis, sedetik kemudian dia beranjak menuju meja makan yang berdekatan dengan dapur.


"Aku mau mandi, setelah mandi aku akan sarapan. Aku tidak bisa duduk tenang walau untuk sedetik saja dengan tubuh lengket ini." Ucapku sambil berjalan mengikuti langkah Sabina.


"Mas Araf yakin tidak mau sarapan?"


"Iya, aku yakin."


"Karena mas Araf tidak sarapan sebaiknya aku pergi saja, di depan sudah ada Mas Amri. Semakin cepat aku berangkat ke bandara maka semakin cepat juga aku kembali."


"Apa kau tidak sarapan karena aku tidak bisa menemani mu?"


"Bukan seperti itu, Mas. Aku memasukkan sarapan ku di kotak makan. Aku akan sarapan di mobil." Jawab Sabina santai sambil menunjuk kotak persegi yang ia letakkan di atas meja makan.


"Roti lapis?"


"Mas Araf tahu di dalamnya ada roti lapis?"


"Kau bertanya kenapa aku bisa tahu? Semuanya tertulis di wajahmu." Celotehku sambil tersenyum.


"Guyonan Mas Araf nggak lucu." Celetuk Sabina cepat, ia menyebikkan bibirnya sambil meraih tas di atas meja.


Aku berusaha menahan tawa setelah mendengar ucapan spontan Sabina. Aku tidak ingin menggodanya lebih lama lagi karena aku khawatir aku lah yang akan tergoda, aku berjalan pelan menuju anak tangga, meninggalkan Sabina yang masih berdiri mematung.


Dikamar, aku langsung melepas baju dan celana yang ku gunakan, menggantinya dengan handuk yang menutupi setengah tubuh kekarku. Dada ku, ku biarkan terbuka begitu saja karena sejujurnya aku akan masuk kekamar mandi dan....


Aaaaaaa!


Teriakan Sabina memenuhi indra pendengaran ku, tanpa berpikir panjang ia langsung membalikan tubuhnya menghadap pintu. Sementara aku? Aku hanya bisa mematung sambil melipat lengan di depan dada.


"Kenapa berteriak?"


"Aa-aku!"


"Aku apa? Apa kau ingin membuat ku serangan jantung?" Aku bicara dengan nada ketus, padahal sebenarnya aku ingin tertawa.


"Biasanya kau selalu mengetuk pintu, hari ini kenapa kau tidak melakukannya? Apa kau sengaja ingin melihat ku bertelanjang dada?" Aku kembali berpura-pura bicara dengan nada ketus.


"Ti-tidak." Ucap Sabina gugup.


"Bukankah Mas Araf bilang semua yang ada di rumah ini adalah milik ku? Aku tidak tahu kalau Mas Araf tidak memakai baju. Jangan salahkan aku karena masuk tanpa mengetuk pintu."


Aku berjalan mendekati Sabina. Aku menatap wajahnya yang masih tertunduk, ku perhatikan dia bahkan menutup kedua matanya. Entah sebesar apa rasa takutnya saat melihat ku bertelanjang dada, sekujur tubuhnya bahkan bergetar hebat.


"Angkat kepala mu dan jangan buka mata mu!" Perintah ku dengan suara tegas.


Sedetik kemudian.


Muaachh.


Sebuah kecupan singkat mendarat di puncak kepala Sabina. Gadis cantik itu terkejut sampai hampir terjatuh, namun dengan cepat aku meraih pinggang rampingnya.


Cessss!


Netra kami bertemu untuk sekian detik, bagai anak remaja yang baru merasakan cinta, rongga dadaku di penuhi perasaan bahagia. Bahagia yang aku sendiri tidak tahu dari mana datangnya. Aku mencoba bersikap manis pada Sabina, dan buruknya aku sendiri yang larut dalam perasaan bahagia, bahagia yang ku ciptakan sendiri.


...***...