
"Adik... Maafkan kakak yaaa, kakak tidak bisa menjagamu selama dua puluh empat jam. Kakak harus belajar di pesantren, kakak janji kakak akan belajar dengan baik agar bisa menjadi kakak yang bisa kau banggakan." Ucap Fazila, anak manis itu mengusap pipi Baby menggemaskan tanpa melepas senyuman dari wajah cantiknya.
Baby menggemaskan! Aku memanggilnya seperti itu karena putra kak Alan dan kak Fatimah benar-benar sangat menggemaskan
Fazila, sejak dia menginjakkan kaki di ruang inap kak Fatimah, tak sedetik pun anak manis itu beralih dari ranjang Umminya, kak Fatimah. Dia terus saja bicara seolah Baby menggemaskan mengerti setiap ucapannya. Sejak Fazila datang kamar kak Fatimah terasa hidup, lantunan ayat sucinya bagai hujan yang menetesi bumi yang telah lama mati, menenangkan dan juga menakjubkan.
"Bi, apa kakak bisa bicara dengan mu sebentar?"
Bi! Kak Alan selalu memanggil ku seperti itu jika ada yang mengganggu pikirannya, dan tentu saja hal itu berkaitan tentang ku.
"Iya. Tentu saja kak." Balas ku singkat.
"Ikut kakak, kita akan bicara di kantin sambil minum kopi."
Wajah kak Alan terlihat serius. Sungguh, aku sangat jarang melihat wajah seriusnya. Kali ini aku bertanya-tanya, apa aku melakukan kesalahan? Atau sebaliknya Mas Araf yang melakukan kesalahan? Semoga saja ini bukan masalah serius.
"Ummi, Abi kekantin sebentar. Ada yang harus Abi bicarakan dengan Sabina."
Suami yang baik! Aku bergumam di dalam hati sambil menatap wajah cantik kak Fatimah. Kak Fatimah tidak mengatakan apa pun, namun senyum yang ia pamerkan seolah memberikan isyarat kalau ia tidak keberatan.
Lima menit kemudian, aku dan Kak Alan sudah berada di kantin. Secangkir kopi pahit untuk kak Alan, dan segelas jus Alpukat untukku. Awalnya kami bersikap biasa-biasa saja, ketika jus ku tersisa hanya tinggal setengah kak Alan mulai membuka suara.
"Bagaimana rumah tangga mu dan Araf? Apa semuanya berjalan lancar? Apa dia membuat mu kesal?
Jika kau merasa lelah, katakan semuanya pada Mama dan Papa. Aku yakin mereka akan mengerti. Jangan tahan dirimu untuk tetap berada dalam penderitaan.
Kau adik ku dan dia sahabat ku, aku berharap yang terbaik untuk kalian berdua. Tapi jika dia sampai menyakitimu, aku sendiri yang akan mematahkan lengannya." Kak Alan berucap dengan nada tegas, dalam setiap hurup yang ia rangkai menjadi kata-kata terdapat berjuta-juta cinta yang terkandung di dalamnya.
Cinta seorang kakak yang tidak ingin melihat dan mendengar adiknya menderita. Sungguh, rasa hormat ku pada kak Alan semakin bertambah, dan cintaku padanya tanpa batas. Hanya orang beruntung yang mendapatkan Kakak sebaik dirinya, dan aku lah wanita beruntung itu. Puji syukur ku pada Allah yang maha mengatur segala urusan.
"Kakak, dia itu sahabat mu. Kau lebih mengenalnya dari pada aku. Kau juga tahu kan kalau Mas Araf sangat baik? Dia memperlakukan ku dengan baik, dia juga sangat mencintai ku." Balas ku sambil tersenyum.
Sungguh, aku tidak berbohong. Setiap yang ku katakan pada kak Alan mengandung kebenaran. Aku bisa melihat dari raut wajah yang kak Alan tunjukan, antara percaya dan tidak, itulah yang dia rasakan.
"Awalnya aku ragu dengan hubungan ini, tapi kakak ipar Fatimah mencoba meyakinkan ku. Dia bilang ada banyak persamaan antara kakak dan Mas Araf, jika dia tidak baik tidak mungkin kakian bisa menjadi teman baik.
Mas Araf sangat menghormati Mamanya, dan itu menjadi nilai tambah dirinya di mataku. Kakak juga tahu kan hanya pria terhormat yang akan menghormati wanita, dan mas Araf salah satunya. Dia menghormati ku, dia mencintai ku, dan dia bersikap baik pada ku. Itu sudah cukup untuk ku kak." Ujar ku dengan hati-hati.
"Aku tahu kakak merasa khawatir karena tingkah Mas Araf di masa lalu. Itu hanya masa lalu. Dan sekarang Mas Araf sudah berubah. Jika kakak belum mempercayainya, maka percayalah padaku. Aku tidak pernah berbohong walau dalam urusan sekecil apa pun." Sambung ku lagi, netra ku dan netra kak Alan saling beradu.
"Kakak percaya pada mu, dek. Jika kau sudah yakin, kakak hanya ingin mengatakan, peluk Araf dengan bahagia, rangkul dia dalam suka dan duka, maafkan masa lalunya dan rancanglah masa depan bahagia bersamanya!" Kak Alan berucap sambil memegang jemariku, wajah tampannya memamerkan senyuman.
Belum sempat kak Alan bangun dari posisi duduknya, seorang OB mendatangi meja kami sambil membawa buket bunga. Dia masih muda namun wajahnya terlihat memamerkan kelelahannya.
"Selamat sore, apa anda Nona Sabina? Istri Pak direktur? Maksud saya dokter Araf." OB Itu bertanya sambil berdiri.
"Iya, dia Sabina. Ada apa? Kenapa kau mencarinya?" Kak Alan bertanya sambil menatap lekat wajah lelah OB itu.
"Pak direktur mengirim bunga ini, beliau meminta saya membawa Nona Sabina ke kantornya." Jawab OB itu lagi.
"Kakak lihat? Dia bahkan sangat merindukan ku." Ujar ku di depan Kak Alan sambil tersenyum.
"Pergilah. Kakak berdoa untuk kebahagiaan mu." Kak Alan memeluk ku sebelum ia melepas ku pergi bersama OB muda itu. Aku bisa melihat dari raut wajahnya, kekhawatiran yang tadi sempat ia tunjukan telah sirna bersama dengan tarikan dan hembusan nafas lembutnya, sama seperti doa tulus kak Alan untuk kebahagiaan ku dan Mas Araf, aku juga mendoakan hal yang sama untuk kebahagiaannya dengan kakak ipar Fatimah.
...***...
Saat ini aku berdiri tepat di depan kantor Mas Araf, di depan pintu tertulis 'Kantor Direktur' tanpa berpikir panjang dan tanpa mengetuk pintu aku langsung menerobos masuk.
Netra ku membulat tak percaya, Mas Araf yang sejak tadi berkoar-koar sangat merindukan ku malah tertidur di sofa. Dia sangat pulas sampai aku tidak berani mengganggunya. Entah seberapa melelahkan pekerjaannya sampai dia tidak menyadari kedatangan ku.
Perlahan aku berjalan mendekati sofa, duduk di dekat Mas Araf sambil mengamati wajah pulasnya. Walau tertidur pulas pesona ketampanan Mas Araf tetap tak berkurang.
"Apa kau lelah? Kau bahkan tidak menyadari kedatangan ku! Jika kau tertidur pulas seperti ini dan tidak bertingkah aneh, kau terlihat sepuluh kali lipat lebih tampan di banding sebelumnya. Tapi, aku lebih suka saat kau menggoda ku.
Wanita yang mendapatkamu benar-benat sangat beruntung, dan aku wanita beruntung itu!" Ucapku sambil mengelus puncak kepala Mas Araf. Aku tidak ingin mengganggu tidur nyenyaknya, yang bisa ku lakukan hanya beringsut dari tempat duduk ku kemudian berdiri di balkon.
"Hujan? Wah ini benar-benar menakjubkan." Ujar ku sambil merentangkan tangan, membiarkan tanganku terkena hujan. Aku bahkan tidak menghiraukan lengan bajuku yang mulai basah.
Entah kapan terakhir kali aku bermain hujan. Apa saat aku duduk di bangku SMP? Atau mungkin saja saat SMA? Aku sendiri tidak begitu mengingatnya. Alangkah lebih baiknya jika pria yang tertidur di sofa itu bisa menikmati waktunya bersama ku, di bawah alunan merdu nyanyian hujan yang saat ini menerpa Bumi.
Sabina, apa kau tidak waras? Kau bahkan menganggap suara hujan lebih merdu dari nyanyian cinta. Aku bergumam di dalam hati sambil menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kasar dari bibir.
...***...