Mr Love Love

Mr Love Love
Tegang



Huhhhh!


Aku membuang nafas kasar setelah sampai di depan pintu. Mataku membulat begitu mengetahui semua lampu di dalam rumah padam. Padahal sebelumnya aku yakin Mas Araf ada di dalam rumah karena dia memintaku untuk segera pulang. Entah dimana dia berada sekarang?


Aku tidak suka dengan kegelapan, nafas ku mulai terasa sesak hanya dalam hitungan detik saja. Tanpa berpikir panjang aku langsung mencari ponsel yang ku letakkan di dalam tas, jika aku tetap berdiri dalam kegelapan ini maka sudah di pastikan aku akan pingsan dalam hitungan detik selanjutnya.


"Aistt! Aku benar-benar bodoh!" Aku mulai menggerutu begitu mendapati ponsel ku dalam keadaan mati.


"Sabina, kenapa kau sangat bodoh? Bukankah kau berada di rumah Mama seharian ini? Lalu kenapa kau ceroboh dan tidak mengisi daya ponsel mu? Apa kau ingin tiada?" Lagi-lagi aku hanya bisa menggerutu dalam kegelapan.


Sungguh, nafas ku terasa semakin sesak.


Dalam kepanikan ini aku masih bisa bersyukur, setidaknya aku telah menunaikan Shalat Magrib ku di jalan, aku meminta Amri berhenti sebentar dan memilih Shalat di Masjid yang kami lewati. Seandainya aku belum Shalat, aku tidak akan bisa hidup dengan tenang, aku tidak akan tenang jika aku mengabaikan panggilan Tuhan ku di saat Azan mulai berkumandang.


Saat ini nafas ku terasa semakin sesak, kepala ku berat. Dan di saat bersamaan lampu tiba-tiba menyala. Netra ku kembali membulat, aku merasa takjub melihat dekorasi rumah yang terlihat berbeda, aku bahkan tidak menyadari sedang berdiri di atas karpet merah. Sebuah tanda yang memintaku berjalan kearah tangga di letakkan dengan rapi di setiap jarak satu langkah.


Aku masih merasakan sesak di bagian dadaku namun tidak seburuk sebelum lampu di nyalakan. Sepertinya aku sudah bisa menguasai diriku sendiri, aku menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya kasar dari bibir, melangkah perlahan mengikuti petunjuk yang sudah di letakkan.


"Ya Allah, ada apa ini? Siapa yang melakukan semua ini? Mas Araf? Itu mustahil!" Celotehku sambil berjalan menaiki anak tangga.


Tanda yang menuntun langkah ku berakhir di depan pintu kamar ku dan Mas Araf, pelan aku membuka pintu. Lagi-lagi aku hanya bisa merasakan takjub luar biasa. Aroma terapi yang bersumber dari lilin yang masih menyala membelai indra penciuman ku, wanginya lembut dan menenangkan.


Glekkkk!


Aku menelan saliva melihat sosok rupawan yang saat ini berdiri di depanku. Melihat senyuman menawan Mas Araf membuat jantungku berpacu dengan cepat, entah apa yang ia rencanakan sampai menghias kamar kami layaknya kamar pengantin baru yang akan menikmati bulan Madunya. Bahkan pelayan yang ia katakan berjumlah tujuh orang dan akan datang sore ini tak nampak di netra teduh ku, apa mas Araf meminta mereka pergi sebelum mereka mulai bekerja? Entahlah, aku sendiri tidak tahu itu.


"Kau sudah sampai? Aku menantikan kedatangan mu sejak tadi! Syukurlah aku tidak perlu menunggu terlalu lama." Ucap mas Araf sambil mengulurkan tangannya.


Tanpa berpikir panjang aku meraih tangan Mas Araf dan uppppss... Mas Araf menarik ku dengan cepat sampai membentur dada bidangnya. Dia tidak tahu kalau saat ini aku sangat ketakutan. Rasa sesak dan pening di kepala ku telah menghilang dan di gantikan rasa takut. Aku takut mas Araf akan marah padaku, aku juga takut tidak bisa mengendalikan diriku.


Tuhan, ada apa ini? Kenapa Mas araf bertingkah sangat aneh? Malam ini terasa sangat berbeda di bandingkan dengan malam saat mas Araf memberikan Amplop coklat itu, amplop yang aku sendiri tidak berani meliriknya apa lagi sampai membuka dan membaca isinya! Aku bergumam di dalam hati sambil menatap netra teduh mas Araf.


Cahaya yang bersumber dari puluhan lilin yang mas Araf nyalakan menambah kesan romantis, saat ini aku merasa seperti pemeran utama wanita dalam film romantis.


"A-ada apa ini?" Aku bertanya dengan suara pelan nyaris tak terdengar. Aku gugup.


Bukannya menjawab pertanyaan ku, mas Araf malah semakin merangkul ku. Dia mengalungkan kedua lengannya di leher ku. Sungguh, kami terpisah oleh jarak lima senti saja. Aku bahkan bisa merasakan lembutnya nafas Mas Araf yang mengenai wajah memerahku.


"A-ada apa ini, Mas? Ke-kenapa kau bertingkah sangat aneh?" Aku kembali mengurai pertanyaan bodoh ku, pertanyaan bodoh yang tentu saja malas Mas Araf tanggapi.


Bukannya menjawab pertanyaan ku, Mas Araf malah tersenyum nakal. Dia memelukku! Dia membenamkan wajah ku di dada bidangnya.


Sabina kuatkan dirimu, kau jangan pingsan di depannya. Celoteh ku dalam hati sambil berusaha keras untuk tidak terlihat buruk.


Aku masih terdiam, berusaha mencerna keadaan yang ada. Sejujurnya aku memegang dada ku, berharap jantung ku mau mendengarkan ku untuk tidak berdebar kencang, aku takut Mas Araf akan mendengar detakannya.


"Aku tidak bertingkah aneh, aku sedang memeluk istriku! Apa ada yang keberatan?" Ucap Mas Araf sambil berbisik di telingaku.


Istri!


Mendengar satu kata itu membuat ku mulai tersenyum lebar, untungnya Mas Araf tidak melihat ku terseyum. Jika tidak, dia pasti akan berfikir aku terlalu kepedean.


"Ti-tidak! Hanya saja, moment ini terasa sangat aneh bagi ku!" Jawabku cepat. Dari suaraku, aku yakin mas Araf pasti bisa menangkap kalau saat ini aku sangat gugup dan gemetar.


"Seharusnya aku melakukan ini sejak awal, entah kenapa aku membutuhkan waktu satu bulan hanya untuk mengumpulkan keberanian."


"Mengumpulkan keberanian? Apa maksud Mas Araf?" Aku melepaskan diri dari pelukan Mas Araf dan menatap netra teduhnya tanpa berkedip.


"Aku butuh waktu sebulan hanya untuk memeluk mu! Aku butuh waktu sebulan untuk menyadari perasaan ku padamu! Aku juga butuh waktu sebulan untuk mengungkapkan perasaan ku padamu." Ucapan Mas Araf terhenti, dia kembali memeluk ku, kali ini sangat erat sampai aku sendiri bisa merasakan dadanya berdebar sangat kencang.


"Aku mencintaimu istriku. Aku mencintai mu Sabina Wijaya. Aku tidak bisa hidup tanpa mu. Aku juga tidak bisa jauh darimu walau untuk sedetik saja.


Aku akan mengikat mu dengan cintaku sehingga kau tidak akan bisa pergi kemana-mana. Aku ingin selalu melihat mu dalam bahagia." Ucap Mas Araf penuh penghayatan.


Sungguh, aku terlena. Aku bahagia. Aku bersyukur pada yang Kuasa atas nikmat karunia cinta yang datang darinya.


Tanpa terasa air mataku mulai menetes, bukan karena sedih melainkan bahagia luar biasa. Aku rasa setiap wanita akan merasakan bahagia yang sama seperti yang ku rasakan saat ini jika suami mereka mengungkapkan rasa cintanya tanpa batas.


Sabina yang nakal! Celoteh ku dalam hati sambil mengeratkan kedua lengan ku di pinggang Mas Araf, aku semakin membenamkan wajah ku di dada bidangnya. Akankah malam ini akan berlalu dengan indah seperti indahnya melodi cinta yang bergema? Atau justru sebaliknya akan mencekam bagai terkurung di ruang gelap tanpa cahaya? Aku tidak tahu dan aku sendiri tidak bisa menebaknya.


Aku tidak bisa berpikir dengan jernih karena saat ini aku merasakan tegang. Aku tegang sekaligus bahagia karena pria tertampan di Dunia mengungkapkan perasaan cintanya padaku. Tidak ada moment yang lebih indah dari moment yang ku lewati saat ini.


...***...