Mr Love Love

Mr Love Love
Cinta Tanpa Pamrih



Pesta?


Pesta itu sudah berlalu tapi pikiran ku masih terpaku disana. Sungguh, aku tidak pernah merasakan ke galauan sebesar ini sebelumnya. Aku merasa sesak, aku merasa kesal, aku ingin memaki. Pertanyaannya, siapa yang harus ku maki? Aku ingin berteriak. Berteriak sekencang-kencangnya.


Bahkan sejak aku dan Sabina menginjakkan kaki di rumah kami. Hingga saat ini setelah kami menyelesaikan shalat Isya secara berjama'ah tak ada lagi senyuman atau tegur sapa dari Sabina. Aku takut, sangat takut sampai aku tak bisa berkata-kata.


Sepuluh menit berlalu namun tidak ada tanda-tanda Sabina akan keluar dari kamar mandi. Apa dia sudah tahu soal hubungan ku dengan sepupunya hingga dia memutuskan tidak akan keluar dari kamar mandi hanya untuk menyiksaku? Berkali kali-kali pula aku mondar-mandir di kamar sambil menatap daun pintu kamar mandi yang masih tertutup sempurna.


"Aku akan mengetuk pintu kamar mandi, aku tidak perduli walau Sabina mengutuk ku." Ucap ku pelan dengan wajah tertunduk lesu.


Baru saja aku berniat akan membalikkan badan, pundak ku di pegang dari belakang, kali ini bukan wanita lain seperti di pesta sebelumnya, melainkan Sabina wanita saliha bermata jeli.


"Kenapa lama sekal-llliiii."


Glekkkk!


Ucapan ku tertahan di tenggorokan begitu melihat Sabina, aku hanya bisa menelan saliva. Mata ku membulat tak percaya, entah mimpi apa aku semalam sampai melihat Sabina berpenampilan seperti itu. Jujur, rasanya darah ku mengalir sepuluh kali lebih cepat. Sekujur tubuh ku bergetar hebat. Hasrat terpendam ku tiba-tiba muncul di permukaan.


Apa yang ku pikirkan? Aku bergumam di dalam hati sambil menatap bibir ranum selembut kapas milik Sabina.


"Kenapa menatap ku seperti itu? Apa ini terlihat aneh?" Sabina bertanya sambil mengalungkan kedua tangannya di leher ku.


Aku tersenyum bahagia, aku yakin saat ini wajah ku mulai memerah semerah udang rebus.


"Itu tidak aneh. Itu seksi." Balas ku pelan tanpa melepas senyuman.


Aku tidak tahu nama pakaian yang Sabina pakai. Yang jelas, sepotong kain yang terlihat seperti kelambu itu adalah hadiah dari Mama, hadiah yang sebelumnya membuat Sabina merinding hebat dan melemparnya sampai mengenai wajah tampan ku.


"Sejak di pesta, aku melihat wajahmu terlihat kesal. Aku ingin bertanya ada apa dengannya? Sayang sekali, aku tidak bisa melakukan itu karena aku takut itu akan melukai hati.


Saat kita pulang, aku mendapati pakaian ini masih tersimpan di lemari. Kemudian aku berpikir, apa pakaian ini bisa menghilangkan resah dan gelisah suami ku? Jawabannya mungkin saja tidak, walau seperti itu aku tetap ingin mencobanya." Ucap Sabina sambil menangkup wajah ku dengan tangan hangatnya.


Sungguh, resah, gelisah, dan perasaan takut ku seolah menguap keangkasa. Aku bahkan tidak bisa berkata-kata walau sekedar untuk menyanjung wanita tercantik di dunia, Sabina Wijaya.


"Apa kau tahu saat ini kau sedang menggodaku?" Aku bertanya pada Sabina dengan nada suara nakal.


"Iya." Balas Sabina singkat.


"Hanya iya? Kau sangat mudah mengatakannya, bagaimana kalau aku lepas kendali melihat penampilan seksi mu ini?"


"Lakukan apa pun yang kau inginkan karena malam ini milik kita berdua."


Setelah mendapat lampu hijau dari Sabina, akhirnya semua rasa ini akan bersatu menjadi satu. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengangkat Sabina, menggendongnya menuju tempat tidur kami.


Beginilah cinta yang halal, ia datang bukan hanya untuk membahagiakan. Tapi di dalamnya terdapat bertumpuk-tumpuk pahala. Semoga Allah merahmati kami dengan keturunan yang bisa menyejukkan mata.


...***...


Pagi yang indah, ketika aku bangun aku melihat wajah terbaik. Berada dalam dekapannya selalu saja membuat jiwa ku merasakan bahagia luar biasa.


Pagi ini kami bahkan Mandi bersama, meskipun hal ini terkesan aneh dan tak biasa. Kebiasaan ini justru bisa merekatkan hubungan suami istri.


Mandi bersama telah di contohkan oleh Rasulullah dan istri-istrinya. Dengan kata lain Islam pun menganggap hal ini adalah sebuah bentuk kewajaran. Mandi bersama bisa menimbukan rasa kasih sayang dan bermain-main dengan pasangan, saling siram-siraman dan saling tertawa lepas.


Inilah sunnah yang tidak hanya bisa menautkan hati dan membuat cinta di antara pasangan semakin bertambah, tapi juga di janjikan pahala yang agung di dunia dan di akhirat.


"Mas, aku ingin mengatakan sesuatu." Ucap Sabina sambil memeluk tubuh ku dari belakang. Aku tersenyum sambil menghentikan aktivitas memasang dasi.


"Tetap seperti ini, jangan bergerak, dan jangan menoleh kebelakang." Sambung Sabina lagi sambil mengeratkan pelukannya dan tidak membiarkan ku menatap wajah cantiknya.


Sebenarnya pagi ini aku ingin menceritakan tentang Reem. Niat ku, ku urungkan setelah mendengar nada suara berat Sabina.


"Ada apa? Apa ada masalah? Atau aku melakukan kesalahan? Katakan pada ku sehingga aku bisa memperbaiki semuanya." Ucap ku pelan sambil mengelus kemudian mencium punggung tangan Sabina.


"Sekarang tidak ada masalah, tapi nanti akan jadi masalah jika aku tidak mengatakannya."


Glekkkk!


Aku menelan Saliva mendengar ucapan Sabina, aku merasa tertampar. Seolah ucapan singkatnya mendesak ku untuk menceritakan tentang masa lalu ku dengan sepupu cantiknya.


"Mas Araf masih ingat dengan Mas Ikmal? Sekarang Mas Ikmal adalah Profesor baru di kampus ku. Aku mengatakan ini karena aku tidak mau Mas Araf salah paham tentang kami jika suatu saat nanti tanpa sengaja aku terlibat dengannya.


Mas Araf tidak perlu mengkhawatirkan apa pun, sebagai seorang Muslimah aku tahu batasan ku. Aku tidak akan melanggar garis yang tidak boleh ku langgar, aku janji akan selalu berusaha menjadi istri yang baik. Mas Araf juga harus janji pada ku kalau Mas Araf akan jadi suami yang baik.


Jika kita berdua sama-sama berusaha, aku yakin kita akan bisa menjalani rumah tangga yang Sakinan, Mawaddah, dan Warohmah." Ujar Sabina panjang kali lebar.


Ucapan Sabina terasa bagai tetesan hujan yang membasahi lubuk hati terdalam ku, aku bahagia. Sangat bahagia sampai aku meneteskan air mata. Bahkan tanpa perlu di minta aku akan selalu menjadi suami yang baik, hari ini dan selamanya.


Perlahan aku membalikkan tubuh ku menghadap Sabina, menatap wajah cantiknya tanpa melepas senyuman dari wajah tampan ku. Tidak ada yang kurang dalam hidup ku, istri yang cantik dan baik hati sudah berada dalam genggaman ku, bahkan bila ribuan wanita sekelas Morgiana Reem Ayslay datang menghampiri ku, hal itu tidak akan pernah mengubah haluan hati ku.


Aku mencintai mu tanpa pamrih, sedih mu, bahagia mu, bahkan tangis mu semuanya milik ku. Takkan ku biarkan kau menjauh walau untuk sedetik saja. Akan ku pastikan akan selalu menjadikan mu milik ku. Bahkan jika aku terlahir kembali aku akan selalu mencari mu dan menjadikan mu belahan jiwa ku. Aku bergumam di dalam hati sambil mengeratkan pelukan ku di tubuh ramping Sabina Wijaya.


...***...