Mr Love Love

Mr Love Love
Teman Curhat



Hari ini hari yang cukup melelahkan, rasanya aku ingin segera pulang dan menghempaskan tubuh lelah ku di ranjang. Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu karena aku sudah janji dengan kak Fatimah kalau aku akan berkunjung ke rumah besarnya. Lebih dari itu, aku sangat merindukan keponakan cantik ku, Meyda Noviana Fazila.


Ting.Tong.


Ting.Tong.


Berkali-kali memencet bel rumah tak ada satu pun yang datang dan membukakan pintu untuk ku. Apa yang harus ku lakukan? Haruskah aku pulang? Baru saja membalikkan tubuh hendak pergi, tiba-tiba pintu di buka dari dalam.


Art separuh baya itu memamerkan senyuman, aku yakin dia datang dari dapur karena celemek yang ia gunakan menjelaskan segalanya.


"Non Sabina? Nona sudang datang?"


Art separuh baya itu berusaha mengambil buah yang ada di tangan ku.


"Mbok minta maaf, Non. Tadi Mbok sibuk di dapur, pembantu yang lain sedang sibuk di lantai atas. Tuan Alan meminta mereka merapikan ruang baca."


"Ruang baca? Maksud Mbok, Kak Alan ada di rumah?"


"Iya, Non. Tuan ada di rumah. Tadi pagi setelah Tuan berangkat ke kantor, Nona Fatimah mengeluh sakit. Kami semua sangat panik, mau tidak mau kami harus memanggil Tuan agar segera pulang.


Tuan pulang dengan terburu-buru, Tuan bahkan memutuskan tidak kembali ke kantor dan memilih bekerja dari rumah." Ucap Art separuh baya yang berdiri di depan ku, ia menjelaskan panjang kali lebar.


"Dimana kakak ipar Fatimah?" Mata ku menerawang kesegala arah mencari satu sosok yang sangat ku hormati, Kakak ipar sekaligus sahabat baik ku, Fatimah Azzahra.


"Nona Fatimah ada di taman belakang, beliau bilang beliau merasa sesak karena itu Tuan membawanya jalan-jalan, saat ini beliau sedang menikmati waktu luangnya bersama dengan Tuan. Apa Mbok perlu memanggil Tuan dan Non Fatimah?"


"Tidak perlu, Mbok." Ucap ku sambil memegang lengan Art separuh baya itu.


"Ooo iya, Mbok. Jika kakak dan kakak ipar ada di taman, lalu di mana keponakan cantik ku?" Sambung ku lagi.


"Ohhhh Nona kecil? Nona kecil ada di kamarnya, dia sedang mengulang hafalan Qur'an-nya bersama dengan ustazd."


"Jangan beritahu kakak dan kakak ipar kalau aku sudah sampai. Biarkan mereka menghabiskan waktu mereka dengan tenang, aku akan istirahat di kamar. Jika kakak sudah kembali, katakan padanya aku ada di kamar bawah." Ucapku menjelaskan, Art separuh baya yang berdiri di depanku langsung mengangguk pelan.


Sedetik kemudian, aku beranjak dari ruang tengah menuju kamar yang ku maksud. Setelah berada di kamar aku benar-benar langsung menghempaskan tubuh lelahku di ranjang empuk berukuran besar.


"Tempat ini terasa nyaman." Ujar ku pelan sambil memeluk guling.


"Aku ingin tidur!" Ujar ku lagi sambil berusaha memejamkan mata.


Setiap kali berusaha memejamkan mata selalu saja aku memikirkan sosok mas Araf. Dia cukup baik, hanya saja mimpi aneh yang hadir semalam membuat ku tidak ingin memikirkan apa pun yang berkaitan dengan dirinya. Apa itu hanya sebatas bunga tidur seperti yang sering di katakan Mama? Atau itu justru kenyataan yang sedang tertunda? Aku sendiri tidak tahu jawabannya. Yang ku tahu serapuh apa pun hubungan ku dengan mas Araf, atau selemah apa pun cinta yang ada di antara kami berdua, aku berharap hubungan ini akan utuh sampai kesurga.


"Aku tidak bisa tidur! Apa yang harus ku lakukan? Aku juga tidak bisa mengganggu kakak dan kakak ipar yang sedang berduaan." Ucapku lirih sambil bangun dan duduk di sofa dekat ranjang.


Di slide selanjutnya, potret Mama dan Papa yang tampak sedih sekaligus bahagia karena putri nakalnya akhirnya menemukan pendamping sempurna menurut persi mereka.


Sempurna?


Satu kata itu kini memenuhi rongga dadaku, akankah harapan Mama pada hubungan ku dan Mas Araf akan berjalan dengan lancar? Aku sangat takut mengecewakan keluarga besar ku, aku takut melihat wajah sedih Mama dan Papa.


Glekkkkk!


Aku hanya bisa menelan saliva, di slide terakhir ada potret mengagumkan mas Araf dengan sejuta pesona indahnya.



Tatapan matanya sangat tajam. Setiap kali ia menatapku, rasanya seolah aku akan meleleh dalam pesona indahnya.


Netra coklatnya terlihat berkilau saat dia sedang tersenyum, aku bahkan rela menghabiskan seumur hidupku hanya untuk melihat senyuman manis mas Araf. Hidung bangirnya laksana gunung pembatas, dan bulu-bulu halus yang ada di wajahnya menambah keindahan parasnya. Aku rasa hanya orang yang sedang jatuh cinta saja yang akan melebih-lebihkan keadaan kekasihnya, dan saat ini aku melakukan itu.


Entah dari mana datangnya ide aneh yang memenuhi otakku, aku bahkan memotret mas Araf secara diam-diam saat dia sedang bicara dengan Papa mertua, dan saat ini aku malah menatap potretnya dengan bahagia.


"Ummi tidak boleh melakukan apa pun tanpa di temani oleh siapa pun. Mendengar kabar Ummi mengeluh sakit membuat Abi berada di titik Abi pikir Abi akan tiada!"


Aku langsung bangun dari sofa dan berjalan kearah pintu begitu mendengar Kak Alan bicara. Dari nada suaranya aku yakin seratus persen kalau Kak Alan masih merasakan takut dan khawatir, takut bila terjadi hal buruk pada kakak ipar Fatimah.


"Abi tidak perlu khawatir, itu hanya gejala biasa yang sering di alami ibu hamil. Itu tandanya sebentar lagi adik Fazila akan segera lahir." Balas kakak ipar Fatimah tanpa melepas senyuman dari wajah cantiknya.


Kak Alan dan kakak ipar Fatimah adalah pasangan yang sangat serasi, mereka melewati begitu banyak rintangan untuk bisa bersama, kini tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa besar karunia Tuhan dalam hubungan mereka. Aku sangat bahagia melihat mereka bahagia.


"Kakak." Aku memanggil dua sosok indah di depan ku sambil tersenyum bahagia.


"Hay Dek, kau sudah sampai? Sejak kapan?Kenapa kau tidak menemui kami di taman?" Kak Alan bertanya setelah dia dan kakak ipar Fatimah duduk di sofa.


"Baru saja, kak. Aku tidak ingin mengganggu kakak, karena itu aku meminta Mbok untuk tidak memberitahukan kalian perihal kedatangan ku."


"Di mana dokter Araf? Apa dia tidak datang bersama mu?" Kak Fatimah mulai mengurai tanyanya begitu melihat ku duduk di sofa sendirian.


"Mas Araf bilang ada oprasi darurat di rumah sakit, dia janji akan menjemput ku begitu pekerjaannya selesai." Balas ku dengan nada santai.


Aku berbincang dengan santai di ruang tengah bersama kak Fatimah begitu kak Alan memutuskan meninggalkan kami. Klien pentingnya menelpon, mau tidak mau dia harus ke ruang kerjanya sambil bicara, entah sepenting apa pekerjaannya sampai-sampai dia harus meminta izin dari kak Fatimah untuk segera beranjak menuju lantai atas.


Aku berharap kunjungan ku kali ini bisa memecahkan gundah gulana yang memenuhi rongga dadaku, tidak ada teman curhat terbaik yang ku punya selain kakak ipar Fatimah. Hanya dia satu-satunya yang ku percaya untuk menyimpan besar atau kecilnya rahasia ku.


...***...