Mr Love Love

Mr Love Love
Profesor Baru



"Huaaaa! Cakit!"


Dada ku berdebar sangat kencang melihat sosok anak kecil yang sedang menangis di sofa ruang tengah.


Bukankah tadi pagi aku sempat bicara dengan ketujuh Art itu? Lalu dari mana anak nakal itu datang? Kenapa aku tidak melihatnya tadi pagi? Aku bergumam di dalam hati sambil mengelus dada melihat pemandangan buruk yang ada di depan ku, bocah itu meronta-ronta. Bukannya diam suara tangisnya malah semakin pecah. Ini lah alasannya kenapa aku tidak terlalu menyukai anak-anak, mereka sangat bawel, menyebalkan dan juga nakal.


"Siapa anak ini? Dari mana dia datang?" Aku berteriak dengan nada suara tinggi. Sabina yang mendengar ucapan ku langsung menatap ku dengan tatapan tajam, seolah tatapannya akan menguliti ku hidup-hidup.


Berbeda dengan ketujuh Art itu, mereka hanya bisa diam, mematung dalam satu posisi yakni berdiri.


"Siapa yang memberikan kalian hak membawa anak kecil kedalam rumah ku, hah? Berani sekali kalian bertindak tanpa seizin ku!" Aku kembali berteriak.


"Sudahlah, Mas. Kau tidak perlu marah lagi. Anak manis itu sangat kesakitan, tolong periksa dia dan obati punggungnya. Aku yakin dia menangis karena rasa sakit itu sangat mengganggunya."


Kali ini Sabina membuka suara sambil memegang lengan ku. Menatap ku dengan tatapan kesedihan.


"Kita bicara nanti saja setelah kau memeriksa keadaannya." Sambung Sabina lagi.


Sedetik kemudian aku berjalan mendekati sofa, mengusap kepala bocah manis itu dan memandangnya dengan tatapan kasihan. Perlahan aku menarik bajunya, berusaha melihat kondisi punggungnya.


"Apa yang kalian lakukan sampai anak sekecil ini terkena tumpahan air panas? Jika kalian tidak bisa menjaganya kenapa kalian membebaninya dengan tingkah konyol kalian? Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian." Kali ini aku menggerutu sambil mengolesi obat di punggung bocah manis yang bernama Rima itu.


Syukurlah lukanya tidak terlalu parah, aku yakin luka ini sangat menyakitinya. Apa lagi nanti, bisa saja bocah manis itu mengerang karena rasa perih dari obat yang ku olesi.


Tak butuh waktu lama, bocah manis itu kembali tertidur pulas.


"Sekarang katakan padaku, dari mana kalian membawa anak itu? Kenapa tadi pagi aku tidak melihatnya? Jika aku tahu kalian membawa anak kecil maka sudah di pastikan aku akan mengusir kalian semua!" Gerutuku lagi, tatapan ku setajam belati.


"Mas, mereka sudah bicara dengan ku tadi pagi. Sebenarnya malam ini aku akan membicarakan tentang Rima padamu. Sayang sekali aku tidak punya kesempatan untuk itu.


Tolong maafkan mereka. Rima anak yang manis, dan aku sangat menyukainya. Demi aku dan hubungan kita bisakah kau melakukan itu untuk ku? Ini permohonan pertama ku, dan aku ingin Mas Araf membiarkan mereka tetap bekerja disini. Boleh, kan?" Ucap Sabina menjelaskan panjang kali lebar, tatapan matanya menjelaskan kalau dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Demi aku dan hubungan kita!


Memori otak ku terus saja mengulangi ucapan Sabina, apa dia sungguh menyayangi anak itu? Secepat itu? Bagaimana bisa? Untuk sesaat aku kembali menatap satu persatu wajah ketujuh Art yang datang pagi ini, tiga wanita dan empat pria. Mereka tertunduk dengan perasaan takut.


Apa aku sungguh semenakutkan itu sampai mereka tidak berani menatap wajahku? Aku sendiri tidak tahu itu dan aku pun tidak punya kekuatan untuk menebak jawabannya. Aku masih kesal sampai aku tidak ingin berada di lantai bawah lagi.


Huhhhhhh!


Aku membuang nafas kasar. Walau sangat kesal aku berusaha mengendalikan diri.


Malam indah ku telah berakhir gara-gara kekacauan ini dan sekarang aku harus mendengar penjelasan kenapa mereka berani membawa anak kecil kedalam rumah ku.


"Tuan, saya hanya seorang ibu tunggal. Suami saya memilih menikahi wanita lain setahun yang lalu. Mantan ibu mertua saya bukan orang yang baik. Dia selalu mengancam akan mengambil putri saya.


Saya tidak punya pilihan lain selain meninggalkan kampung halaman dan mengadukan nasib di tempat yang baru. Hidup di kota ini juga tidak mudah. Dua hari yang lalu saya kabur dari rumah majikan saya karena mereka memukuli putri saya.


Untunglah saya bertemu Bu Iyem dan dengan suka rela beliau membantu saya mendapatkan pekerjaan. Jika Tuan tidak suka ada anak kecil disini maka saya pun tidak berhak bekerja di rumah Tuan. Tolong izinkan saya menginap malam ini saja Tuan, Nyonya, saya janji akan pergi besok pagi." Ucap Wanita itu sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Air matanya terus saja menetes seolah hari esok tidak akan datang lagi.


Ku tatap wajah Sabina, wajah cantiknya kembali memamerkan senyuman seindah purnama. Aku tahu dia sangat bahagia, melihatnya bahagia aku pun merasakan ketenangan luar biasa. Sungguh indah karunia cinta ini, hanya dengan menatap wajah bahagia orang yang kita cintai bisa mendatangkan bahagia, bahagia tanpa batas.


...***...


Aku terbangun pukul 03.00. Melaksanakan Shalat Tahajud berjamaah bersama Mas Araf kemudian saling menyimak bacaan Al-Qur'an sambil menunggu Azan subuh berkumandang.


Seperti kebiasaan istri pada umumnya, aku membuatkan kopi untuk Mas Araf, kemudian menikmati kopi bersama, sarapan bersama, dan terakhir Mas Araf mengantar ku ke kampus, berpisah dalam keadaan berat.


"Bi... Apa kau tahu hari ini kita kedatangan Profesor baru?" Adel, sahabat baik ku sejak semester awal bertanya kegirangan.


"Profesor baru? Aku tidak tahu. Untuk apa Profesor baru? Bukankah Pak Damar masih ada?"


"Kau benar-benar ketinggalan gosip. kabarnya..."


"Stop!" Aku menyela ucapan Kristi sambil menutup bibirnya dengan tangan kanan ku.


Adel dan Kristi, kami benar-benar sangat dekat. Kami mulai menjalin persahabatan sejak menjadi Mahasiswi baru di kampus bergengsi tempat kami menuntut ilmu. Kristi si biang rusuh, sementara Adel si ratu drama. Entah kenapa aku mudah akrab dengan mereka padahal aku sangat jauh berbeda dari mereka.


"Aku tahu apa yang akan kau katakan, jadi jangan di lanjutkan. Aku tidak suka bergosip." Celoteh ku sambil berjalan meninggalkan Adel dan Kristi. Dua gadis aneh itu hanya bisa mendengus kesal.


Di dalam kelas, aku duduk di bangku paling depan. Aku sengaja memilih bangku paling depan karena aku sangat mengenal Adel dan Kristi, sekali saja aku menuruti keinginan mereka untuk duduk di bangku bagian belakang maka mereka tidak akan membiarkan ku fokus untuk belajar, bibir mereka tidak akan berhenti bergosip.


"Aku menantikan Profesor datang. Kenapa dia lama sekali?" Ucap Adel sambil memainkan rambut barunya.


Rasanya aku ingin tertawa lepas mendengar ucapan Adel, selama aku mengenalnya tak sekali pun ia berharap Dosen datang.


"Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan kau mulai antusias belajar? Apa pristiwa yang menimpa pak Damar membuat mu prustasi?" Kristi bertanya sambil menatap Adel dengan tatapan tajam.


Aku yang mendengar ucapan kedua gadis rusuh itu hanya bisa menggelengkan kepala tak percaya.


"Kabarnya Profesor baru itu sangat tampan. Dia lulusan Madinah, siapa tahu aku cocok dengannya kemudian aku bisa berubah seperti Sabina, maksud ku menggunakan baju kurung itu." Celoteh Adel sambil menunjuk gamis biru yang ku pakai.


"Oooo, jadi masalahnya dia sangat tampan? Bukan karena kau tertarik untuk belajar!" Aku ikut nimbrung kedalam percakapan Adel dan Kristi.


"Ini bukan masalah sederhana Bina! Kau si enak, kau sudah menikah, suamimu sangat tampan dan karirnya di rumah sakit juga bagus. Lah kami apa?" Kristi berucap sambil mencubit hidung bangirku. Tidak ada balasan dariku selain helaan nafas kasar.


"Dia datang." Rania yang sejak tadi menunggu di depan pintu berucap dengan semangat yang menggebu-gebu.


Dia datang, itu maksudnya pasti Profesor baru. Pak Damar dosen mesum yang berkali-kali terlibat skandal yang sama dengan mahasiswi binaannya terpaksa harus mengundurkan diri karena tidak mengindahkan peringatan Rektor, aku berharap kali ini akan ada suasan berbeda.


Kelas yang tadinya riuh berubah senyap hanya dalam hitungan detik saja, begitu sosok yang di nantikan datang semua mata menatapnya dengan tatapan takjub, Profesor baru itu memang tampan, dan itu tak bisa di bantahkan. Setampan-tampannya dia, Mas Araf ku lah yang terbaik.


Sabina... Sabina, ada apa dengan mu, kau malah membandingkan suami mu dengan Profesor baru mu? Tapi... Apa dia benar-benar Profesor baru di kelas kami? Bagaimana bisa? Aku bergumam di dalam hati sambil menatap wajah rupawan yang saat ini masih berdiri di depan kelas.


...***...