Mr Love Love

Mr Love Love
Mr.Amerika



Aku semakin mempercepat langkah kaki ku, menghampiri Morgiana yang terlihat semakin menggigil. Tidak tahu ada apa dengannya sampai dia terlihat sangat kacau.


Apa Mama memarahinya? Apa dia mencoba kabur dari rumah? Apa dia kesasar? Ayo Sabina temukan alasan yang tepat! Aku bergumam di dalam hati sambil meremas kedua jemari ku.


"Ada apa dengan mu? Apa kau tidak waras? Apa kau anak kecil? Kenapa kau bermain hujan di cuaca seburuk ini?" Aku mencecar Morgiana dengan pertanyaan-pertanyaan aneh ku. Kekahwatiran ku melebihi kekuatan ku. Dia satu-satunya sepupu yang ku punya, aku tidak ingin dia terluka.


"Tunggu sebentar, aku akan menghubungi seseorang!" Pinta ku pada Morgiana setelah dia mulai bisa berdiri tegap.


Assalamu'alaikum, Mas Araf. Aku mau minta tolong, apa aku bisa masuk dan menggunakan kantor mu sebentar? Sepupu yang dulu pernah ku ceritakan terlibat masalah. Aku pikir menggunakan kantor mu sebentar saja akan jauh lebih baik untuk ku dan sepupuku.


Aku berusaha mengirim pesan untuk Mas Araf, aku tahu saat ini dia pasti masih berkendara, mengirim pesan singkat akan jauh lebih baik dari pada mendengar suara merdunya secara langsung.


Tidak perlu meminta izin, Honey. Lakukan apa pun yang kau inginkan. Jika butuh bantuan segera minta OB datang ke kantor ku untuk membantu mu. I love you.


Membaca pesan balasan dari Mas Araf membuat ku mengukir senyuman. Ia begitu cepat menanggapi pesan ku.


"Ayo, kita harus pergi. Kau harus mengganti pakaian mu. Aku tidak ingin kau sakit, jika Auntie Begum tahu kondisimu seburuk ini, kau tidak akan pernah mendapatkan kesempatan liburan ke Negara indah ini lagi." Celoteh ku sambil menuntun tubuh menggigil Morgiana.


Lima menit kemudian aku sudah berada di kantor Mas Araf, kantornya cukup luas. Berlama-lama di kantor Mas Araf tidak akan membuat bosan karena kantornya sengaja di dekorasi dengan tampilan yang menawan dan nyaman.


"Syukurlah kau baik-baik saja. Sekarang katakan, apa yang kau pikirkan sampai terjebak di tengah derasnya hujan?" Aku bertanya sambil menatap tajam kearah Morgiana yang baru keluar dari toilet hanya menggunakan handuk yang menutupi setengah tubuhnya.


"Kau tertawa? Aku sedang marah padamu!" Ucap ku lagi, kali ini aku berjalan mendekati Morgiana. Senyumnya, tawanya, terlihat menakutkan.


"Kau tidak pernah berubah. Santai!" Ujar Morgiana tanpa menghiraukan ucapan ku.


"Santai apa maksud mu? Aku bahkan berpikiran bodoh dan menganggap Mama memarahimu? Katakan pada ku, apa yang kau lakukan di tengah hujan? Apa kau sangat prustasi sampai ingin dirawat di rumah sakit?" Tidak tahu kenapa aku sangat kesal, entah dari mana datangnya kekesalan ini sampai membuat ku ingin menyentil jidat Morgiana.


"Sebenarnya aku...!"


Tok.Tok.Tok.


Ucapan Morgiana tertahan di tenggorokannya begitu pintu di ketuk dari luar.


"Kau masuk saja kekamar mandi, aku akan membuka pintu. Yang datang pasti OB yang membawa pakaianmu." Ucapku sambil mendorong pelan tubuh Morgiana menuju toilet. Setelah itu aku berjalan kearah pintu.


"Nyonya, ini bajunya dan ini uang kembaliannya."


"Ambil saja uang kembaliannya. Aku sengaja memberi lebih, sama sekali bukan untuk merendahkan Ibu, tapi sebagai bentuk terima kasih ku karena Ibu sudah membantu ku." Ujar ku pada OB wanita itu, ku tebak usianya sekitar lima puluh tahun.


"Terima kasih Nyonya. Pak Direktur sangat beruntung mendapatkan Nyonya sebagai pendampingnya. Semoga kalian di jauhkan dari mata jahat."


"Ini, pakai baju mu!" Ucap ku pada Morgiana sambil menyodorkan gaun di atas lutut miliknya.


"Apa kau tidak risih? Pakaian itu terlalu seksi untuk ukuran pakaian orang Indonesian." Aku menatap gaun yang ada di tangan Morgiana dengan tatapan risih. Walau dalam mimpi sekalipun aku tidak akan pernah bisa memikirkan menggunakan baju aneh itu.


"Sabina, I'm from Kanada. Ini hal biasa, aku bahkan sering menggunakan bikini saat berada di pantai."


Morgiana terkekeh sambil menatap ku dengan tatapan heran. Sementara aku? Aku tidak bisa berkata-kata, sekujur tubuhku merinding mendengar pengakuan singkatnya.


"O iya, tadi kau bertanya kenapa pakaian ku basah, kan? Jawabannya, aku sangat bahagia. Hari ini aku sangat bahagia sampai-sampai aku tidak sadar keluar dari taksi. Aku melihat seseorang yang sangat ku rindukan. Aku melihatnya, sayangnya dia tidak melihat ku."


"Si-siapa orang yang kau maksud? Ini pertama kalinya kau datang setelah belasan tahun berlalu. Bagaimana kau bisa mengenal orang lain selain keluarga kita?


Jangan terlibat dengan orang asing. Tidak semua orang bisa bersikap baik di tempat ini, aku takut kau akan terluka. Jika itu sampai terjadi, Mama mu. Alias Tante ku pasti akan murka pada keluarga kita." Celoteh ku sambil menuangkan teh hijau ke dalam cangkir.


"Kau tenang saja, Bina. Itu tidak akan terjadi. Tidak ada yang akan berani menyakiti ku. Kau tahu sendiri kan aku tidak akan membiarkan diriku dekat dengan siapa pun kecuali aku merasa nyaman berada di sisinya." Ujar Morgiana sambil memperhatikan detail dekorasi kantor Mas Araf.


"Suami mu cukup moderen. Maksud ku gaya dekorasi kantornya. Posisinya di rumah sakit ini juga lumayan tinggi. Direktur, itu tidak buruk. Antara beruntung dan tidak!" Ujar Morgiana lagi. Kali ini dia menatap ku dengan tatapan yang sulit ku artikan.


Antara beruntung dan tidak? Ucapan singkat Morgiana terasa berputar-putar di memori otak ku, entah apa yang di pikirkan gadis aneh itu, dia tersenyum namun gerakannya seolah meledek ku.


"Apa maksud mu? Aku tidak mengerti!"


"Sabina, kau itu pintar. Maksud ku, kenapa kau memberikan izin pada Auntie Nani untuk memaksamu menikah. Usia mu baru menginjak dua puluh tiga tahun, sementara suami mu sangat dewasa. Bukankah kau bilang usianya sama dengan Brother Alan? Itu terlalu tua untuk mu!"


"Morgiana, aku baik-baik saja. Maksud ku, suami ku pria yang baik. Dia mencintai ku, dia menghormati ku, dia juga menyayangi ku dengan sepenuh hatinya, itu sudah cukup untuk ku. Lagi pula, kau tidak akan mengerti tentang perjodohan dan perasaan cinta untuk suami ku. Sekarang katakan, siapa orang yang kau lihat sampai kau tidak ragu untuk mengejarnya di tengah-tengah hujan?" Aku kembali bertanya pada Morgiana. Pertanyaan yang sama, pertanyaan yang sejak tadi aku ingin mendengar jawabannya.


"Aku melihat orang yang ku kenal, dan dia orang yang sangat ku rindukan. Aku tidak pernah merindukan orang lain seberat rasa rinduku padanya. Akhirnya tujuan ku untuk datang ke Negara ini terpenuhi juga."


Netra ku membulat mendengar ucapan singkat Morgiana. Bagaimana bisa gadis seperti dirinya masih terlibat dengan masa lalu, kemudian mencarinya sampai sejauh ini. Aku yakin orang yang dia maksud pasti bukan seorang gadis. Apa mungkin dia sedang membicarakan mantan kekasihnya? Entahlah, aku sendiri tidak bisa menebak jalan pikirannya.


"Apa maksud mu? Jadi kau datang kemari bukan karena merindukan keluarga mu? Aku yakin jika Mama mendengar ucapan mu beliau pasti sedih.


Ya sudah lah, abaikan semuanya. Sekarang katakan, siapa yang kau cari sampai membuat mu rela berjalan satu kilo meter di tegah hantaman hujan?" Aku kembali menatap Morgiana, kali ini dengan tatapan prihatin. Aku prihatin karena tidak akan mudah baginya untuk menemukan orang yang di inginkan oleh hatinya.


"Mr.Amerika! Aku mencarinya, dan aku sangat merindukannya."


Kali ini aku ingin tertawa lepas, namun sekuat tenaga aku berusaha untuk menahannya. Aku benar-benar heran kenapa Morgiana harus datang ke Indonesia hanya untuk mencari Mr.Amerika-nya. Seharusnya dia pergi saja ke Amerika. Setidaknya itu logika yang tepat untuk kasus anehnya.


...***...