
"Ada apa ini?" Aku bertanya sambil menatap tajam kearah pria yang terlihat marah.
Araf... Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau tidak perlu terlibat dalam urusan orang lain. Batinku sambil melangkah mendekati dua orang yang saat ini sedang cekcok.
"Aku pimpinan rumah sakit ini. Apa kalian ingin di usir? Untuk apa kalian bertengkar? Jika kalian ingin bertengkar silahkan cari tempat lain." Gerutuku sambil menatap secara bergiliran dua orang yang saat ini berdiri di depanku.
Aku kembali menatap tajam kearah pria muda yang saat ini telihat terbakar dalam kebencian. Entah apa yang membuatnya semurka itu? Matanya memerah, dan hal itu terlihat menakutkan.
"Maafkan kami Tuan. Semua ini salah saya, dia suami saya. Dia meminta agar saya membawakan makanan kesukaannya, sayangnya suster menghubungi saya kalau ayah saya dalam kondisi kritis. Saya tidak punya pilihan lain selain membawa seadanya." Ucap wanita muda itu dengan wajah merunduk.
Ku tatap kotak sarapannya, nasi putih, sup, krupuk, sambal yang di letakkan dalam mangkuk kecil. Dan ada lagi, dua paha ayam. Istrinya bilang, makanan seadanya? Dalam hati aku mendengus kesal, makanan sebanyak itu, dan pria kurang ajar ini masih berani membuat kekacauan.
"Jadi semua ini hanya karena hal sepele? Sekarang aku tahu kenapa dunia ini terasa menakutkan, itu semua karena ada orang tidak berguna sepertimu. Kamu membuat masalah kecil menjadi masalah besar. Apa kamu tidak bisa melihat keadaan? Ada kalanya kamu harus bersabar dan ada pula kalanya kamu harus berkorban, nikmati saja apa yang ada. Jika kamu tidak suka, pergi dari sini dan jangan mengganggu orang lain. Aku benci pengganggu." Celotehku sembari menatap kedua pasangan muda yang ada di depanku secara bergantian.
"Ini urusanku dan istriku, jadi jangan kurang ajar dengan ikut campur dalam urusan kami. Jika kamu pemilik rumah sakit ini maka aku adalah seorang Raja. Jadi, aku berhak melakukan apa pun yang di inginkan hatiku." Balas pria muda itu.
Ku tebak usianya sekitar dua puluh limaan, entah Iblis seperti apa yang menguasai jiwanya? Kenapa pria tidak berguna ini sangat kasar? Ku akui aku memang tidak seharusnya masuk dalam urusan mereka, tapi dia juga tidak seharusnya membuat keributan besar. Bukankah aku berhak mengusir orang yang yang membuat kegaduhan di rumah sakit yang ku pimpin? Dan aku pasti akan mengusirnya, jika ada yang tidak setuju maka aku tidak perduli itu.
"Dengar, aku tidak perduli denganmu ataupun dengan istrimu. Yang ku perdulikan jangan membuat keributan disini. Jika kamu tidak suka di atur, silahkan pulang dan bawa ayahmu." Ucapku tegas, amarahku tersulut mendengar ucapannya sebelumnya. Entah mimpi apa aku semalam sampai harus berhadapan dengan kekonyolan ini.
"Apa kamu ingin membanggakan dirimu lantaran menjadi orang kaya? Cihhh! Tidak berguna!" Ucap pria itu lagi.
Wahhhh.... Aku sangat kesal. Aku sudah tidak tahan lagi, harus ku apakan bajingan tengik ini agar dia tidak lagi mengatakan omong kosong? Batinku masih dalam keadaan menahan amarah yang hampir saja meledak.
"Nona, jaga suamimu. Jika tidak, aku pasti akan kehilangan kendali." Ucapku sambil mengepalkan kedua tangan.
Hahaha!
Pria kurang ajar itu terkekeh, namun gerakan tangannya seolah sedang meremehkan istrinya yang saat ini ada di depannya.
Gdebukk!
Satu tonjokan mendarat tepat di wajah tidak tahu malu pria itu. Aku tahu ini akan terjadi, dan buruknya amarahku seolah membutakanku. Wajahnya terlihat tampan, namun apa gunanya ketampanan itu jika tidak di barenagi dengan kelakuan baik.
"Pergi dari sini." Ujarku dengan nada suara pelan, aku tidak ingin memakinya di depan keluarganya yang sedang sakit parah.
Araf... Tahan amarahmu. Batinku sambil menyeret pria itu keluar dari ruang rawat inap. Aku menarik kerah bajunya dengan kasar, sementara istrinya hanya bisa menangis pilu. Ku tatap wajah wanita muda itu, pipi kanannya terlihat lebam. Ku tebak, pria kurang ajar ini pasti menampar istrinya jauh sebelum aku datang.
"Lepaskan aku, bajingan. Lepas!" Ucap pria itu berontak.
Sayangnya, amarah telah menguasai jiwa dan ragaku. Aku terlalu kesal sampai tidak menghiraukan celotehannya.
Gdebukkk!
Aku mendorongnya kasar sehingga tubuh jangkung itu membentur dinding. Ku tutup pintu dengan cepat agar tidak mengganggu ayah mertuanya yang masih terbaring tak sadarkan diri karena oprasi yang di jalaninya semalam.
"Ada apa ini?"
"Keributan? Di rumah sakit?"
Puluhan pasang mata menatap kami dengan tatapan heran. Aku bahkan mendengar orang saling bertanya.
"Haha! Jangan bicara omongan kosong. Apa kau tahu? Aku tidak pernah mendengar lelucon semenggelikan ucapanmu." Balasku dengan wajah mengukir senyuman.
"Kamu ingin di hormati? Rasa hormat tidak di dapatkan dengan cara memperlakukan wanita dengan kasar.
Rasa hormat itu di dapatkan dari sikap sabar, kebijaksanaan dan juga sikap mengayomi sesama manusia. Rasa hormat itu pun tidak bisa di dapat dengan keangkuhan yang kamu tunjukan. Jika kamu ingin di hormati maka hormati orang lain, dan hormati istrimu, istri yang selalu menemanimu dalam suka dan duka.
Hormati wanita karena dari rahimnya kamu tumbuh menjadi pria yang gagah. Kamu bahkan tidak menghormati dirimu sendiri dan kamu memintaku untuk menghormatimu? Omong-kosong!" Ucapku dengan raut wajah yang masih menunjukkan amarah.
"Penjaga. Penjaga. Usir pria kurang ajar ini." Teriak pria yang ada di depanku. Matanya merah menyala. Ia mendengus kesal seolah akan menerkamku hidup-hidup.
Si payah ini memanggil penjaga? Dasar tidak berguna! Batinku sambil melipat tangan di depan dada.
Lima menit kemudian empat penjaga datang sambil berlari menembus kerumunan yang menatap kami dengan tatapan takut. Untuk pertama kalinya dalam sejarah karirku, aku terlibat dalam urusan seperti ini.
"Siapa yang membuat keributan?" Ucap Pak Warsito begitu ia datang dan berdiri di samping pria itu.
"Dia." Ucapku dan pria itu bersamaan, kami bahkan saling menunjuk pasrah.
"Pap-pak... Anda ada di-si-ni?" Pak Warsito bertanya sambil menatapku, sedetik kemudian ia merunduk hormat.
"Singkirkan pria tidak berguna ini dari hadapanku, aku tidak ingin melihat wajahnya. Melihatnya membuat ingin menghajarnya."
"Ba-baik, Pak." Balas Pak Warsito, penjaga yang sudah mengabdikan setengah hidupnya di rumah sakit ini, rumah sakit Aleta City Hospital.
"Kenapa anda takut padanya, aku yang memanggil anda, berani sekali anda merunduk pada pria kurang ajar itu." Ucap pemuda itu dengan nada suara tinggi.
Plakkkk!
Satu tamparan di layangkan Pak Warsito di wajah pria itu, sedetik kemudian pukulan keras kembali mendarat di perut ratanya.
Ahhhhh! Ssssttttt!
Dia meringis dan di sambut oleh isakan tangis istrinya.
"Tutup mulutmu, Beliau adalah Direktur rumah sakit ini. Berani sekali manager kantin sepertimu berkata kurang ajar tentang Tuan Araf."
Aku terbelalak, tak percaya dengan apa yang kudengar.
"Tunggu sebentar! Jadi kalian saling mengenal? Manager kantin? Maksud Pak Warsito pria ini berkerja disini?"
"Iya, Pak. Pria ini bekerja di sini." Jawab Pak Warsito menyesal. Di samping Pak Warsito berdiri seorang dokter wanita. Sepertinya dia dokter yang bertugas di kamar pasien 501, kamar tempat ayah mertua pria kasar itu di rawat.
"Usir pria ini dari tempat ini. Dan satu lagi, tempatkan perawat di kamar ini untuk menggantikan wanita itu jika sesekali dia meninggalkan rumah sakit." Ucapku sambil menunjuk kearah istri pria itu. Tatapannya terlihat kosong, sepertinya dia sangat shock dengan apa yang terjadi.
Amarah itu seperti api yang membakar jiwa, tidak akan ada ketenangan selama hati di penuhi oleh permusuhan.
...***...