Mr Love Love

Mr Love Love
Amarah (Sabina)



Tiga jam lagi aku harus berangkat kerumah Mama. Tiga jam lalu beliau menelpon dan memintaku agar berkunjung ke Mansion Wijaya, atau tepatnya rumah tempatku menghabiskan setengah dari hidupku.


Sejujurnya sejak semalam aku sangat merindukan Mama, aku ingin tidur di pangkuannya. Sayangnya, aku tidak bisa melakukan itu karena saat ini ada Mas Araf di sisiku. Seburuk apa pun keadaanku, aku tidak bisa bergantung lagi pada Mama karena aku tidak mau membuat beliau resah dengan masalahku. Atau tepatnya aku tidak ingin membuat Mama bersedih gara-gara kehadiran Morgiana di tengah-tangah kehidupan rumah tanggaku.


Tok.Tok.Tok.


Netra teduhku menatap tajam kearah pintu, aku yakin itu Mbak Tuti yang memanggil ku untuk sarapan.


Sarapan?


Haha! Bukan sarapan lagi namanya karena ini untuk yang ketiga kalinya, entah kenapa sejak kehamilanku, aku mudah sekali lapar, padahal Kak Fatimah tidak bisa mencium apa pun yang bersumber dari dapur. Sungguh aku kebalikannya, aku tidak bisa jauh dari makanan, bahkan sekarang berat badanku naik sekitar empat kilo. Dan tentu saja itu bukan masalah besar, baik untukku ataupun untuk Mas Araf.


"Masuk!"


Sedetik kemudian senyuman Mbak Tuti memenuhi indra penglihatanku.


"Nyonya... Roti lapis yang Nyonya minta sudah saya siapkan di atas meja. O iya, satu lagi. Tadi Tuan menelpon, beliau bilang, jika Nyonya jadi pergi kerumah Bu Nani, beliau sudah menyiapkan hadiah di ruang kerjanya. Mas Amri ada di bawah, dia yang akan mengantar Nyonya." Ucap Tuti begitu begitu ia berdiri tak jauh dari ranjang tempatku berbaring.


"Baiklah, aku akan segera turun. Minta Amri memasukkan hadiah yang sudah di siapkan Mas Araf." Balasku sambil beranjak dari tempat tidur.


Tidak butuh waktu lama, sekarang aku sudah ada di lantai bawah, duduk manis sambil menikmati roti lapis yang disiapkan Tuti. Sungguh, rasanya sangat lezat sampai aku tidak sadar telah menghabiskan dua potong, dan sekarang tersisa satu lagi, saat aku ingin menikmati potongan terakhir yang ada di piring, atau tepatnya potongan ketiga, netraku menangkap wajah sedih Rima yang berdiri di balik gorden dapur. Entah apa alasan anak manis itu, yang jelas dia terlihat sangat ketakutan.


"Rima, sayang. Apa yang kau lakukan disana, Nak? Ayo, kemari. Kita makan bersama!" Ucapku sambil berjalan mendekati Rima.


Tidak ada sahutan dari anak manis itu, ia hanya berdiri mematung, namun kepalanya tertunduk lemas.


"Hay, ada apa? Apa yang membuatmu sangat sedih? Apa Ibumu memarahimu? Lihat saja, Kakak akan balas memarahinya." Ucapku penuh penekanan. Aku hanya berusaha menghibur anak manis itu agar tidak merasakan sedih lagi.


"Nyonya, Rima bersikap aneh sejak kemarin malam. Dia bahkan tidak makan apa pun pagi ini. Dia terus saja meminta maaf untuk alasan yang tidak saya ketahui." Ujar Tuti sambil menuangkan air mineral di gelas yang terletak di atas meja.


"Ayo, kemari." Aku menggenggam jamari mungil Rima dan menuntunnya berjalan bersamaku menuju sofa ruang tengah.


"Mbak Tuti, ambilkan makanan untuk Rima." Ucapku sambil membelai wajah polos anak manis itu.


"Kakak cantik, Rima tidak lapar."


"Kakak cantik tidak akan bicara dengan mu lagi jika kau tidak makan." Ucapku memaksa.


"Saya sudah memaksanya Nyonya, tapi anak nakal ini bahkan tidak mau mendengarkan Ibunya." Celoteh Tuti sembari meletakkan sepiring nasi goreng sosis kesukaan Rima.


"Ooo... Jadi tanpa sepengetahuan ku, kau berubah menjadi anak nakal? Sekarang tidak ada alasan, kau harus menghabiskan makanannya atau kakak cantik tidak akan pernah bicara dengan mu lagi." Kali ini aku menatap Rima dengan tatapan tajam, agar terlihat menyakinkan, aku bahkan sampai mencubit hidung kecil Rima dengan gemas.


"Kakak minta maaf jika Kakak melakukan hal yang salah. Sekarang katakan, kenapa kau menangis? Aku bahkan belum menghukum mu karena membuat dirimu kelaparan."


"Kakak can-tik tidak per-lu minta maaf, yang harus min-ta maafff itu adalah Kakak penyihir." Balas Rima dengan derai air mata.


Kakak penyihir?


Seketika memoriku mengingat Morgiana, Kakak penyihir, itulah julukan yang di berikan Rima untuknya. Entah kelakuan buruk apa yang sudah di lakukan Morgiana di depan bocah manis ini sampai dia sangat di benci.


"Sayang, dalam agama kita, kita di anjurkan untuk saling berkasih sayang, membalas keburukan dengan kebaikan.


Kita tidak boleh membenci orang lain, kita juga tidak boleh menyimpan dendam. Sesungguhnya Allah sangat menyukai orang yang menebar kebaikan dari pada orang yang melakukan kerusakan. Kakak berkata seperti ini agar kau menjadi sosok yang tidak menyimpan dendam. Sesungguhnya amarah itu datang dari Setan. Sementara Allah? Allah mencintai orang-orang yang sabar." Ucapku panjang kali lebar.


"Sekarang katakan, kau ingin Allah mencintaimu karena termasuk orang yang sabar, atau kau ingin menjadi teman Setan karena menuruti hawa nafsu dan menyimpan dendam?" Aku bertanya sambil melepas pelukan Rima, sekarang anak manis itu terlihat lebih tenang.


"Rima tidak mau menjadi teman Setan, Rima janji Rima akan menjadi anak yang baik. Hanya saja Kakak penyihir itu..." Ucapan Rima tertahan di tenggorokannya, sementara netra teduhnya menatapku dengan tatapan peringatan.


"Kenapa kau berhenti? Katakan saja, Kakak cantik janji Kakak cantik tidak akan marah!" Ucapku menyakinkan.


"Kakak cantik harus menjauhi Kakak penyihir, dia tidak baik, dia jahat." Jawab Rima menegaskan, kali ini dengan kepala tertunduk.


"Tidak baik? Jahat? Apa maksudnya?" Aku bertanya dengan kebingungan tingkat tinggi.


"Maaf Nyonya, Rima pasti salah bicara, saya akan membawanya." Ucap Tuti tiba-tiba nimbrung kedalam percakapan kami yang terasa sedikit serius. Tuti berusaha menarik lengan Rima secara paksa, namun dengan kuat aku menepis tangannya, berusaha mencegah Rima agar tidak pergi.


"Katakan, Nak? Apa masalahnya?" Aku kembali bertanya dengan suara bergetar. Aku yakin Rima pasti mengetahui sesuatu yang luput dari pandanganku. .


Sabina, tahan amarahmu. Jangan sampai amarah membutakan hati dan pikiranmu. Aku bergumam di dalam hati sembari menanti ucapan apa yang akan keluar dari bibir bocah manis itu selanjutnya.


"Kakak cantik, sebenarnya saat pesta kemarin malam, saat Rima melihat kakak cantik terjatuh, Rima juga melihat Kakak penyihir tersenyum, dia menginjak gamis yang Kakak pakai dari belakang, dan hal itu membuat Kakak terjatuh, untunglah Tuan dokter bisa menangkap Kakak sehingga dedek bayi tidak terluka."


Duarrrrrrr!


Bagai disambar petir di siang bolong, sekujur tubuhku menegang. Tadi aku mengajarkan Rima untuk bersikap sabar, kali ini aku yang benar-benar tidak bisa melakukannya. Darahku terasa mendidih, mendengar ucapan Rima membuatku ingin menghajar Morgiana.


Aku menatap wajah Rima sembari berusaha menahan gejolak di hatiku, nyatanya hal itu tidak bisa menghilangkan amarahku. Sedetik kemudian aku bangkit dari tempat duduk ku dan berjalan sekuat tenaga menuju halaman depan tempat mobil terparkir.


...***...