
Alhamdulillah...
Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya aku kembali mengucapkan kalimat Syukur itu, entah kapan terakhir kali aku menyebutnya, aku benar-benar tidak ingat.
Dua jam berlalu akhirnya aku bisa keluar dari ruang oprasi dengan senyum mengembang di wajah tampan ku. Hampir saja aku berada dalam masalah, tiba-tiba saja jantung pasien yang ku oprasi berhenti. Untuk pertama kalinya dalam karir ku, aku menemukan kasus serumit ini. Jika tidak fokus dan tidak berhati-hati bisa saja status ku sebagai dokter penyelamat akan berubah menjadi tersangka pelenyap.
Aku tidak akan bisa hidup tanpa Sabina, karena itulah aku selalu berhati-hati dalam melakukan segala hal.
"Dokter, terima kasih sudah menyelamatkan ayah kami. Jika bukan anda yang menangani ayah kami semua ini tidak akan bisa terjadi. Sekali lagi terima kasih." Ucap seorang pria bertubuh tegap.
Sepatu lima juta, jas dua belas juta, kaca mata tujuh belas juta. Dan terakhir jam tangan dua puluh lima juta. Ku perhatikan sosok tegap yang masih berdiri di depanku, perkakas yang ia gunakan melebihi harga satu sepeda motor, tidak salah saat asisten ku mengatakan keluarga yang akan ku tangani berasal dari kalangan Sultan.
Entah dia seorang Sultan atau hanya sekedar kuli bangunan, bagiku mereka sama saja. Aku tidak pernah membeda-bedakan status pasien ku. Dan satu lagi, aku sangat benci dengan uang suap. Berada dalam posisiku saat ini tak jarang oknum norak dan menyebalkan datang sambil membawa sekoper uang hanya untuk menyogokku.
"Anda tidak perlu berterima kasih, karena itu merupakan tugas kami. Yang harus anda lakukan sekarang, biarkan saya pergi." Ucapku dengan suara datar.
"Dokter Araf, maaf. Ponsel anda tertinggal di kantin. Ibu kantin menitipkannya karena dokter tidak kunjung datang." Seorang perawat wanita menyodorkan ponsel padaku.
"Oohhh benarkah? Aku benar-benar tidak ingat meninggalkannya disana. Terima kasih." Ucap ku sambil tersenyum, sedetik kemudian aku meninggalkan perawat itu dan berjalan menuju Lift yang akan membawaku menuju kantor ku yang terletak di lantai lima.
"Apa yang di lakukan Sabinaku saat ini? Sebenarnya apa yang akan Mama lakukan dengannya? Jangan sampai Mama menjelek-jelekkan ku di depan Bidadari surga itu." Ucap ku pelan sambil membuka sarung tangan.
Seharian ini begitu banyak pekerjaan, tubuh ku terasa mati rasa. Aku rasa pulang dengan cepat kemudian menghabiskan waktu romantis dengan Sabina akan jauh lebih baik. Sayang sekali, aku bahkan tidak bisa berpikir untuk segera menyudahi pekerjaan ini. Di meja kerjaku masih ada beberapa berkas yang harus ku selesaikan sebelum senja.
Duarrrrr!
Bagai di sambar petir di siang bolong, aku sangat terkejut begitu melihat jam yang tergantung di dinding kantor ku. Aku tidak menyangka ternyata aku sangat bodoh, aku membicarakan harus mengerjakan pekerjaan ku sebelum seja. Senja mana yang ku bicarakan? Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 22.30 malam.
"Oh Tuhan, aku benar-benar bodoh. Kenapa aku bisa seceroboh ini?" Gerutu ku sambil bangun dari kursi kebesaranku, memakai jas kemudian meraih kunci mobil yang ku letakkan di dalam laci meja kerja ku.
Baru saja bersiap akan membuka pintu, sebuah panggilan yang bertuliskan 'Rumah' masuk di ponselku.
'Rumah' itu artinya panggilan datang dari rumah yang ku tempati dengan Sabina, awalnya aku tidak membutuhkan telpon rumah, tapi semenjak ketujuh Art itu datang aku mulai memikirkan memasang telpon rumah agar mereka mudah menghubungi, termasuk dalam memberi kabar keadaan Sabina saat aku tidak ada di rumah seperti saat ini.
"Hallo, ada apa?" Aku mengangkat panggilan dengan suara datar.
"Kenapa kau diam, apa aku harus memukul mu baru kau akan bicara?" Aku kembali berucap, kali ini dengan nada tinggi karena aku tidak mendengar suara dari pemilik suara di sebrang sana.
"Tu-tuan, tuan harus pul-lang, Nyonya Sabina..." Ucapan seseorang di sebrang sana terhenti dengan suara putus asa.
"Ada apa dengan istriku? Hallo." Aku kembali berucap dengan nada suara tinggi.
Tut.Tut.Tut.
Panggilan di akhiri tanpa ada kejelasan apa-apa. Aku mulai merasakan tubuh ku tegang. Jantungku berdetak sangat kencang. Darahku terasa mengalir sepukuh kali lebih cepat.
"Ada apa dengan Sabina ku? Jika terjadi hal buruk dengannya maka aku akan tiada!" Celoteh ku sambil berlari melewati koridor panjang. Aku masuk kedalam lift dengan derai air mata. Aku ingin segera sampai di rumah.
Seandainya aku tidak meninggalkannya sendiri!Seandainya aku tidak membiarkannya bertemu Mama! Seandainya, seandainya, ucapan itu kini memenuhi rongga dadaku. Aku takut, sangat takut sampai nafas ku terasa semakin sesak.
...***...
Mendengar suara teriakan ku, tujuh Art yang datang pagi ini langsung berkumpul di ruang tengah, mereka terlihat panik. Wajah mereka seratus persen memamerkan ketakutan. Aku tidak pernah menyangka akan membuat orang lain takut seperti ini, sayangnya aku tidak memperdulikan siapa pun karena sejatinya saat ini aku juga sedang ketakutan, ketakutan setengah mati.
"Di mana istriku?" Aku bertanya dengan tatapan membunuh. Aku bisa melihat ketujuh orang yang berdiri di depan ku dalam keadaan bergetar. Untungnya salah seorang dari mereka langsung menunjuk ke arah lantai atas tempat kamar ku dan Sabina berada.
Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari menaiki anak tangga dengan terburu-buru.
"Sayang... Say...!" Ucapan ku tertahan di tenggorokan begitu aku membuka pintu dan mendapati kamar ku dalam keadaan gelap.
Klik!
Netra ku membulat begitu aku menyalakan lampu dan mendapati kamar tidur ku di hias layaknya kamar pengantin baru. Sontak, memori ku kembali menggiring ku pada malam buruk itu, malam di mana aku membuat Sabina menangis karena pengakuan buruk akan masa laluku.
"Dimana Bidadari Surga itu?" Aku bertanya sendiri namun netraku menatap kearah balkon yang pintunya masih terbuka.
"Apa dia ada disana? Untuk apa? Malam ini sangat dingin." Celoteh ku sambil berjalan pelan.
Hampir saja air mata ku menetes melihat Sabina tertidur di meja, aku benar-benar bodoh, padahal tadi pagi Sabina bilang dia akan memasak untuk ku.
Hhmmmm!
Aku menghela nafas panjang sambil berjalan mendekati Sabina yang masih terlelap, dia menggunakan tangannya untuk mengganjal kepalanya.
"Maafkan aku! Lagi-lagi aku membuat mu kecewa. Aku benar-benar bodoh, bisa-bisanya aku melupakan hal yang paling penting dalam hidupku." Geruku sambil duduk di sisi kiri Sabina, aku menatap wajah terlelapnya dengan derai air mata.
"Maafkan aku karena mengacaukan makan malam romantis kita. Makan malam yang kau susun dengan sempurna." Aku mengelus pipi mulus Sabina kemudian melayangkan kecupan singkat di pipi kirinya.
"Mmmmm! Mas Araf sudah pulang? Kenapa tidak membangunkan ku?" Sabina bertanya dengan suara pelan, suara khas bangun tidur. Ia mengucek kedua mata dengan jemarinya, setelah itu ia tersenyum penuh kemenangan.
"Apa kau marah karena aku terlambat pulang?" Aku bertanya penuh penyesalan. Aku masih berlutut di lantai, nafasku terasa tak beraturan.
"Duduk di atas, setelah itu kita akan bicara."
"Katakan dulu, jika kau tidak mengatakannya aku tidak akan bisa tenang!" Balas ku masih dalam keadaan menatap Sabina, cahaya rembulan malam ini menjelaskan betapa mempesonanya Bidadari Surga yang ada di depan ku ini.
"Aku tidak marah. Aku tahu pekerjaan mu sangat banyak. Aku juga tidak kecewa karena aku tahu kau sangat mencintaiku." Ucap Sabina sambil menangkup wajah ku dengan jemarinya.
"Aku yakin Mas Araf pasti belum makan. Ayo kita makan, ini sudah terlambat. Setelah itu kita akan istirahat!" Sambung Sabina lagi.
Entah berapa lama Sabina menungguku, lilin-lilin yang ia nyalakan hanya meninggalkan bekas lelehan-lelehan yang menempel di lantai.
Lagi-lagi aku hanya bisa mengutuk diriku sendiri, karena sifat pelupa, aku malah membuat kesalahan besar, kesalahan ku karena mengacaukan makan malam romantis kami, dan aku berhak mendapat hukuman.
...***...