
Setelah perpisahan ku dan Mas Araf, Mama Riska membawaku ke tempat yang tidak ku ketahui tujuannya. Kami pergi dengan dua mobil, aku berada di mobil yang sama dengan Mama Riska, sementara mobil yang satunya di penuhi barang-barang.
Baju hangat, selimut, seprai, beras, makanan ringan, dan perlengkapan lainnya, semuanya tersedia di Mobil Boks yang mengikuti kami dari belakang.
Selama dalam perjalanan Mama Riska tidak pernah mengatakan apa pun, dia duduk dalam diam sambil menatap ke luar jendela mobil mahalnya. Aku sendiri tidak berani mengganggunya karena aku takut dia akan merasa tidak nyaman.
Saat ini mobil kami memasuki gerbang besi dan berhenti di bangunan seluas satu hektar, setiap sisi tempat ini di hias dengan sangat indah. Di halaman depan terdapat pancuran air, di sisi kiri halaman terdapat taman dengan berbagai macam bentuk bunga. Di antara semua bunga yang ada di taman itu aku paling menyukai Anggrek. Dan satu lagi, Mawar merah.
Aleta Orphan!
Di depan rumah terdapat pelang besar bertuliskan 'Aleta Orphan' Untuk sejenak memoriku terhenti pada nama Aleta, aku ingat nama itu nama saudari Mas Araf yang telah tiada.
Kenapa Mama Riska membawa ku ketempat ini? Apa ada yang special dengan tempat ini? Aku bergumam di dalam hati sambil mensejajarkan langkah kakiku dengan Mama Riska.
Mobil Boks di buka dan beberapa petugas panti keluar untuk membantu mengeluarkan isinya, aku pikir Mama Riska sudah mengabarkan pihak panti kalau kami akan datang. Buktinya begitu kami turun dari mobil beberapa penjaga berbadan tegap dengan sigap berlari menghampiri kami.
"Selamat sore Nyonya, anda sudah sampai?" Seorang wanita separuh baya menghampiri kami tanpa melepas senyuman dari wajah pucatnya.
"Bu Se'an sakit? Kenapa tidak pernah mengabari ku? Jika aku tahu, aku akan berkunjung lebih awal." Ucap Mama Riska sambil memegang pundak wanita separuh baya yang beliau panggil Se'an.
"Itu tidak perlu Nyonya, kami juga tahu Nyonya sangat sibuk. Ini hanya demam biasa, hanya dengan minum obat juga sudah cukup." Ujar Wanita separuh baya itu sambil menatapku dengan tatapan heran.
"Aahhh iya, aku sampai lupa. Perkenalkan, dia menantuku, namanya Sabina, dia istri-nya Araf."
Mendengar ucapan Mama, wanita separuh baya itu langsung memelukku. Aku tidak mengenalnya, bukankah dia bersikap berlebihan? Apa pun alasannya aku hanya bisa tersenyum sambil membalas pelukan hangatnya.
"Maaffff! Aku minta maaf Nyonya, aku lepas kendali karena melihat Nona Sabina!"
"Apa Bu Se'an mengenalnya? Dia datang untuk pertama kalinya, tapi Bu Se'an bersikap seolah Ibu sudah lama mengenal Sabina."
"Hehe... Nyonya benar, dari pagi saya benar-benar ingin menemui Nona Sabina. Akhirnya Allah mengabulkan keinginan saya."
"Dari pagi? Saya tidak pernah tahu ada tempat seindah ini, lalu bagaimana Ibu bisa mengatakan ingin bertemu saya?" Aku bertanya karena penasaran, aku rasa Mama Riska juga penasaran sama seperti ku.
"Pagi ini Tuan Muda Araf berkunjung bersama tujuh tim dokternya, beliau meninggalkan obat untuk persediaan selama sebulan, beliau juga memeriksa keadaan anak-anak dengan perasaan bahagia."
"Apa? Mas Araf datang? Dia tidak mengatakan apa pun?" Aku bertanya dengan mata membulat.
Hahaha!
Bukannya menjawab pertanyaanku, Bu Se'an malah terkekeh sambil menutup bibir dengan tangan kanannya.
"Tuan Muda Araf bilang, saat nona Sabina terkejut, wajah Nona Sabina terlihat seperti kelinci lucu.
Tuan baru saja pergi, beliau pergi dengan terburu-buru, katanya ada oprasi darurat di rumah sakit. Dari cara Tuan muda menyanjung Nona Sabina, Ibu yakin Tuan Muda Araf sangat mencintai Nona Sabina.
Saya berdoa semoga Allah melindungi keluarga Tuan Muda Araf dan Nona Sabina dari mata jahat, sehingga tidak ada duka sekecil apa pun yang mengusik kebahagiaan kalian." Ucap Bu Se'an emosional. Dia bahkan sampai meneteskan air mata.
Dalam hati aku meng-Aamiin kan ucapan Bu Se'an. Aku tidak pernah menyangka Mas Araf akan melakukan kegiatan sosial sebesar ini. Satu lagi kebaikan Mas Araf mulai terangkat di permukaan dan hal itu semakin membuat ku menghormatinya.
Tanpa berucap sepatah kata aku dan Mama Riska beranjak meninggalkan halaman depan Panti Asuhan Aleta dan mengikuti langkah Bu Se'an memasuki bangunan luas yang sengaja di bangun layaknya sebuah rumah.
...***...
Setelah lelah bermain, membagikan hadiah dan perlengkapan sekolah untuk anak-anak manis itu, Mama Riska mengajakku kesebuah ruangan khusus yang terletak di bagian belakang Aleta Orphan.
Di dalam ruangan itu terdapat banyak Foto. Dalam setiap foto yang tergantung di dinding ada seorang bocah menggemaskan yang memeluk seorang gadis, senyuman khas bocah manis itu menjadi daya tarik tersendiri.
Mataku menyipit, keningku berkerut mencoba menebak siapa gerangan bocah itu. Sayangnya aku tidak menemukan jawaban apa-apa, aku juga tidak bisa bertanya pada Mama Riska, aku takut dia akan semakin emosional.
Walau aku tidak pernah bertemu dengannya, aku sangat yakin kalau gadis yang ada di dalam foto itu adalah Kak Aleta, apa mungkin anak yang bersama kak Aleta itu...
"Anak yang ada di dalam Foto ini Aleta dan Araf." Ucap Mama Riska dengan suara pelan. Mama Riska berucap seolah dia mengetahui jalan pikiran ku, apa rasa penasaran begitu terlihat di wajahku? Entahlah, aku sendiri tidak tahu itu.
"Aleta dan Araf. Mereka saling menyayangi. Saat Aleta pergi, Araf sangat terpukul. Sebelumnya Araf sangat menghormati Papanya, tapi setelah Aleta tiada rasa hormatnya hanya tinggal kenangan saja, Araf tidak bisa makan di meja yang sama dengan papanya, dia juga tidak bisa bernafas di bawah atap yang sama. Melihat itu, Mama rasanya ingin tiada saja."
Dag.Dig.Dug.
Jantungku berdetak sangat cepat, bagaimana Mama Riska mengatakan ingin tiada dengan sangat mudah. Tanpa berpikir panjang aku langsung memeluk tubuh Mama Riska yang terlihat mulai lemah, aku membantunya duduk di sofa kemudian mengambil segelas air yang terletak di atas meja dekat sofa.
"Ma, minum dulu airnya."
Mama Riska langsung meminum air yang ku berikan, namun air matanya tak berhenti menetes. Ternyata di balik sikap galaknya terdapat beribu-ribu luka yang belum sembuh sepenuhnya. Luka karena di tinggal tiada oleh anak gadisnya, dan luka yang di timbulkan oleh putra tampannya karena membenci suaminya.
"Mama tidak perlu mengkhawatirkan Mas Araf, aku akan mengembalikannya menjadi Araf seperti yang Mama inginkan.
Mungkin tidak akan mudah, tapi aku percaya, bila cintaku murni maka dia akan berubah menjadi putra yang Mama inginkan dan suami yang ku banggakan." Ujarku sambil menggenggam jemari Mama Riska.
Aku bisa melihat dengan jelas cahaya harapan mulai menyala dari netra teduh Mama Riska. Dia terlihat bahagia.
"Apa itu benar sayang? Apa kau benar-benar akan melakukannya?"
Aku mengangguk mendengar ucapan Mama Riska, sedetik kemudian aku kembali memeluk tubuh lemahnya.
"Terima kasih, Nak. Mama tidak salah memilihmu menjadi menantu. Ada hal besar yang Mama lihat darimu, dan hal itu tidak Mama temukan dalam diri gadis lain. Karena itulah Mama ngotot ingin menyatukan mu dengan putra nakal Mama." Untuk sejenak Mama Riska mulai terdiam, dia merunduk. Entah apa yang di pikirkan oleh otak kecilnya sampai Mama tidak berani menatap ku.
"Maafkan Mama karena memaksamu menerima putra nakal Mama, kau bagai berlian yang tersimpan dalam gelas kaca. Sementara putra Mama?" Mama Riska kembali diam, kali ini beliau mulai meneteskan air mata lagi.
"Jangan katakan itu, Ma. Sabina tahu masa lalu Mas Araf sangat buruk, walau sudah tahu seperti itu Sabina tetap saja tidak bisa meninggalkannya. Doa kan Sabina agar bisa menjadi menantu yang baik untuk Mama dan Papa, dan doakan juga Sabina agar bisa menjadi istri yang baik untuk putra nakal Mama." Celotehku sambil menatap Mama Riska.
Semenit kemudian kami sama-sama diam, setelah itu kami berdua tertawa lepas.
Sekarang aku semakin mengenal Mas Araf, dia memang memiliki masa lalu yang buruk, tapi di balik semua itu dia memiliki hati yang baik dan juga tulus. Karena mencintai kakaknya dia bahkan sampai mendirikan panti asuhan atas nama Kak Aleta. Sungguh, aku benar-benar bangga padanya dan aku semakin mencintainya.
...***...