
Tanpa pemberitahuan, aku berjalan menyusuri setiap lorong rumah sakit, melihat cara kerja setiap pegawai. Di mulai dari Dokter dan Perawat. Rumah sakit yang ku kepalai harus tetap berada di angka satu, maksudku terbaik di kota.
Aku menatap tajam kearah tong sampah yang terletak di dekat ruang oprasi, beberapa sampah bekas obat-obatan berserakan di lantai, aku sendiri tidak tahu sejak kapan tong sampah itu mulai di abaikan, padahal ruang oprasi adalah jantung rumah sakit ini.
"Kemari?" Aku melambaikan tangan kearah dua pria yang sedang sibuk mengepel lantai.
"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa kami bantu?"
"Kenapa sampah bekas medis ini masih ada disini? Apa kalian menunggu ku untuk membuangnya?" Aku bicara dengan nada ketus, dua pria muda yang berdiri di depanku terlihat gugup
Aku adalah direktur rumah sakit ini, untuk apa aku mengurusi masalah sampah? Jawabannya sangat sederhana, aku tidak suka hal berantakan, apa lagi itu di tempat kerjaku. Melihat kekacauan ini membuat amarahku meledak begitu saja.
"Bersihkan semua ini, jika tidak kalian yang akan menghilang dari tempet ini." Gerutuku sambil menatap tajam kedua pria muda itu.
Aku tahu bertindak semena-mena itu tidak di perbolehkan, hanya saja aku merasa kesal melihat kekacauan ini.
"Ba-baik, Pak. Akan kami bersihkan."
"Bagus. Mulai saat ini, tugas kalian memastikan agar tempat ini bersih. Aku tidak suka hal yang kotor.
Dan satu lagi, martabat seorang pria dinilai saat dia bukan seorang pengangguran. Kalian bekerja disini dan kalian di gaji oleh pihak rumah sakit, jangan sampai kalian memakan gaji buta. Aku benci mengetahui salah satu pegawaiku bermalas-malasan, aku berharap hal seperti ini tidak terjadi lagi. kalian paham?"
"I-iya, Pak. Kami janji hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi." Janji pria muda yang berdiri di depanku.
"Bagus!" Sambungku lagi, kali ini aku kembali berjalan menyusuri setiap bagian rumah sakit dan berakhir kembali di kantorku.
"Sudah waktunya ke Kafe, hari ini aku akan mengakhiri segalanya. Aku bilang aku akan mengakhiri segalanya tapi wanita tidak waras itu selalu saja menempel seperti bayangan. Harus ku apakan agar dia bisa jera?" Celotehku sambil menatap arlogi yang melingkar di tangan kiriku.
Aku meraih jas yang ku sampirkan di sandaran kursi kemudian berjalan meninggalkan kantor ku lagi, sebenarnya aku malas bertemu dengan wanita tidak waras itu, hanya saja aku tidak punya pilihan lain.
Ada saatnya aku mencintai Reem sangat dalam sampai aku tidak bisa bernafas dengan tenang tanpa melihat wajah cantiknya. Dan ada saatnya juga aku membenci Reem sampai ingin mual karena merasa kesal padanya. Inilah alasannya kenapa seseorang di anjurkan mencintai sekedarnya saja karena bisa saja rasa cinta itu akan berubah menjadi kebencian seperti yang ku rasakan saat ini.
Araf... Kau bisa melakukannya. Kau juga bisa menyingkirkan Reem dengan mudah. celotehku dalam hati sambil menatap pantulan wajah ku di cermin.
...***...
Waktu menunjukan pukul 12.00 ketika aku sampai di Restorant. Tadinya aku membuat janji akan bertemu dengan Reem di kafe dekat rumah sakit, sayangnya wanita aneh itu mengubah tempatnya dengan alasan tidak ingin berada dalam keramaian.
"Apa kau menyukai tempat ini? Aku sangat menyukai tempat ini, setidaknya tidak akan ada yang berani bertanya tentang hubungan kita." Ucap Morgiana membuka suara di sela-sela kunyahannya.
"Habiskan makananmu, dan kita akan bicara setelahnya." Ujarku sambil menatap Morgiana dengan tatapan tajam.
Aku tiba di Restorant saat Morgiana sedang asyik meneguk kopinya. Aku rasa dia juga baru saja tiba, hal itu terlihat dari kopinya yang masih mengepulkan uap panas.
"Laurent, ayolah. Nikmati juga makananmu. Aku tidak nyaman makan sendiri, bukankh kau tahu aku tidak suka makan sendiri?" Keluh Morgiana.
Untuk pertama kalinya aku bersikap kejam pada wanita. Selama ini Mama selalu bilang tidak boleh menyakiti wanita manapun, namun sayangnya, berada di dekat Morgiana membuat amarahku berada di ubun-ubun. Ingin tidak marah pun tidak ada gunanya.
"Laurent..."
"Cukup! Jangan panggil aku seperti itu. Aku tidak suka." Ucapku cepat. Terlihat aura kekesalan dari tatapan Morgiana, sayangnya aku tidak perduli itu.
"Kau bisa memanggilku seperti orang lain, Dokter Araf. Dan satu lagi, aku suami sepupumu, jadi jangan pernah berpikir untuk bersikap sok manis padaku. Aku muak melihat semuanya." Celotehku sembari memperlihatku aura kejam.
"Pelayan." Aku berucap dengan nada tinggi.
Tanpa perlu menunggu lagi, dua pelayan yang berdiri di depan pintu langsung masuk sambil merunduk.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Seorang pelayan wanita seusia Sabina berucap dengan nada lemah lembut.
"Singkirkan makanan ini, kami sudah kenyang. Bawakan tagihannya, segera." Ucapku tanpa menununggu lagi.
"Tapi makanannya?"
Prakkkk!
Aku kesal sambil menggembrak meja makan. Pelayan yang berusaha membantah ucapanku langsung menciut. Aku sangat mengenal Morgiana, makan hanya alasan kecil yang di buatnya agar menahanku lebih lama, tapi sayangnya aku bukan lagi orang yang lunak.
"Kau akan menyingkirkan makanan ini, atau aku yang akan membuangnya di lantai?" Ucapku sambil berdiri. Dan tentu saja aku hanya menggertak, sampai kapanpun aku tidak akan berani membuang makanan.
"Ba-baik Tuan." Ucap pelayan muda itu tanpa berani menatap wajahku. Morgiana yang masih duduk dengan alasan makan hanya bisa pasrah saat kedua wanita muda itu menyingkirkan satu persatu makanan yang ada di atas meja.
"Kita ke intinya saja. Aku mengundang mu ke tempat ini tentu saja bukan untuk membicarakan masa lalu. Apa lagi hanya untuk makan-makan." Ucapanku tertahan di tenggorokanku, namun aku masih menatap tajam pada Morgiana yang sok tidak mengerti dengan runyamnya keadaan ini.
"Aku tidak mencintaimu lagi, aku juga tidak mengharapkanmu dalam hidupku." Ucapku berterus terang.
Bagai disambar petir, Morgiana langsung berdiri dari posisi duduknya. Ia menatapku dengan tatapan tajam, seolah tatapannya akan menguliti ku hidup-hidup. Mata indahnya mulai meneteskan air mata. Dan buruknya, aku tidak perduli itu. Apa urusanku dengan deritanya karena aku sendiri sudah cukup menderita karena ulahnya. Aku tidak ingin Sabina salah paham dengan masa lalu yang ku anggap bagai mimpi buruk.
"Laurent, apa maksudmu?"
"Maksudku, aku tidak suka kau mendekati rumahku. Aku juga tidak suka melihatmu berkeliaran di dekatku. Aku bukan pria kejam yang akan menampar wajahmu atau menggores wajah cantik itu karena amarah.
Aku mempringatkan mu! Jauhi rumahku dan jangan berharap apa pun dariku. Kau berani menghancurkan poto pernikahanku? Itu Sudah cukup membuatku jengkel. Jadi, jangan pernah menguji kesabaranku lagi karena aku tidak tahu kapan aku akan menyakitimu!" Ucapku dengan nada ketus.
Morgiana yang mendengar ucapan ku hanya bisa berdiri mematung dengan tatapan tajam. Bukannya merasa takut, justru aku semakin kesal. Seolah Morgiana menantangku untuk berperang.
...***...