
"Ada Papa yang akan menjaga Mama, kau tidak perlu khawatir. Sekarang kau bisa pulang, Mama tidak ingin membuat Sabina menunggu terlalu lama." Mama menggenggam jemari ku sambil tersenyum. Tidak ada lagi rasa sakit yang nampak di wajah beliau.
"Mama yakin Mama tidak merasakan sakit lagi? Rasanya, Araf tidak ingin pulang. Apa sebaiknya Araf meminta Sabina datang dan menginap disini? Araf yakin dia tidak akan keberatan. Gadis sebaik Sabina akan selalu mangut selama hal itu tidak bertentangan dengan prinsip hidupnya." Aku mencoba meyakinkan Mama.
Melihat raut wajah Mama sepertinya beliau akan menolak.
"Tidak, nak. Mama baik-baik saja. Mama tidak ingin merepotkan kalian, lagi pula disini masih ada Papa mu dan para pelayan."
Hmmmm!
Aku menghela nafas kasar, Mama tahu aku tidak akan pernah setuju dengan ucapannya. Walau demikian aku akan tetap menuruti setiap keinginannya. Rasa cemas ku telah mengalahkan rasa rindu ku untuk Sabina. Aku tidak tahu apa yang di lakukan Bidadari Surga itu setelah aku meninggalkannya, semoga saja dia baik-baik saja.
"Baiklah. Jika itu keinginan Mama, aku akan pulang sekarang juga." Ucap ku sambil balas tersenyum, aku memeluk tubuh lemah Mama kemudian berjalan pelan melewati Papa yang duduk di sofa dekat meja rias.
"Araf, nak. Kau juga harus berpamitan dengan Papa mu." Pinta Mama sambil menatap punggung ku. Aku bahkan tidak menoleh kearahnya.
Mama berucap dengan suara cukup keras, sayangnya aku pura-pura tidak mendengarnya. Aku tidak ingin membahas apa pun yang berkaitan tentang Papa. Aku masih kesal padanya bila mengingat mendiang Kak Aleta. Entah Kak Aleta menangis atau tertawa di Surga sana, yang jelas aku masih belum bisa memaafkan Papa.
Aku masih berpikir kak Aleta tiada karena tingkah egoisnya. Seandainya Papa mengizinkan Kak Aleta menikah dengan pria itu, mungkin saja sekarang kak Aleta masih bersama kami. Membayangkan itu semua membuat ku kesal luar biasa.
"Araf, kau harus akur dengan papa mu! Araf..."
"Sudah lah, Ma. Tidak perlu memintanya. Jika dia mau melakukan itu, dia pasti sudah melakukannya sejak dulu."
Aku bisa mendengar dengan jelas setiap ucapan Papa dan Mama, aku juga sangat terganggu dengan tangisan mereka. Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa mengontrol hati ku untuk tidak membenci Papa. Mungkin hanya aku putra kejam yang menjadikan Papanya sebagai musuh, walau demikian sesekali aku berpikir akan datang hari dimana aku bisa memeluk Papa dengan senyuman. Apakah hari itu akan datang? Entahlah, aku sendiri tidak tahu jawabannya.
Di lantai bawah berdiri belasan Art dengan kepala tertunduk, aku bisa melihat penyesalan besar dari wajah mereka semua, sayangnya aku tidak memperdulikan apa pun selain kesehatan Mama.
"Apa kalian sudah bosan bekerja disini, hah?" Ucap ku dengan nada suara tinggi.
"Apa yang kalian lakukan sampai Mama terluka sangat parah? Apa kalian di gaji hanya untuk bersantai? Jika hal buruk ini terjadi lagi aku tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang." Ujar ku sambil menatap belasan Art dengan tatapan tajam.
"Ma-maaf Tuan Muda."
"Jangan pernah meminta maaf karena aku tidak akan pernah memaafkan kalian." Celoteh ku masih dengan nada suara tinggi. Aku duduk di sofa sambil merunduk, berusaha memperbaiki suasana hatiku.
Lima menit kemudian aku kembali berdiri, kali ini amarah ku mulai berkurang.
"Aku minta Maaf. Mengetahui Mama terluka membuat emosi ku memuncak. Kalian bekerja sudah sangat lama, tapi sayangnya karena rasa takutku, aku malah meragukan kalian." Aku berucap penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa Tuan. Semua ini memang kesalahan kami. Seharusnya ketika Nyonya memberitakukan ingin ke-gudang, kami harus berusaha lebih keras lagi untuk mencegah beliau, sayangnya kami gagal." Art sepuh kesayangan Mama mencoba membela diri, dan aku tahu ada nilai kejujuran dalam setiap ucapannya.
"Aku akan pulang, aku titip Mama. Jika terjadi hal buruk hubungi saja nomer ponsel ku." Ucapku lagi kemudian berjalan pelan meninggalkan belasan Art kepercayaan Mama.
Entah kenapa sejak berpisah dari Sabina kerisaun dan rasa takut mulai memenuhi rongga dadaku. Aku merasa akan ada badai dalam kehidupan ku, sayangnya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Memikirkan hal itu membuat dada ku terasa sesak, rasanya aku ingin segera sampai di rumah kemudian tenggelam dalam pelukan Sabina. Bersamanya kerisauan ini dan rasa takut ini akan menguap keangkasa bersama tarikan dan hembusan nafas kami berdua.
...***...
"Araf.... Seharusnya kau pulang lebih awal, dengan begitu kau bisa melihat senyuman Bidadari Surga mu. Selarut ini? Bahkan bayanganmu saja mulai merasakan kantuk." Celoteh ku sambil menaiki anak tangga, berjalan menuju lantai dua tempat kamar ku dan Sabina.
"Sekujur tubuh ku terasa sakit, aku terlalu memaksakan diri dalam bekerja." Celoteh ku lagi, kali ini aku berusaha membuka pintu secara perlahan agar tidak mengganggu tidur Sabina.
What?
Netra ku membulat sempurna menatap kearah sofa. Sabina ada disana, dia tertidur dalam keadaan duduk, ia mengganjal kepala dengan tangan kanannya.
Aku tersenyum. Aku tersanjung. Melihat Sabina seperti itu membuat ku bahagia, ia tampak seperti istri dalam serial televisi, menanti suaminya pulang sampai ketiduran.
"Dia benar-benar manis!" Ujar ku sambil berjalan pelan mendekati sofa, meletakkan tas medis ku di atas meja kemudian mengangkat pelan tubuh Sabina dan membaringkannya di tempat tidur.
"Mmm! Mas Araf sudah pulang?"
Glekkkk!
Aku langsung menelan saliva mendengar pertanyaan singkat Sabina. Aku pikir akan membaringkannya di tempat tidur, kemudian melayangkan kecupan di puncak kepalanya dan terakhir menutupi tubuhnya dengan selimut. Nyatanya aku salah, Sabina terlalu cepat bereaksi. Aku seperti pencuri yang ketahuan oleh sang empunya rumah, aku tidak bisa berkutik, aku juga merasa malu. Bukankah ini aneh?
"Mas Araf kapan pulang? Apa Mas Araf sudah makan malam? Tunggu disini, aku akan ambilkan makanannya." Sabina bersiap bangun dari tempat tidur, dengan cepat aku meraih lengannya agar Sabina tidak berabjak dari tempat duduknya.
Aku hanya ingin bersamanya, aku hanya ingin tenggelam dalam pelukannya. Membagi semua resah dan gelisah yang masih memenuhi rongga dadaku. Buruknya, aku tidak tahu harus memulai dari mana karena aku sendiri tidak tahu apa yang membuat hatiku sangat resah.
"Kenapa? Apa ada masalah? Katakan padaku." Sabina bertanya sambil menatap netra basah ku. Aku meletakkan kepala ku di pangkuan Sabina, usapan lembut tangannya di kepalaku seolah menghilangkan setengah dari resah ku.
"Aku punya tongkat ajaib, sekali aku menggerakkan tongkatku maka semua masalahmu akan menghilang!" Ucap Sabina dengan nada suara menggoda
Hahaha!
Aku terkekeh sambil menarik tangan Sabina dan menempelkan tangannya di dadaku.
"Aku tahu aku tidak bisa melawak, setidaknya Mas Araf sudah bisa tertawa lagi. Aku bahagia melihat mu bahagia. Jika Mas Araf ingin melihat ku bahagia, maka tetaplah bahagia." Kali ini Sabina berucap sambil mengacak-acak rambut hitam ku.
"Bangun, bersihkan diri Mas Araf dulu, setelah itu kita akan makan bersama."
"Makan? Jadi kau belum makan?" Aku bangun dari pangkuan Sabina dengan mata membulat sempurna.
"Belum. Bagaimana aku bisa makan jika sayang ku ini belum makan? Bukankah tadi aku sudah bilang, jika kau bahagia aku juga bahagia. Dan jika kau lapar aku juga akan lapar bersama mu." Celoteh Sabina sambil mencubit hidung bangirku.
Kami saling menatap, saling mengungkapkan rasa dalam diam. Tidak ingin berlama-lama, aku langsung beranjak menuju kamar mandi. Sememtara Sabina? Dia beranjak menuju lantai bawah, menyiapkan makanan untuk kami berdua.
Aku baru tahu, ternyata terlambat pulang akan menyakiti Sabina. Mulai saat ini aku bertekad tidak akan pernah terlambat lagi.
Araf, bukankah kau sangat di berkati? Dulu kau malas pulang kerumah. Tapi sekarang, ada Bidadari indah di rumah mu. Bukankah kau sangat bahagia? Karena kau sangat bahagia maka berjanjilah kau akan selalu menjaganya, membahagiakannya, dan tetap membuatnya tersenyum. Aku bergumam di dalam hati sambil membersihkan wajah kusam ku.
...***...