Mr Love Love

Mr Love Love
Pesta



Aaaaa!


Teriakan keras Sabina membuat sekujur tubuhku bergetar hebat, jantungku seolah loncat keluar. Netraku menatap tajam kearah tangga.


"Sabina..."


Aku berteriak sambil berlari mendekati tangga, aku bahkan tidak perduli menabrak beberapa tamu undangan hanya untuk berlari mendekati tangga.


Gdebukkk!


Aaaaa!


Indra pendengaranku menangkap tajam teriakan semua orang, dan diantara suara-suara itu aku bisa mendengar suara teriakan Mama ku dan Mama Sabina lah yang paling kencang.


Ahhhh! Ssstttt!


Aku meringis menahan sakit, sekujur tubuhku terasa bagai di tusuk belasan belati. Aku tidak merasakan sakit lantaran tubuhku membentur lantai cukup keras, namun aku sakit karena ketakutan ini terasa memenuhi setiap pori-pori tubuhku. Saat ini aku menyadari betapa besar cintaku pada Sabina, dan rasa cinta itu mengantarkanku pada titik dimana aku pikir aku akan tiada saat melihat Sabina berada dalam masalah.


"A-apa kau baik-baik saja? Apa kau kesakitan? Katakan padaku, dimana yang sakit? A-ayo kita kerumah sakit." Ucapku sambil menatap wajah pucat Sabina.


Sabina belum menjawab pertanyaanku, namun belasan orang dengan kepanikan luar biasa berjalan mendekati ku kemudian membantuku dan Sabina untuk duduk.


"Jawab aku! Apa kau baik-baik saja?"


Masih tidak ada jawaban dari Sabaina, aku bisa mengerti keadaannya. Entah bagaimana Sabina bisa tergelincir dari tangga, semuanya terlihat sangat cepat. Untungnya dengan sigap aku berlari menghampiri Sabina sehingga hal yang tidak di inginkan tidak terjadi. Sekarang semuanya mulai terkendali.


"Nak, apa kau baik-baik saja? Tolong katakan sesuatu." Ucap Mama Nani dengan tubuh bergetar.


"Araf, sayang. Bawa Sabina kekamar. Dia masih shock." Mama ku, Mama Riska memegang lenganku sambil menatap wajah pucat Sabina. Tampak jelas dari wajah kedua wanita hebat itu kalau mereka juga mengalami shock berat.


"Ayo kita kekamar." Ucapku sambil berdiri kemudian mengendong Sabina. Ratusan pasang mata menatap kami dengan tatapan kasihan.


Di kamar, aku meletakkan Sabina dengan hati-hati di atas ranjang. Baru saja aku bergerak akan mengambil tas medis yang ku letakkan di atas nakas, dengan cepat Sabina menahanku dengan cara memegang penggelangan tanganku agar tidak menjauh darinya. Kini ia mulai melingkarkan pergelangan tangannya di leherku, tatapan kami saling beradu.


"Tetap seperti ini, sebentar saja." Ucap Sabina tanpa melepas tatapannya dari netra teduhku.


Lima menit berlalu, namun Sabina tak mengatakan apa pun. Bibir bawahnya terlihat bergetar, ia bahkan masih menutup matanya. Berharap kejadian di ruang tengah tadi akan menghilang dari pikirannya.


Muach.


Aku mencium bibir tipis Sabina, berharap ketakutannya akan menguap keangkasa.


"Aku sangat takut. Aku bahkan tidak bisa memikirkan apa pun lagi. Bayangan tentang kehilangan anak kita membuatku hampir tiada." Ucap Sabina dengan suara bergetar.


"Itu tidak akan terjadi. Karena aku tahu anak kita akan menjadi kekuatan untuk ayah dan Ibunya." Balasku pelan, aku mengusap perut rata Sabina sambil mengedipkan mata. Akhirnya sikap jahilku kembali kumat.


"Honey... Apa kau tahu? Melihatmu terjatuh seperti tadi membuatku ketakutan luar biasa, aku merasa jantungku akan loncat keluar. Jangan terluka, jangan menangis, dan jangan pernah memendam lukamu sendiri.


Aku ada bersamamu dan akan selamanya seperti itu, dukamu adalah dukaku, sedihmu adalah sedihku, dan bahagiamu adalah bahagiaku. Jika aku terlahir sebagai seorang penulis, aku pasti akan menggambarkan diriku sebagai pria gila yang mencintai wanitanya lebih dari nyawanya sendiri. Mr.Love love, aku rasa itu tema yang cocok untuk pria yang di penuhi oleh cinta sepertiku." Ujarku sambil mencubit puncak hidung bangir Sabina. Wajah pucatnya kini memamerkan senyuman.


"Jangan mencintaiku sebesar itu. Mas Araf tidak boleh mencintai siapa pun melebihi cinta Mas Araf kepada Allah dan Rasulnya." Sambung Sabina lagi. Kali ini ia menangkup wajahku dengan kedua tangan lembutnya.


"Iya, baiklah. Aku akan menuruti nasihat istri cantikku. Apa sekarang aku bisa pergi? Semua orang pasti sedang menungguku, mereka pasti ingin mengetahui keadaanmu."


"Kita akan keluar bersama, ayo."


"Tidak, kau tidak boleh keluar. Kau harus istirahat." Ucapku cepat sambil menahan lengan Sabina agar tidak bangun dari ranjang.


"Aku baik-baik saja. Ku akui tadi kita terjatuh, tapi aku tidak apa-apa berkat pertolongan Allah dan kesigapan Mas Araf. Aku akan menyapa tamu yang datang, setelah itu aku akan kembali kekamar.


Jika aku tetap di kamar, semua orang pasti berpikir aku dalam keadaan yang buruk." Ujar Sabina menegaskan.


Tidak ada bantahan dariku selain anggukan kepala pelan. Melihat Sabina tersenyum aku yakin dia baik-baik saja.


Araf... Kau tidak boleh melepas pandanganmu dari istrimu. Aku bergumam di dalam hati sambil beranjak dari kamar, berjalan beriringan dengan Sabina menuju lantai bawah.


...***...


"Selamat malam semuanya... Saya mewakili pihak keluarga mengucapkan, terima kasih sebesar-besarnya atas kehadiran anda di rumah kami.


dua puluh menit yang lalu, kejadian menegangkan telah terjadi di rumah ini. Berkat Yang Maha Kuasa, Sabina dan bayi kami baik-baik saja. Jadi, saya hanya ingin mengatakan, mari kita nikmati pesta ini. Dan mari berbahagia bersama." Ucapku sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.


Mama Nani dan Mama Riska terlihat lega, ketakutan mereka tentang kejadian buruk tadi telah menghilang seiring keberadaan Sabina di tengah-tengah kami.


"Sayang, kau yakin kau tidak apa-apa?"


"Iya, Mam. Sabina baik-baik saja. Mama tidak perlu khawatir."Balas Sabina sambil meraih kue yang di sodorkan Mama Nani.


Pestanya berlangsung cukup meriah, semua tamu pun terlihat bahagia.


"Dokter Araf, siapa wanita yang berdiri di dekat Nyonya Sabina? Dia terlihat sangat cantik."


Glekkk!


Aku langsung menelan saliva, menatap tajam kearah yang di tunjuk rekan Dokter yang bekerja dirumah sakit yang ku kepalai.


"Hmm! Wanita itu? Dia sepupu istriku. Kau tertarik dengannya?"


"Siapa yang tidak tertarik pada wanita secantik dirinya? Dia seperti peri dalam drama televisi. Aku bahkan tidak bisa mengalihkan tatapanku dari wajah cantiknya."


Mendengar ucapan Rekan dokter yang terus saja menyanjung Morgiana membuatku merasa mual. Entah mimpi apa aku semalam sampai harus terlibat dalam pembicaraan tidak berguna ini.


"Dia tinggal di rumah Mama mertuaku, jika kau mau mengenalnya lebih dalam, kau bisa berkunjung kesana. Jangan menanyakan apa pun tentang dirinya padaku karena kau tidak akan mendapatkan jawaban apa pun. Kau paham?" Celotehku sebelum aku mendapat pertanyaan lebih lanjut.


Aku berpamitan meninggalkan rekan-rekan dokter yang merupakan keluarga besar rumah sakit yang ku kepalai. Berjalan pelan sambil menatap Sabina yang saat ini duduk si sofa, di temani kedua wanita hebat yang menjadi kebanggaan kami berdua, Mama Nani dan Mama Riska.


...***...