
Cahaya mentari pagi ini terasa membelai lembut wajah tampanku, sejak selesai shalat Subuh aku lebih memilih keluar dari rumah dengan alasan joging.
Yaya... Setidaknya dengan alasan itu aku bisa menghindari wajah pura-pura tersenyum Sabina. Setelah beberapa lama menghabiskan waktu bersama Sabina, aku mulai mengenal kebiasaannya, kapan dia bahagia, dan kapan dia pura-pura bahagia hanya untuk menenangkanku. Sungguh, aku tidak suka saat melihat Sabina bersedih seperti semalam.
Semalam, tanpa sepengetahuan Sabina, aku mengikuti langkah kakinya dan berakhir di dapur. Aku mengendap-edap seperti pencuri kecil yang takut ketahuan sang empunya rumah dan berakhir dengan mencuri dengar pembicaraan Sabina dengan pembantu rumah kami.
Reem... Aku tidak akan membiarkanmu lolos dengan mudah. Gerutuku sambil mengepalkan tangan. Sedetik kemudian aku mengeluarkan ponsel dari dalam saku kemudian mengirim pesan pada sosok yang berhasil membuatku jengkel selama beberapa pekan ini.
Ayo kita bertemu. Aku akan menunggumu di kafe dekat rumah sakit. Kita akan makan siang bersama. Tulisku dalam pesan singkat.
"Dokter Araf ada disini? Wah... Ini benar-benar kejutan besar. Saya tidak menyangka akan bertemu dengan anda secara langsung!" Ucap seorang wanita sepuh, wajahnya di penuhi oleh senyuman.
Jujur, aku tidak mengenalnya. Jadi aku tidak terlalu antusias saat bertemu dengannya. Sama seperti biasa, aku akan tersenyum, senyum yang coba ku paksakan.
"Sepertinya kita tidak saling mengenal? Apa aku salah?" Aku berucap dengan nada suara pelan, berharap perempuan sepuh yang tiba-tiba duduk di sampingku itu tidak tersinggung.
"Dokter Araf memang tidak mengenalku. Tapi wanita tua ini sangat mengenal Dokter Araf. Bukan hanya kenal, tapi sangat kenal."
Glekkkk!
Aku langsung menelan saliva, aku merasa pembicaraan ini sia-sia saja. Bagaimana wanita tua ini bisa mengenalku? Seingatku, aku sendiri tidak pernah berpapasan dengannya, walau di dalam mimpi sekalipun.
"Mungkin anda salah orang! Saya sendiri tidak ingat kapan dan dimana kita pernah bertemu." Celotehku sambil bangun dari posisi dudukku.
Aku berjalan pelan meninggalkan wanita tua itu tanpa menoleh kebelakang.
"Dokter mungkin tidak mengenalku, tapi aku sungguh sangat berterima kasih. Karena bantuan Nak Dokter, cucuku baik-baik saja." Ucap wanita tua itu sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Nenek masih mengejarku? Aku benar-benar minta maaf, aku tidak mengenal nenek, dan tidak ada hal yang ingin ku katakan!" Ucapku menegaskan sambil berbalik menghadap wanita sepuh itu.
Wajah nenek itu terlihat sedih, sejak kami bertemu sepuluh menit yang lalu hingga saat ini, aku tidak pernah berkata-kata kasar padanya. Jika ada yang melihatku, mereka pasti berpikir aku pria kejam yang tega menyakiti seorang wanita tua tak berdaya, padahal itu tidak benar.
Tanpa kuduga, wanita sepuh itu meraih lenganku. Ia menyentuh tanganku yang masih di balut perban.
"Cucuku. Cucuku melakukan ini pada Nak dokter, nenek minta maaf."
Seketika, memoriku kembali berputar. Mengingat kekacauan yang terjadi di rumah sakit sepekan yang lalu.
"Ja-jadi wanita itu?" Aku bertanya dengan nada suara gugup.
"Maksudku wanita dengan anak kembar? Apa itu wanita yang nenek maksud?" Aku kembali bertanya, kali ini sambil menatap wanita sepuh itu dengam serius.
"Iya, itu benar."
"Wanita itu bilang tidak punya keluarga, apa nenek satu-satunya keluarganya?"
Setelah mengetahui putra kembar Ratu sakit, keluarga mertuanya langsung memutuskan hubungan dengan anak malang itu. Di saat Ratu berada dalam masa terburuknya, Nak Dokter dan istri Nak Dokter berusaha keras menolong cicit-cicit nenek. Berjuta-juta terima kasih Nenek haturkan."
"Nenek tidak perlu melakukannya." Ucapku cepat. Aku sangat terkejut melihat wanita sepuh itu bersujut di kakiku.
Araf... Kau benar-benar bodoh. Apa yang kau pikirkan. Gerutuku dalam hati sambil berusaha mengangkat wanita sepuh itu.
"Nenek tidak boleh melakukannya, entah padaku atau pada orang lain. Nenek hanya boleh bersujut kepada Allah, bukan kepada Manusia." Ucapku sambil memegang kedua lengan wanita sepuh itu sambil membantunya berdiri.
"Nyawa siapa pun tidak ada di tangan seorang Dokter, karena Dokter hanya bisa mengobati bukan menyembuhkan. Nenek harus banyak berdoa agar kedua cicit-cicit nenek selamat. Aku berjanji akan berusaha melakukan yang terbaik. Dan untuk masalah biaya?
Nenek tidak perlu mengkhawatirkannya, karena rumah sakit yang akan menanggung biayanya. Jika itu tidak memungkinkan maka aku sendirilah yang akan menanggung segalanya." Ujarku meyakinkan.
Setelah merasa semuanya terkendali, aku tersenyum tipis kemudian beranjak meninggalkan wanita sepuh itu sendirian. Aku berharap setelah ini ia tidak akan merasa sedih lagi.
...***...
"Mas Araf yakin akan kerumah sakit? Lengan Mas Araf belum sembuh, bagaimana jika nanti Mas Araf tidak bisa bekerja karenanya?"
"Honey... Bagi seorang Dokter sepertiku, rumah sakit itu sama seperti medan perang. Aku tidak tahu kapan situasi yang terlihat biasa-biasa saja berubah menjadi genting dan menakutkan." Balasku sambil menarik Sabina kedalam kungkunganku.
"Aku pernah berada dalam situasi dimana aku harus bekerja keras untuk menangani ratusan pasien yang terlibat kecelakaan lalu lintas.
Aku juga pernah bekerja sampai pagi karena menangani satu keluarga yang mengalami luka bakar serius akibat kekejaman tetangganya sendiri hanya karena alasan dendam." Ucapku sambil mengelus perut rata Sabina.
"Seberat apa pun pekerjaanku, aku tidak akan mengeluh. Karena aku ingin saat anak kita lahir dan besar nanti, mereka akan melihat betapa Papa mereka bekerja keras demi membantu orang lain, dan aku ingin mereka menjadikan ku teladan dalam hidup mereka." Ujarku lagi. Kali ini aku berlutut, aku mencium perut rata Sabina, berharap anak kami di dalam sana tumbuh menjadi anak yang baik dan bisa merasakan betapa aku dan Mamanya sangat menantikan kehadiran mereka sebagai pelipur lara.
Tok.Tok.Tok.
Hmm!
Lamunan ku tentang pembicaraanku dan Sabina pagi ini buyar begitu saja setelah mendengar ketukan pintu dari luar.
"Selamat pagi Dokter Araf!"
"Iya, pagi." Balasku sembari menutup berkas laporan kondisi kedua bayi kembar yang akan di oprasi minggu depan.
"Maaf, Dokter. Ini laporan yang Dokter minta. Maksud saya nama perawat yang membawa pisau bedah keruang rawat ibu dan anak kembarnya.
Dan satu lagi, ini nama orang yang meminta wanita itu keluar dari rumah sakit dengan paksa."
Dua lembar kertas yang bertuliskan nama-nama orang yang telah berani membuat kekacauan di rumah sakit selama sepekan ini telah ada di depanku. Aku menatap tajam kearah kertas yang ada di atas meja kerjaku, entah kenapa aku merasakan kesal. Mengingat kejadian sepekan yang lalu membuat ku tidak bisa menahan amarah.
...***...