Mr Love Love

Mr Love Love
Panik (Sabina)



Tiga puluh menit setelah kepergian Alan Wijaya, Araf masih duduk termenung di sofa. Tak henti-hentinya ia menatap vidio yang ada di tangannya, sesekali Araf bahkan sampai meneteskan air mata. Teramat besar rasa rindu yang mendera hati dan pikirannya untuk istri dan calon anak kembarnya. Namun mau bagaimana lagi, kemarahan Mama Nani masih belum bisa di padamkan. Dan Araf pun belum berusaha keras untuk meluluhkan hati ibu mertuanya mengingat kesibukannya di rumah sakit.


"Tuan... Ada masalah besar!" Seorang perawat bertubuh ramping masuk kedalam kantor Araf tanpa mengetuk pintu. Wajahnya terlihat ketakutan, sekujur tubuhnya bergetar. Entah masalah apa yang ia bawa bersamanya dan hal itu berhasil membuat Araf ikut-ikutan khawatir.


"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu?"


"Di mana sopan santunmu?" Araf berterik, tatapan matanya setajam belati.


"Rumah sakit membayarmu bukan untuk sikap aroganmu." Cecar Araf dengan suara lantang, ia terlalu marah. Karena terkejut, ponsel yang ada di tangannya terjatuh membentur ujung meja.


"Maaf, tuan. Ini benar-benar darurat." Jawab suster itu menyesal, ia berdiri dengan kepala tertunduk.


"Huft! Sekarang katakan, ada apa?" Araf mulai bertanya setelah ia berhasil mengontrol emosinya.


Untuk sejenak, kantor Araf terasa senyap. Baik Araf ataupun perawat muda yang ada di depannya tampak saling menatap dalam diam.


"Tuan, di kantin."


Baru mendengar kata kantin kening Araf mulai berkerut.


"Di kantin, ratusan orang tiba-tiba mengeluh sakit. Mereka mulai muntah-muntah. Belasan orang pingsan dan di larikan menuju ruang gawat darurat. Beberapa dokter yang bertugas bingung dengan keadaan ini." Lapor wanita muda itu dengan nafas yang masih terdengar berat.


Semenentara itu di tempat berbeda, atau tepatnya di mansion Wijaya. Duduk Mama Nani dan Papa Otis sambil menatap besan mereka dengan tatapan nelangsa. Mereka kesal, namun sebisanya mereka berusaha menahan agar kata-kata kasar tidak keluar dalam kemarahan.


Di sofa berbeda, duduk Mama Riska dan suaminya. Mereka tampak terkejut mendengar ucapan besannya. Ia tidak terima putra dan menantunya di pisahkan secara paksa. Karena menurutnya, sebagai orang tua mereka harus mendamaikan anak-anaknya dan bukan sebaliknya meminta mereka mengakhiri hubungan tanpa berpikir panjang.


"Jeng, saya tahu Araf melakukan kesalahan besar, dan itu hanya masa lalu. Tak bisakah sebagai orang tua, kita melupakan segalanya dan mendamaikan anak-anak kita? Aku tidak ingin Araf dan Sabina berpisah, mereka saling mencintai." Mama Riska kembali membuka suara, mengurai ketakutannya sambil menatap wajah kedua besannya secara bergantian. Tidak ada masalah dengan Papa Otis selama anak-anak bahagia, namun bagi Mama Nani harga diri keluarganya bagai di injak-injak.


"Aku sebagai Mamanya Sabina merasa sangat kecewa." Ujar Mama Nani setelah berpikir panjang.


"Aku tidak pernah keberatan dengan masa lalu Araf, karena aku tahu kita sama-sama punya masa lalu. Yang membuatku sangat marah, kenapa Araf tetap diam walau wanita dari masa lalunya berkeliaran di dekatnya? Aku merasa seolah jiwa ku terbakar. Dan aku sudah memutuskan, Araf dan Sabina tetap harus berpisah. Titik." Ucap Mama Nani dengan amarah yang mulai membuncah, teramat besar amarahnya pada Araf saat ini. Sabina hampir kehilangan buah hatinya, dan hal itu membuat Mama Nani berpikir seribu kali untuk mengirim Sabina kembali pada suaminya.


"Tapi Jeng...." Ucapan Mama Riska menggantung di udara. Tatapan matanya mengunci pada satu titik, Sabina berlari menuruni anak tangga dengan terburu-buru tanpa menghiraukan perutnya yang mulai membesar.


"Hati-hati, nak!" Ucap Mama Riska dengan suara setengah berteriak. Ia terkejut melihat Sabina hampir terjatuh dari tangga dan hal itu membuat Mama Nani megelus dada, ia juga merasa sangat kerakutan.


Saat panik, akal sehat Sabina tidak bisa bekerja. Rasa takut mulai memenuhi seluruh pori-pori tubuhnya, ia menangis dan hal itu membuat Mama Nani, papa Otis dan kedua mertuanya merasa mati rasa.


...***...