Mr Love Love

Mr Love Love
Keributan



Air mata?


Ketika hati merasakan kesedihan mendalam maka air mata akan tumpah sebagai bentuk rasa sakit itu. Tidak ada orang yang ingin terluka. Tapi tetap saja, kita suka atau tidak kesedihan dan kebahagiaan itu akan tetap berjalan beriringan selama kita masih hidup.


Kita masih bisa mentoleransi rasa sakit itu jika orang lain yang melakukannya, tapi jika orang terdekat kita yang melakukannya seolah dunia itu terasa runtuh, sangat sempit sampai bernafaspun terasa sesak.


"Aku pasti akan membalasmu. Sudah cukup aku bersikap baik padamu. Kau menyakitiku? Aku bisa terima itu. Tapi tidak dengan anakku.


Kali ini kau tidak akan bisa mengelak. Amarah ini rasanya memenuhi seluruh pori-pori tubuhku. Aku tidak akan tenang sebelum aku memberikanmu pelajaran." Aku menggerutu sambil menatap tajam kearah jalanan yang masih tampak ramai. Seluas mata memandang aku hanya melihat kemacetan panjang.


"Bagaimana ini? Apa yang harus ku katakan jika Mama sampai mengetahui semua ini? Beliau tidak akan sanggup!" Aku mengusap wajah dengan kasar. Aku tertekan, aku juga masih kesal.


Tiga puluh menit kemudian mobil yang ku kendarai berhenti tepat di depan pagar kediaman Wijaya.


"Assalamu'alaikum, Non Sabina. Non apa kabar?"


"Wa'alaikumsalam, baik Mang. Kabar saya baik." Balasku pada penjaga separuh baya yang saat ini membukakan gerbang untukku.


"Pak Dokter tidak ikut? Kenapa Non menyetir sendirian, Mas Amri dimana?" Penjaga separuh baya itu kembali bertanya, kali ini ia menatap kedalam mobil sambil tersenyum.


"Saya sendirian, Pak Dokter sedang sibuk. Apa Mama ada di dalam?" Aku bertanya dengan kehati-hatian. Dalam hati aku berdoa semoga Mama dan Papa tidak ada.


"Non Sabina telat. Nyonya dan Tuan baru saja keluar. Katanya ada pertemuan penting dengan Bu Besan di Hotel Tuan Muda. Hehe, maaf. Maksud Mamang dengan Ibu Mertua Non Sabina!"


Alhamdulillah... Batinku sambil mengelus dada penuh kemenangan. Inilah yang sedang kunantikan, bibir tipis ku mengukir senyuman


"Baiklah, Mang. Saya masuk dulu." Ucap ku sambil tersenyum. Tidak ada balasan dari penjaga separuh baya itu selain anggukan kepala pelan.


Sementara itu di dalam rumah, duduk Morgiana sambil membolak-balik majalah yang ada di tangannya. Entah apa yang di lakukan gadis aneh itu, ia bahkan menandai beberapa bagian dengan pulpen yang ada di tangan kirinya.


Prok.Prok.Prok.


Aku bertepuk tangan sambil menatap tajam kearah morgiana, ia terkejut. Bahkan tanpa sengaja tangannya menyenggol cangkir teh hijau yang ada di atas meja.


Empat Wanita dan dua tukang kebun keluar dari dapur. Mereka menatap ku dengan tatapan heran, karena tidak biasanya aku beraikap aneh.


"Semua orang... Tolong keluar. Kecuali Morgiana!" Ucapkan penuh penekanan.


"Baik, Non. Ayo." Ucap salah seorang Art mengajak rekan-rekannya, ia merunduk, kemudian berjalan mundur bersama rekan-rekannya.


"Hay, Bi. Kau ada di sini?" Morgiana bertanya sambil meletakkan Majalah di atas meja, ia berdiri sambil merapikan rambutnya.


Plakkkkk!


Satu tamparan mendarat di pipi kanannya. Wajah cantik itu kini tertoleh sempurna kearah kiri. Kulit putihnya terlihat mulai merah. Bahkan tangan ku terasa perih, aku yakin Morgiana merasakan sakit yang lebih di wajah cantiknya.


Plakkkk!


Belum sempat Morgiana mengatakan apa pun, aku kembali melayangkan tamparan kerasku di pipi kanannya, atau tepatnya di pipi yang barusan ku tampar.


Cihhh!


Aku berdecih sembari menangkap tangan Morgiana yang ingin membalas tamparanku.


"Tidak lagi, aku bilang tidak lagi." Ucap ku dengan nada suara tinggi. Aku mendorong tubuh rampingnya sampai terjatuh dan duduk bersimpuh di lantai. Entah kenapa amarah ini terasa membutakan mata hatiku. Karena amarah, aku bahkan tidak sanggup menatap wajah menyebalkan Morgiana.


"Apa kau tahu? Selama ini aku tidak pernah membenci siapa pun melebihi kebencianku pada dirimu.


Kau mengajarkan ku cara membenci, kau juga menyadarkan ku bahwa seorang saudara bisa menjadi musuh untuk saudaranya sendiri.


Selama ini aku diam bukan berarti aku mengabaikan kesalahanmu. Setiap detik aku selalu berdoa semoga Tuhan memberimu kesadaran dan akal sehat. Tapi nyatanya, itu hanya angan-angan ku saja." Ucap ku dengan nada suara bergetar. Aku menatap Morgiana dengan tatapan tajam, seolah tatapanku akan mengulitinya hidup-hidup.


"Aku muak dengam mu, dan aku muak dengan semua hal yang berkaitan denganmu. Pergi dari rumah ini sebelum Mama tahu kalau kau menjadi duri dalam kehidupan putrinya.


Pergi dari sini sebelum aku bertindak lebih buruk lagi padamu. Pergi dari sini sebelum aku kehilangan kendali. Aaaaa." Aku berucap dengan nada suara tinggi kemudian berteriak sekencang-kencangnya, berharap amarahku akan menghilang setelah mengatakan apa yang ingin ku katakan.


Plakkk!


Seseorang menyentuh pundakku, sebuah tamparan mendarat dengan keras tanpa bisa ku prediksi. Pipi kanan ku terasa perih, aku terkejut sampai terjatuh dan bersimpuh di lantai.


"Apa Mama pernah mengajarkanmu bertindak kasar? Apa Mama pernah mendidikmu untuk menyakiti orang lain? Jawab Mama Sabina?"


Hiks.Hiks.Hiks.


Tidak ada jawaban yang keluar dari lisanku, aku terlalu terkejut melihat Mama yang datang secara tiba-tiba, bahkan tangisku tak bisa berhenti.


Ruang tengah terasa sunyi, Papa berjalan kearahku dan membantuku untuk berdiri. Beliau juga sangat terkejut sampai tidak bisa mengatakan apa pun.


Hhhhh!


Papa menghela nafas kasar. Itu artinya beliau sangat shock melihat keadaan ini. Sayangnya tidak ada yang bisa ku lakukan selain meneteskan air mata.


"Sudahlah, Ma. Jangan marah-marah." Ucap Papa mencoba menenangkan Mama.


"Tenangkan diri, Mama. Papa tidak mau Mama sakit!" Sambung Papa lagi.


Aku menatap wajah sedih Mama, aku tahu saat ini Mama ingin melampiaskan amarahnya. Tentu saja padaku, putri nakalnya yang sudah bertindak kasar. Apa aku terlalu berlebihan saat meluapkan amarahku pada Morgiana? Atau aku terlalu bodoh karena amarah telah membutakan hati dan pikiranku? Aku sadar keributan ini terjadi karenaku, tapi aku lebih kesal pada diriku karena Mama melihat sisi labilku.


...***...