
"Ma-mas Araf, kapan kau datang?" Aku bertanya tapi wajah ku masih tersembunyi di balik telapak tangan. Aku benar-benar tidak berani menatapnya setelah apa yang ku katakan tadi.
"Mmmm! Aku merindukan seseorang sejak pagi, tapi sayangnya orang itu sama sekali tidak merindukan ku. Dia bahkan menyembunyikan wajahnya dariku." Ujar Mas Araf sambil berjalan pelan kearahku. Aku tahu dia berjalan mendekati ku karena suara langkah kakinya semakin mendekat.
Malam ini, langit di penuhi oleh cahaya rembulan, bintang gemintang pun tak tinggal diam, cahayanya menyertai ku dan langkah Mas Araf.
Perlahan aku mulai menurunkan tangan, menatap sosok yang berdiri di depan ku dengan senyuman menawan.
"A-aku pikir Mas Araf tidak datang!"
"Kau pikir aku tidak datang, karena itu kau sembunyi dari semua orang? Sayangnya, kau tidak akan bisa sembunyi dariku. Aku bisa mengenalimu hanya dari langkah kakimu."
"Iiihhh... Mas Araf mulai gombal. Sepertinya penyakit lama tidak akan mudah di sembuhkan!" Guyonku sambil menatap tajam sosok seindah purnama yang berdiri di depan ku.
"Hehe... Aku jujur, aku tidak berbohong. Di depan orang lain mungkin saja aku bisa berbohong, tapi di depan Sabina ku? Itu tidak akan pernah terjadi."
"Benarkah? Lalu dari mana saja pangeran tampan ini? Aku mencarinya di semua sisi kediaman Wijaya, tapi sayangnya aku bahkan tidak bisa melihat batang hidungnya." Celoteh ku sok pura-pura marah.
Bukannya menghiraukan ucapanku, Mas Araf malah terkekeh sambil mencubit hidung bangirku. Ia menarik pinggangku kemudian mendaratkan kecupan hangatnya di puncak kepalaku.
"Kecupan ini spesial untuk wanita tercantik di dunia."
"Benarkah aku cantik?"
"Iya, tentu saja. Karena mata ku hanya melihat mu saja bukan yang lain."
"Apa aku bisa memegang ucapan mu?" Aku bertanya hanya untuk meyakinkan hatiku.
"Iya, tentu saja. Jika aku berbohong biarlah aku tiada di sambar petir." Ujar mas Araf sambil menatap netra teduh ku. Ku perhatikan tidak ada kebohongan dari sorot matanya. Ia jujur, sangat jujur sampai aku ingin terus tenggelam dalam pelukan hangatnya.
"Ayo, kita harus turun. Aku akan memperkenalkan mu dengan orang yang paling berjasa dalam karir ku!"
"Siapa? Apa aku mengenalnya?"
"Tidak. Tidak. Kau tidak mengenalnya, beliau Profesor saat aku menuntut ilmu di luar Negri."
"Baiklah. Ayo kita temui beliau, setelah itu kita akan pulang." Ucap ku lagi, bibir Mas Araf kembali mengukir senyuman. Tatapannya membelai lembut hatiku, aku bahagia, aku tersenyum dan aku merasa seperti berada di Surga. Bersama pria tertampan dan terbaik yang pernah ada.
...***...
Lima menit kemudian aku dan Sabina sudah berada di lantai bawah. Menyapa semua orang yang kukenal, dan bersalaman dengan mereka. Mereka yang kumaksud di sini hanya pria saja, wanita tidak termasuk di dalamnya.
"Profesor, this is my wife! Sabina." Ujar ku sembari memperkenalkan Sabina pada Profesor Sarma.
"Waw Laurent... Istri mu sangat cantik. Kau benar-benar berhasil menemukan permata." Balas Profesor Sarma sambil mengulurkan tangannya. Namun dengan cepat Sabina menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Tak ada perasaan kesal atau pun kecewa dari wajah Profesor Sarma walau Sabina menolak uluran tangannya. Karena ia seorang yang berpikiran terbuka dan menghormati semua perbedaan.
Laurent? Teman-teman kampus biasanya memanggilku seperti itu. Sudah lama aku tidak mendengar orang memanggilku seperti itu.
"Kau beruntung mendapatkan Laurent sebagai pendamping mu, Nak. Dia pria yang baik, dia juga pekerja keras.
Walau terlambat, saya akan tetap mengatakannya. Tetap bahagia! Tetap tersenyum! Dan semoga kalian segera diberikan momongan!" Ucap Profesor Sarma sambil meraih kotak yang di berikan oleh Asistennya.
"Ini hadiah kecil untuk kalian berdua. Saya berharap bisa bersama kalian lebih lama lagi, tapi sayangnya saya harus ke Bandara."
...***...
Mmmm!
Aku berdehem pelan setelah mengantar Profesor Sarma sampai parkiran, sedetik kemudian aku mulai menatap wajah tersenyum Sabina yang saat ini masih berdiri di samping kananku, tanpa kuduga dia mulai mencubit hidung bangirku.
"Honey, what are you doing?"
"Kenapa? Apa kau marah? Huekkk!" Sabina menjulurkan lidahnya kemudian mengalungkan kedua tangannya di pundakku.
"Apa kau bahagia? Ku perhatikan kau selalu tersenyum!" Aku bertanya sambil menatap netra teduh Sabina. Aku sangat bahagia sampai ingin meneteskan air mata.
"Iya, aku sangat bahagia. Terima kasih sudah menempatkan ku disini!" Ucap Sabina lagi, kali ini ia meletakkan tangannya di dadaku. Seolah ia sedang meraba hatiku.
Dag.Dig.Dug.
Hatiku? Sekuat apa pun aku berusaha untuk menahannya, jika berada di dekat Sabina, hatiku tak kan pernah mau mendengarkan ku untuk tidak berdegup kencang.
"O iya, Mas. Aku akan mengenalkan mu dengan sepupu ku, Morgiana. Tunggu disini. Aku akan mencarinya." Ujar Sabina. Tidak ada balasan dariku selain anggukan kepala.
"Hay, Dokter Araf. Apa kabar? Aku tidak menyangka kita akan bertemu di tempat ini." Dua menit setelah kepergian Sabina, seseorang menegur ku sambil menyodorkan tangan.
Dokter Mital, beliau dokter senior di rumah sakit tempat ku bekerja.
"Kabar saya baik. Apa anda datang sendiri? Dimana Nyonya Rubi?"
"Saya datang sendiri, Rubi tidak bisa ikut karena cucu pertama kami terpaksa harus di larikan kerumah sakit.
Membicarakan tentang rumah sakit, saya jadi ingat Pak Wilan, bagaimana keadaan beliau? Apa beliau sudah sembuh?"
Glekkkk!
Aku langsung menelan saliva, mendengar pertanyaan dokter Mital membuat ku bertanya-tanya, ada apa dengan Papa? Kenapa Mama tidak pernah mengatakan apa pun? Aku berusaha keras agar tidak terlihat seperti orang bodoh di depan Dokter Mital.
"Alhamdulillah, beliau baik-baik saja." Jawab ku pura-pura sok tahu.
"Syukurlah. Saya senang mendengarnya. Untung saja Pak Wilan memiliki putra seorang dokter yang handal seperti Dokter Araf. Setidaknya Pak Wilan tidak merasa ketakutan.
Jaga kondisi pak Wilan dengan baik, sudah dua kali Nyonya Riska membawanya kerumah sakit akibat Serangan jantung mendadak. Jika hal seperti kemarin terjadi lagi, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada beliau." Ucap Dokter Mital memaparkan kondisi Papa.
Dadaku berdebar sangat kencang, seolah jantungku akan loncat keluar. Aku marah pada diriku sendiri, aku bahkan mengabaikan Papa, tak sekalipun aku pernah bicara baik dengannya. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku memeluk tubuh separuh bayanya. Sekarang aku benar-benar menyesal karena mengabaikan nasihat Sabina yang meminta ku dengan tulus agar bersikap baik pada Papa, aku mengutuk diriku sendiri. Aku tidak pernah sadar ternyata aku sangat kejam. Setelah dokter Mital meninggalkan ku sendiri, aku baru menyadari arti seorang Papa dalam kehidupan ku. Air mataku menetes.
"Apa masih ada yang tertinggal?" Aku bertanya tanpa menatap sosok yang memegang pundak ku dari belakang. Perlahan aku membalikkan badan, berharap itu Sabina.
Duarrr!
Bagai di sambar petir di siang bolong, aku terkejut luar biasa. Tidak menyangka akan melihat sosok yang tidak pernah ku lihat sejak sepuluh tahun trakhir. Akhirnya kami bertemu lagi. Apa ini mimpi? Sayang sekali, ini pasti bukan mimpi karena saat ini dia berdiri di depan ku, dia juga menyentuh pundakku.
...***...