Mr Love Love

Mr Love Love
Mulai Berbohong (Morgiana)



Untuk tugas kali ini kalian harus kerjakan dengan benar. Saya tidak akan menerima tugas kalian, jika saya mengetahui kalian menjiplak karya orang lain. Saya juga tidak akan mentoleransi kesalahan sekecil apa pun. Terima kasih atas kerja samanya dan sampai jumpa di pertemuan berikutnya. Selamat siang.


Aku tersenyum sambil merapikan buku, ucapan penutup dari Mas Ikmal sangat berkesan. Dia memang tegas, dan aku suka gayanya saat mengajar di kelas. Beberapa mahasiswa sekelas dua sahabat ku yakni Adel dan Kristi terkadang mengeluh dengan gaya Mas Ikmal saat mengajar. Sebenarnya itu tidak buruk, hanya saja sahabat ku itu terlalu manja untuk memeras otaknya.


"Ayo kita makan siang." Adel berusaha menarik lengan ku, sementara tangan ku yang satunya ia letakkan di atas perut ratanya.


"Kau bisa merasakan-nya? Perut rata ku sangat kelaparan. Rasanya aku akan pingsan." Oceh Adel sambil menyebikkan bibir tipisnya.


"Kapan kau merasa tidak lapar? Kau selalu saja lapar padahal tadi aku sudah memberimu roti lapis dan es kopi." Keluh Kristi sambil mencubit pelan perut datar Adel.


Mendengar percakapan kedua sahabat ku, aku hanya bisa menghela nafas kasar. Terkadang Kristi dan Adel membuat ku pusing dengan perdebatan kecil mereka namun merambat menjadi besar hanya dalam hitungan detik saja.


"Bi, kenapa kau diam saja? Apa kau tidak akan membela ku? Ucapan Kristi seolah mengatakan kalau aku sangat rakus." Adel menarik lengan ku pelan, sementara raut wajahnya mengabarkan kalau ia akan menangis. Tentu saja itu hanya pura-pura. Aku sangat mengenal kedua sahabat ku itu. Mereka gemar sekali bertingkah seperti sedang terzolimi, nyatanya mereka hanya pura-pura saja.


"Iya, baiklah. Ayo kita makan." Ucapku pelan.


Tanpa ku sadari sepasang mata sedang melihat tingkah laku kami bertiga. Ia tersenyum sambil memasukkan buku-bukunya kedalam tas.


"Apa kalian mau makan siang bersama ku? Bukan di kantin, tapi di Kafe dekat lampu merah. Bagaimana?"


Netra ku membulat, aku tidak percaya, dan aku tidak menyangka akan mendapat tawaran selangka ini. Rasanya aku ingin menolak namun si centil Kristi dan Adel malah rebutan mengiyakan ajakan itu sambil tersenyum lebar. Biasalah, mereka berdua sedang Caper, alias cari perhatian.


"Profesor Ikmal belum pulang? Bukankah tadi anda sudah keluar?" Adel bicara dengan nada suara lembut, dan untuk pertama kalinya aku melihatnya bersikap santun.


"Iya, benar. Tadi saya sudah keluar. Tanpa sengaja dua buku saya tertinggal. Mau tidak mau saya harus kembali untuk mengambilnya."


"Sering-sering lah seperti ini, saya senang bertemu dengan Professs...!" Ucapan Kristi tertahan di tenggorokannya karena Adel dengan cepat menutup bibirnya.


Iseng, aku melihat wajah Mas Ikmal, wajah itu memamerkan senyuman. Aku tahu dia tidak tergoda, hanya saja melihat sikap ceplas-ceplos kedua sahabat aneh ku itu memancingnya untuk tersenyum.


"Ya sudah, ayo kita berangkat!" Balas ku sambil tersenyum.


Mas Ikmal jalan di depan, kemudian aku dan dua sahabat ku, Adel dan kristi berjalan di belakangnya.


...***...


Tiga puluh menit kemudian kami berempat, aku, Mas Ikmal, Adel dan Kristi sampai di kafe. Untung lah siang ini tidak terlalu ramai, pesanan kami pun sudah tersedia di atas meja.


Sejujurnya aku merasa aneh dengan kondisi ini, aku merasa tidak nyaman keluar ketempat terbuka tanpa kehadiran Mas Araf.


"Nikmati makan siang kalian, dan jangan sungkan."


"Terima kasih Mas Ikmal atas teraktirannya."


"Apa? Mas? Aku tidak salah dengar?" Adel dan Kristi bertanya secara bersamaan, mereka menatap ku dan Mas Ikmal dengan tatapan heran.


"Aku tidak ingin kalian salah paham, jadi akan ku katakan sebelum kalian mulai menanyakan hal konyol.


"Sabina, Hay. What are you doing here?" Seseorang tiba-tiba memegang pundak ku dari belakang.


"Morgiana, kau? Ahh iya, aku sedang makan siang bersama sahabat ku. Kenalkan, yang ini Adel, dan itu Kristi." Ucapku sambil menunjuk Adel dan Kristi secara bergantian.


Morgiana menjabat tangan Adel dan Kristi, wajah cantiknya mengukir senyuman.


"Dan si ganteng ini adalah Profesor di kampus ku, dia kerabat kakak ipar Fatimah." Ucap ku lagi, kali ini sambil menunjuk Mas Ikmal.


"Hello..." Morgiana menjulurkan tangannya hendak menjabat tangan Mas Ikmal, namun dengan cepat Mas Ikmal menangkup kedua tangannya di depan dada.


Ku perhatikan wajah cantik Morgiana, wajah itu memamerkan kekecewaan. Namun dengan cepat aku menarik tangannya agar tidak larut dalam perasaan tidak berguna. Membawanya duduk di meja berbeda, tepatnya selang dua meja dari tempat Mas Ikmal dan kedua sahabat ku duduk.


"Apa yang membawa mu ke tempat ini? Kau tidak boleh pergi kemana pun tanpa di temani oleh siapa pun. Bagaimana jika kau kesasar?


Kau tahu sendiri kan, Mama. Beliau terlihat seperti Singa jika sedang marah. Jika kau butuh teman kau bisa menghubungi ku. Kau paham?" Tidak ada balasan dari Morgiana selain anggukan kepala.


"Sekarang katakan, kenapa wajah mu terlihat sedih? Apa hal buruk telah menimpa mu? Bukanlah aku sudah bilang, jika kau butuh sesuatu kau bisa minta tolong padaku atau pada Mas Araf. Kau saudari ku, bahagiamu dan keamanan mu adalah tanggung jawab ku juga." Sambung ku lagi, kali ini aku menatap wajah merunduk Morgiana. Entah apa yang sedang dia pikirkan sampai membuatnya tak bersemangat seperti biasanya.


Apa dia merindukan Mamanya? Setidaknya hanya pertanyaan itu yang ku punya untuk menggambarkan wajah murungnya.


"Kapan kau berencana kembali ke Kanada? Apa kau sangat merindukan tante Begum sampai kau merasakan kesedihan sebesar itu? Kau bisa kembali kapan pun yang kau inginkan. Mama tidak akan menahan mu."


"Sabina, sebenarnya aku sudah bertemu dengan pria itu." Ucap Morgiana sambil merunduk.


Netra ku langsung membulat mendengar penuturan singkat Morgiana. Tidak ada kebahagiaan yang menghiasi wajah cantiknya, justru sebaliknya dia terlihat putus asa.


"Kau sudah bertemu dengannya, lalu apa masalahnya? Apa kalian bertengkar?"


"Aku tidak bertengkar dengannya, justru sebaliknya aku sangat bahagia. Aku tahu pria itu menikah karena di jodohkan. Dia juga mengaku kalau dia tidak mencintai istrinya!"


Mendengar penuturan Morgiana membuat ku ingin mengelus dada, bagaimana dia bisa mengatakan hal serumit itu dengan sangat mudah? Aku tidak menyalahkan Morgiana dalam hal ini, aku malah kesal pada pria itu. Kenapa dia menceritakan rumah tangganya pada wanita asing? Entah itu cinta atau benci, entah itu bahagia atau derita tak seharusnya dia mengumbar urusan rumah tangganya pada pihak ketiga. Hal ini benar-benar membuat ku kesal. Aku ingin mengakhiri percakapan tidak berguna ini, sayangnya tatapan Mas Ikmal, Adel dan Kristi mencegah ku untuk pergi. Aku tidak ingin mereka menatap ku dengan tatapan kejam.


Hhmmm!


Aku menghela nafas sembari menatap Morgiana dengan tatapan tajam.


"Aku sudah bilang padamu, aku akan mendukung mu dalam segala hal. Tapi tidak dengan hal bodoh ini.


Pria itu sudah menikah, tak bisakah kau mencari yang lain? Aku sangat benci pada pria itu karena mengatakan dia tidak mencintai istrinya. Tapi di bandingkan dengan rasa benciku pada pria itu, aku jauh lebih benci padamu karena kau berusaha masuk dalam hubungan mereka.


Jangan katakan hal ini lagi di depan ku, karena darah ku terasa mendidih saat mendengar kisah omong kosong mu." Gerutu ku sembari bangun dan meninggalkan Morgiana sendiri.


Karena kesal aku bahkan tidak ingat pada Mas Ikmal, Adel dan Kristi. Aku pergi begitu saja tanpa menoleh kebelakang. Aku sangat takut, aku merasa seolah ada batu besar yang mengganjal di hati ku.


...***...