Mr Love Love

Mr Love Love
Membuat keputusan (Sabina)



"Kalian sedang apa? Apa kalian bertengkar?" Mas Araf mulai bertanya setelah ia melihat Morgiana berdiri di depanku.


"Tidak. Aku hanya bertanya kapan dia datang. Apa Mas Araf akan masuk kekamar?"


"Hmm!"


"Ya sudah, Mas Araf naik saja dulu. Aku akan segera menyusul.


"Baiklah. Kalian bicara saja. Permisi." Ujar Mas Araf lagi sambil berjalan menjauhi kami. Ia pergi sambil membawa buket bunga yang ada di tangan kanannya.


"Bukankah Mas Araf sangat romantis? Aku marah padanya dan sekarang dia membawa bunga untuk menenangkan ku. Sekarang katakan, dimana letak masa lalu itu? Kau tidak perlu memikirkan jawabannya. Karena aku takut kau akan terluka.


Perasaan sedih akibat diabaikan oleh orang yang kau cintai jauh lebih menyakitkan dari sekedar luka biasa. Karena itulah aku memintamu untuk mundur secara sukarela karena aku tidak ingin kau terluka. Bukannya menerima nasihatku, kau malah menantangku." Celoteh ku lagi, berharap kali ini Morgiana mau menerima nasihat.


"Sabina, pergilah dengan angan-angan kosongmu. Jangan bicara padaku jika kau hanya akan menasihatiku dengan ucapan tidak berguna.


Entah aku bahagia atau menderita, aku sendiri yang akan mengaturnya. Yang perlu kamu lakukan hanya mempersiapkan dirimu uutuk terluka." Balas Morgiana dengan sadar.


Hmm!


Aku menghela nafas kasar, bicara pada Morgiana sama saja bicara dengan tembok. Tidak ada solusi dan tidak ada nasihat yang bisa menembus hati kerasnya.


"Baiklah. Lakukan apa pun yang bisa kamu lakukan, kamu menunggu, aku juga menunggu. Aku tetap berusaha memperingatkanmu agar kamu tidak terluka, tapi kamu sendiri yang mengundang derita." Ucapku sambil menyentuh lengan Morgiana. Aku meninggalkannya sendirian di ruang tengah kemudian berjalan menuju kamar ku dan Mas Araf yang ada di lantai dua.


Lima menit kemudian aku sudah ada di kamar. Seperti biasa, walau aku kesal aku harus tersenyum untuk menyembunyikan kekesalanku di depan Mas Araf.


Troetttt!


Pintu kamar mandi di buka dari dalam, menampakkan wajah tampan Mas Araf yang memamerkan senyuman. Tubuh kekarnya hanya di balut oleh handuk putih yang melingkar di pinggang.


"Apa ada masalah? Kenapa wajah wanita tercantik di dunia milikku ini terlihat kesal?"


"Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku rasa karena kehamilan ini emosiku jadi tidak stabil." Jawabku tanpa berani menatap wajah tampan Mas Araf, jika aku berani melakukan itu sudah pasti aku akan ketahuan. Ketahuan berbohong. Sungguh, aku pembohong yang buruk.


"Honey, kenapa Reem ada disini? Ahhh, maaf. Seharusnya aku tidak perlu mengatakan itu karena kalian berdua adalah saudara dan sesama saudara harus saling mengunjungi."


"Tidak. Itu tidak benar, walaupun kami saudara kami tidak begitu dekat. Walau kami tidak begitu dekat aku sangat menyayangi Morgiana.


Mama memintanya datang untuk menyiapkan pesta, Morgiana bilang semua tanggung jawab untuk persiapan pesta akan di urus olehnya. Apa Mas Araf keberatan? Jika iya, aku akan meminta Mama membatalkannya."


"Tidak. Itu tidak perlu. Ini hanya untuk satu hari saja." Balas Mas Araf dengan suara rendah.


Sedetik kemudian aku berjalan kearah Mas Araf, mengambil handuk dari tangannya kemudian mengeringkan rambut hitamnya.


...****...


Waktu menunjukan pukul 23.00 ketika aku keluar dari kamar, sebenarnya aku sangat mengantuk. Namun rasa haus ini mulai mengusik ku. Netra ku menerawang kesegala arah. Menatap sekeliling rumah penuh dengan rasa takjub.


Lumayan! Aku bergumam di dalam hati mengagumi dekorasi karya Morgiana. Ku akui berkat sentuhan jemari lentiknya rumah yang ku tempati bersama Mas Araf selama enam bulan ini terlihat lebih bersinar, lebih indah di banding hari-hari sebelumnya.


"Nyonya butuh sesuatu?"


"Aahh, maaf. Seharusnya saya tidak perlu bertanya."


Aku tidak mengatakan apa pun, namun melihatku berdiri di depannya membuat Mbak Tuti merasa ketakutan. Apa aku membuat kesalahan? Bukankah selama ini aku tidak pernah bertindak kasar pada siapa pun?


"Maaf Nyonya, sepertinya kami mengganggu Nyonya. Seharusnya kami di kamar."


"Tidak apa-apa. Aku tidak pernah merasa di ganggu dengan kehadiran kalian. Aku merasa haus, karena itu aku keluar untuk minum." Ucapku pada Art yang usianya lima tahun di atasku.


"Maaf Nyonya, sepertinya Mbok lupa menaruh air di kamar Nyonya." Ucap Tuti menyesal.


"Berhenti mengucapkan kata maaf. Aku bukan penggemar kata itu. Jika Mbak Tuti merasa menyesal, ajak Rima istirahat, anak manis itu pasti merasa kelelahan.


Bukankah aku sudah bilang Mbak Tuti tidak boleh memintanya bekerja? Dia masih kecil, dan di usianya ini waktunya dia bermain." Celotehku karena aku sedikit kesal.


"Maaf Kakak cantik, ini bukan salah Ibu. Rima tidak bisa bobok karena itu Rima meminta Ibu mengajak Rima ke dapur." Ucap Bocah manis di depanku dengan kepala tertunduk.


"Tidak bisa bobok? Kenapa? Apa Ibu mengganggu Rima? Jika iya, katakan saja. Kakak cantik janji Kakak cantik akan menghukum Ibu. Bagaimana?"


Rima. Bocah manis itu menggelengkan kepala sambil menatap netra teduh ku. Sedetik kemudian, dan tanpa ku duga bocah manis itu langsung memelukku.


"Rima sayang Kakak cantik, dan Rima tidak suka Kakak penyihir."


"Kakak penyihir? Siapa? Rima tidak boleh berkata seperti itu. Bukankah kakak selalu bilang kita tidak boleh menghina orang lain karena jika kita menghina orang lain itu artinya kita menghina..." Ucapan ku tertahan di tenggorokan, aku menatap Rima sembari menanti responnya.


"Menghina yang telah menciptakannya." Ucap Rima pelan.


"Siapa yang menciptakan kita?" Aku bertanya sambil melepaskan pelukan Rima.


"Allah." Balas Rima singkat.


"Bagus. Sekarang Rima kita sudah pintar. Sekarang katakan, siapa yang kau maksud Kakak penyihir?" Aku kembali bertanya untuk kesekian kalinya.


Mbak Rita yang mendengar pertanyaanku langsung memberikan isyarat agar Rima menutup mulutnya.


"Tidak perlu takut, aku tidak akan marah." Ucapku sambil melipat kedua tangan di depan dada.


"Kakak cantik, aku melihat Kakak penyihir itu masuk kedalam kantor Tuan. Dia melempar foto pernikahan kalian, setelah itu dia tertawa sambil mencium foto Tuan."


Mendengar penuturan Rima dada ku bergemuruh. Aku yakin, seribu persen yakin Kakak penyihir yang di maksud Rima pasti Morgiana. Jadi itu alasannya. Alasan Morgiana membentak Rima.


Mas Araf yang malang, kenapa dia bisa terlibat dengan Morgiana? Harus ku apakan gadis bodoh itu? Dia berani melempar foto pernikahanku? Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya. Lihat saja besok, apa yang bisa ku lakukan untuk menghentikan kekoyolannya! Gerutuku dalam hati, gigiku bergemeletuk menahan amarah. Rasanya aku ingin membuat perhitungan dengan sepupu menyebalkanku itu, sayangnya aku tidak bisa melakukan itu karena ini waktunya untuk istirahat bukan untuk bertengkar.


...***...