
Apa ini? Kenapa pemandangan aneh ini tersaji di depan ku? Apa aku bermimpi lagi? Jika ini mimpi aku ingin segera bangun. Aku tidak suka dengan mimpi ini. Mimpi ini terlalu buruk untukku! Aku bergumam di dalam hati, bibirku menganga, aku sangat terkejut sampai-sampai aku tidak sanggup untuk berdiri tegap.
Hampir saja aku terjatuh, untungnya tangan wanita yang berada di dekat ku langsung memegang kedua lengan ku.
"Apa Mas Araf baik-baik saja? Jika Mas Araf sakit, ayo kita kekamar."
Sabina, aku bersyukur dia datang dengan segera. Apa yang akan ku lakukan jika aku terjatuh di depan wanita lain? Yaaaa, saat ini aku berdiri di depan wanita lain. Rasanya aku tidak ingin menatap sosok sempurna yang saat ini berdiri di depan ku.
"A-aku tidak apa-apa!" Ujar ku pelan sambil merunduk.
"Mas Araf ingat? Bukankah aku pernah bilang ingin mengenalkan sepupu ku padamu? Dia lah orangnya, dia sepupu yang ku bilang datang dari Kanada.
Sebenarnya aku ingin mengenalkan kalian sejak lama. Sayang sekali, aku bahkan tidak punya kesempatan untuk itu.
Morgiana, perkenalkan. Dia suamiku, dia pria terbaik yang pernah ku temui. Jika kau bilang aku salah karena menerima pernikahan yang di jodohkan Mama dan Papa maka jawabannya kau salah besar. Usia kami memang terpaut sedikit jauh, walau demikian, bagiku itu bukanlah halangan." Ujar Sabina sambil menatap sepupunya dengan wajah tersenyum.
"Nona Muda, Nyonya Nani memanggil anda. Beliau bilang anda di minta kekamar Opa Ade dengan segera." Pinta Art separuh baya sambil menenteng minuman yang ia bawa untuk tamu undangan.
"Iya, baiklah. Aku akan datang." Jawab Sabina, ia memegang lengan Art separuh bayanya.
"Mas, aku permisi sebentar yaaa? Kalian ngobrol saja, aku akan segera kembali." Ucap Sabina tanpa ragu-ragu. Dia benar-benar pergi meninggalkan ku dengan sepupunya. Dia benar-benar tidak tahu kalau situasi ini sangat menakutkan dari pada aku terperangkap di kandang Singa atau Buaya.
Reem?
Wanita itu akhirnya muncul lagi. Aku benar-benar bingung, bagaimana bisa dia muncul sebagai sepupu Sabina? Takdir buruk apa yang sedang berperan dalam kehidupanku? Hal ini membuat ku takut! Sekujur tubuh ku merinding.
Tuhan... Sepertinya masa lalu ku akan menjadi noda yang tak kan mudah untuk di hilangkan. Bagaimana cara ku keluar dari masalah ini? Haruskan aku menghilang dari dunia ini agar aku tidak akan terbebani oleh hal yang tidak perlu ku ingat lagi? Aku bergumam di dalam hati sambil mengelus dada.
"Laurent? Aku benar-benar senang bisa bertemu dengan mu. Ini kejutan yang sebenar-benarnya!" Ujar Reem sambil menyipitkan mata. Sedetik kemudian netranya membulat sempurna.
"Selama ini aku mencari mu kemana-mana. Aku benar-benar bodoh sampai tidak menyadari kalau kau ada di dekat ku. Katakan padaku, apa yang harus kulakukan agar semuanya baik-baik saja? Aku ingin kita kembali menjadi teman. Teman yang bisa berbagi segala hal."
Huekkkk!
Rasanya aku ingin muntah mendengar ucapan Reem. Aku tahu, aku benar-benar sangat mengetahui kemana arah pembicaraan ini akan berlangsung. Aku tidak ingin mendengar apa pun, aku harus meninggalkan Reem sendiri. Jika tidak, aku pasti akan terlibat masalah yang besar. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana Sabina menceritakan kemarahan sepupunya karena menentangnya mencari mantan kekasihnya.
"Reem. Aku tidak menyangkan akan bertemu dengan mu seperti ini dan disini. Tapi jujur, aku tidak bisa berteman dengan mu karena aku memiliki istri yang harus ku jaga perasaannya." Balas ku menolak secara halus.
"Laurent, Sabina tidak keberatan jika kita menjadi teman. Lalu apa masalah mu?"
"Masalah ku? Masalah ku, kamu Reem! Aku tidak ingin karena masa lalu, masa depan ku jadi terganggu. Sabina tidak tahu sepupu yang sering ia bicarakan adalah mantan kekasih suaminya sendiri.
Baru saja aku akan melangkahkan kaki meninggalkan Reem, Sabina datang sambil tersenyum. Jika dia melihat wajah kesal ku, dia pasti akan sedih. Untuk pertama kalinya aku pura-pura tersenyum di depan Sabina, hanya ini yang bisa ku lakukan untuk menutupi kekesalan ku pada sepupunya. Apa yang harus ku katakan padanya? Aku sangat takut mengatakan kalau Morgiana yang ia kenal tak lain adalah Reem yang ia ketahui sebagai mantan kekasih ku dulu. Semua ini membuat ku kesal.
"Mas Araf mau kemana? Duduklah bersama kami!"
mendengar ucapan tulus sabina membuat ku ingin mengelus dada, ucapan apa yang harus ku katakan di depannya agar aku tidak terlibat dengan Reem lagi? Menolak Sabina hanya akan membuatnya curiga kalau aku membenci sepupunya.
"Baiklah. Ayo kita duduk!" Ucap ku cepat tanpa menatap Reem yang saat ini berdiri di samping Sabina. Reem merunduk, aku tahu dia sedang tersenyum bahagia. Seperti kata Sabina, kebiasaan lama memang susah di sembuhkan.
Saat ini Kami duduk di meja nomer delapan, aku serasa mati kutu. Tak ada yang bisa ku katakan dan tak ada yang bisa ku lakukan. Aku bagai Merpati yang tidak bisa mengepakkan sayapnya agar bisa terbang bebas.
"Mas Araf tidak makan? Bukankah tadi Mas Araf bilang Mas Araf lapar? Tunggu di sini, akan ku ambilkan sesuatu yang kau sukai." Ucap Sabina sambil berdiri dari tempat duduknya.
Dengan cepat aku menggenggam jemari Sabina agar dia tidak pergi kemanapun, aku tidak ingin Sabina meninggalkan ku dengan Reem. Aku tidak bisa menyalahkannya karena membiarkan ku duduk dengan sepupunya, dia tidak tahu apa pun.
"Kenapa? Aku tidak akan pergi jauh dari mu. Aku bahkan akan menempel seperti permen karet sehingga kau tidak akan lepas dariku." Ujar Sabina lagi, kali ini netra indahnya berkaca-kaca, terpancar berjuta-juta ketenangan disana. Aku merasa tenang hanya dengan manatap Sabina. Semoga bahagia ini tidak akan mendapat gangguan dari siapa pun.
"Gi, apa kau lapar? Jika kau lapar, akan ku ambil sesuatu untuk mu!"
"Tidak Sabina, terima kasih."
"Aku lupa, kau tidak suka makan apa pun di malam hari. Tapi sekarang kau harus mencobanya, berat badan mu tidak akan bertambah hanya karena makan sepotong kue."
Aku benar-benar tidak ingin terlibat dengan percakapan dua saudara ini, duduk bertiga dalam posisi ini sangat mengganggu ku. Sabina ku yang malang, dia bahkan bersikap seperti pahlawan. Apa senyumnya akan setulus malam ini jika dia tahu hubungan ku dengan sepupunya? Bahkan pertanyaan ini terus saja mengganggu ku. Aku meraih air mineral di meja dan segera memasukkannya kemulut. Aku terlalu haus karena memikirkan masalah ini.
"Bagaimana hasil-nya? Maksud ku, apa kau sudah bertemu dengan mantan kekasih mu? Apa kalian sudah bicara? Apa katanya?
Dengar Morgiana, aku mendukung semua keputusan mu. Satu hal yang harus kau ingat, kau tidak boleh mengganggunya jika dia sudah menikah."
Puhhhhhh!
Semua air yang ada di mulut ku langsung muncrat mendengar ucapan Sabina. Aku tersedak. Aku mulai batuk-batuk.
Uhuk.Uhuk.Uhuk.
Dengan sigap Sabina menepuk pundak ku pelan. Untuk sesaat aku menatap wajah cantik Reem, kecantikannya tetap sama seperti dulu. Ku perhatikan wajah itu sama terkejutnya seperti ku, bagaimana mungkin Sabina mendukungnya semudah itu. Aku harus mengatakan segalanya malam ini, aku tidak ingin masalah ini membuat kesalah pahaman antara aku dan Sabina di kemudian hari.
...***...