
Dua jam sebelumnya Sabina mengirimi ku pesan agar segera menjemputnya di rumah Mama mertua.
Sejujurnya aku tidak ingin menginjakkan kaki ku di rumah megah Mama mertua, namun apalah daya ku, Sabina ada disana sejak sore karena kondisi Opa Ade yang semakin menurun. Memikirkan bertemu dengan Reem membuat ku merasa takut. Aku takut Sabina akan salah paham.
Entah kenapa setiap kali aku ingin menceritakan masa lalu ku dengan sepupunya itu seolah keadaan tidak berpihak padaku, contohnya pagi ini.
Pagi ini aku berniat tidak akan kerumah sakit dan menceritakan segalanya pada Sabina. Sayangnya Mama mertua menelpon sambil menangis, untunglah Opa Ade baik-baik saja. Setidaknya malam ini Sabina tidak akan menginap disana dan aku bisa leluasa menceritakan semua resah dan gelisah ku padanya.
"Selamat malam tuan Dokter. Apa kabar?"
"Kabar saya baik Mang. Mang Udin sendiri apa kabar?" Balas ku menyapa Sekuriti yang bertugas di post satpam.
"Kabar saya baik Tuan. Apa Tuan Dokter akan menjemput Nona Sabina?"
"Iya, Mang. Aku akan menjemput istri ku. Aku sengaja tidak mengizinkannya membawa mobil karena aku suka saat dia mengirimi ku pesan untuk menjemputnya. Aku juga sangat suka saat dia menggerutu karena aku terus saja menggodanya." Ucap ku berterus terang. Wajah tampan ku di penuhi senyuman.
"Hahaha. Ternyata kenakalan saya sama seperti Tuan Dokter. Saya juga selalu melakukan hal yang sama pada istri saya. Rasanya saya tidak bisa hidup bila saya tidak menggodanya. Hari saya terasa berwarna saat saya melihat senyumannya. Dan dunia saya terasa terhenti saat saya melihat air mata menetes dari mata indahnya." Ucap Mang Udin sambil menatap kelangit. Aku yakin dia sedang merindukan istrinya yang saat ini ada di kampung halaman karena anak mereka sedang lahiran.
"Baiklah Mang, saya permisi. Saya harus masuk!" Ucap ku sambil melambaikan tangan.
Kediaman Papa Otis dan Mama Nani berdiri kokoh dengan bangunan megah yang terlihat menakjubkan. Di lihat dari depan, samping kiri dan kanan tetap saja terlihat indah, sekarang aku baru menyadari kalau aku menikahi seorang putri Raja. Tentunya bukan putri Raja yang manja.
Ternyata ucapan Alan ada benarnya, kalau adik perempuannya sangat spesial. Dia bahkan lebih berharga dari permata dan lebih berkilau dari apa pun, dia sebening embun di pagi hari, tidak ada cacat yang terdapat dalam dirinya, bukankah aku sangat beruntung mendapatkan wanita sekelas Sabina Wijaya? Walau ada yang tidak sependapat dengan ku, aku tidak perduli itu. Karena aku tahu Sabina lebih berharga dari apa pun yang ku miliki.
Baru saja aku turun dari mobil dan bersiap akan masuk ke dalam rumah, tiba-tiba tangan ku di tarik dari belakang. Betapa terkejutnya diriku saat mendapati sosok yang menarik tangan ku dengan paksa. Rasanya aku ingin berteriak namun ku urungkan karena aku tahu kondisi Opa Ade sedang tidak baik-baik saja.
"Apa kau tidak waras? Lepaskan tangan ku!" Ucap ku kasar begitu kami sampai di taman belakang, aku menepis tangan Reem yang masih menggenggam erat jemari ku.
Bukannya menghiraukan ucapan ku, Reem malah semakin mendekat, memeluk ku sangat erat sambil menangis pilu. Ia mulai menenggelamkan kepalanya di dada bidang ku. Sungguh, aku merasa risih padanya. Sangat risih sampai tubuh ku bergetar hebat. Aku mendorong tubuh Reem dengan keras membuat ia terjatuh dan bersimpuh di rumput hijau yang sengaja di pelihara oleh tukang kebun atas permintaan Sabina.
"Ada apa dengan mu? Aku suami saudari mu, berani sekali kau memeluk ku seperti itu. Anggap semua ini tidak pernah terjadi, jika kau berani melakukan hal yang sama seperti tadi maka aku akan melupakan kalau kau kerabat istri ku." Ucap ku dengan amarah memuncak.
Mendengar ucapan kasar, Reem bangun dan berdiri sembari menatap ku dengan derai air mata yang masih menganak sungai.
Sekeras apa pun tangisan Reem, aku tidak akan pernah bisa menghapus air matanya karena ada hati yang harus ku jaga agar tetap merasakan bahagia yakni Sabina Wijaya, wanita satu-satunya yang ku cintai saat ini, dan rasa ini tidak akan pernah bisa tergantikan.
"Aku mohon Laurent, bersikap baiklah pada ku! Aku jauh-jauh datang ke tempat ini hanya untuk mu. Tak bisakah kau melihat mataku?
Aku merindukan mu seperti orang gila. Aku akan mencoba menjadi wanita terbaik untuk mu. Ayo kita mulai lagi semuanya dari awal. Aku hanya melihat mu dalam mimpi ku. Dalam hidup ku, aku hanya menginginkan mu. Berikan aku kesempatan kedua, tolong." Ucap Reem dengan nada suara putus asa, dia bahkan menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Jujur, saat ini aku sangat marah. Kemarahan ku memenuhi seluruh pori-pori tubuh ku. Bukannya bahagia mendengar ucapan Reem, rasanya aku ingin muntah. Aku bukan pria murahan yang akan mengumbar kata cinta ke sembarang wanita.
Aku sangat membenci satu kata itu. Sedetik pun aku tidak pernah berpikir untuk melakukan hal buruk itu, semoga yang Kuasa selalu melindungi ku agar terhindar dari perbuatan nista itu.
"Kau benar-benar tidak waras! Bagaimana kau bisa mengucapkan ucapan itu dengan sangat mudah setelah mengetahui aku suami dari saudari mu sendiri." Ucap ku dengan amarah yang masih memuncak.
Jika tetap berada di dekat Reem, aku khawatir tidak akan bisa menahan diri ku untuk tidak menyakitinya, aku bergegas untuk pergi. Sayangnya, menjauhi Reem yang mulai kehilangan akal tidak mudah bagiku, ia menarik lengan ku kemudian menyambar bibirku.
Untuk sesaat aku berdiri mematung, karena terkejut aku tidak bisa menghindari ciuman yang di paksakan Reem, bibir kami saling menempel untuk sekian detik.
Plakkkk!
Satu tamparan keras ku arahkan ke wajah cantik Reem, wajahnya tertoleh ke kiri. Ku perhatikan wajah cantik itu mulai memerah.
"Apa masalah mu? Aku bilang aku mencintaimu! Tak bisakah kau menatap ku dengan tatapan cinta?" Ucap Reem dengan nada suara tinggi. Ia mendorong tubuh kekar ku sampai aku mundur beberapa langkah, matanya mulai memerah di penuhi amarah.
"Hiks. Hiks. Dan sekali lagi aku menyadari kau tidak pernah tergantikan! Ayo kita mulai dari awal lagi? Tinggalkan istri mu, toh kalian menikah karena terpaksa." Sambung Reem lagi.
Sekujur tubuh ku terasa mati rasa, ucapan Reem bagai anak panah yang langsung menembus jantung ku. Bagaimana dia bisa memikirkan hal seburuk itu? Aku bahkan tidak bisa bernafas tanpa melihat wajah cantik Sabina, berani sekali dia memintaku berpisah dari istriku yang sangat ku hargai melebihi nyawa ku sendiri.
Aku kembali mengangkat tangan ku hendak menampar Reem, untungnya aku kembali ke akal sehat ku dan menghentikan niat buruk itu, meladeninya hanya akan memperpendek usia.
"Why do I love you like I do?" (Mengapa aku mencintai mu seperti itu?) Ucap ku dengan nada suara rendah.
"Aku benar-benar bodoh. Kenapa dulu aku mencintai mu seperti itu? Kau wanita kejam dan tidak punya perasaan." Sambung ku lagi sambil menatap Morgiana Reem Ayslay dengan tatapan tajam.
Araf... Apa yang kau lakukan? Cepat pergi dan jangan menunda lagi. Ceritakan segalanya pada Sabina sebelum semuanya berubah menjadi masalah. Gumam ku berjalan dengan tangan terkepal.
Aku melangkah pergi meninggalkan Reem sambil membawa amarah ku yang masih memuncak. Sekujur tubuh ku merinding mengingat bagaimana Reem menyambar bibirku dengan buas. Aku tidak bisa mengendalikan amarah ku, wajah cantiknya bahkan tak luput dari tamparan keras ku.
...***...
Fyi....
Masih ingatkan kisah Fazila sang hafizah cilik? Sekarang Fazila sudah tumbuh dewasa dan cantik.
Sebelumnya karya ini gak pernah di promosiin, karena udah ada orang yang mampir dan baca sekalian aja authornya promosiin. Bagi sahabat yang ingin mengetahui kisah dewasa Fazila silahkan mampir di...