Mr Love Love

Mr Love Love
Salah Paham



"Mam... Sabina melupakan hal penting di rumah. Sepertinya Mas Araf akan membutuhkan sedikit waktu untuk bisa sampai disini. Jika beliau datang, katakan padanya aku sudah pulang dan akan menunggunya di rumah." Ujar ku sambil menatap wajah penuh senyuman Mama terbaik di dunia.


Tidak ada bantahan dari Mama, beliau mencium kening ku sambil berucap 'Iya' setelah mendapat izin darinya tidak ada lagi yang harus ku tunggu di Mansion kepunyaan Papa.


Sejujurnya saat meminta izin dari Mama air mata ku hampir saja menetes. Namun dengan cepat aku memeluk Mama kemudian menghapus sudut mata dengan punggung tangan ku.


"Ya Allah... Bagaimana nasib rumah tangga yang baru saja ku bangun? Ucapan Mas Araf untuk Morgiana terasa bergema di telinga ku. Aku tidak akan marah jika dia jujur tentang perasaannya untuk Morgiana.


Aku marah karena dia bertemu di belakang ku, aku juga marah karena dia tidak pernah mengatakan apa pun di depan ku. Haruskah aku bertanya padanya? Atau aku harus marah padanya? Memikirkan semua ini membuat ku merasa kesal" Ucap ku sambil menyeka air mata.


Hati ku terasa sakit, entah apa yang membuat ku merasakan sakit sebesar ini? Apa cinta yang ku rasakan untuk Mas Araf melebihi dari yang ku duga? Bagaimana cara ku agar bisa bangkit dari rasa sakit ini? Sungguh, aku tidak pernah merasakan sakit sebesar ini sebelumnya. Jiwa ku terasa hampa dan tubuh ku terasa bagai di tusuk benda tajam, sangat sakit sampai tidak bisa di gambarkan dengan sekedar kata-kata.


Cekrekkk!


Suara pintu di buka dari luar, aku yakin yang datang tanpa mengetuk pintu pasti Mas Araf. Entah apa yang ku pikirkan, aku bergegas menarik selimut dan pura-pura tidur.


Wangi yang bersumber dari tubuh kekar Mas Araf membelai lembut indra penciuman ku. Sanggupkan aku tidak meneteskan air mata tanpa menatap wajah tampannya? Perlahan, aku kembali menarik selimut hingga menutupi wajah sedih ku.


"Honey, apa kau sudah tidur?"


Tidak ada jawaban dari ku karena aku memang tidak bisa bicara, jika aku bicara Mas Araf pasti tahu kalau aku sedang menangis di bawah selimut. Menangis dalam diam membuat dada ku terasa semakin sesak.


"A-ada apa ini?" Tanpa ku duga Mas Araf menyingkap selimut yang ku gunakan untuk menutup diri. Betapa terkejutnya ia saat mendapati ku sedang meneteskan air mata.


"Honey, ke-kenapa kau menangis? Apa aku melakukan kesalahan? Katakan pada ku?" Ucap Mas Araf dengan suara serak.


Aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan curiga, aku tidak ingin mendengar apa pun, aku khawatir saat Mas Araf membuka mulutnya dia akan berbohong pada ku. Sementara aku? Aku sangat benci dengan kebohongan.


"Tolong katakan sesuatu, aku tidak bisa melihat mu seperti ini."


"Aku harus mengatakan apa Mas? Apa?" Ucap ku dengan suara pelan.


"Aku bahkan tidak bisa marah setelah melihat dan mendengar semua omong kosong Mas Araf dan dan Morgiana di taman belakang, haruskah aku bahagia? Atau aku harus pergi agar kalian bahagia?" Celoteh ku sambil merunduk, aku masih saja tidak bisa menahan air mata. Semua ini terlalu tiba-tiba dan terlalu menyakitkan.


"Bi... Semua ini hanya salah paham. Aku bisa jelaskan semuanya."


"Mas Araf harus jelaskan dari mana? Apa dari Morgiana memelukmu? Atau saat kalian saling berciuman? Aku tidak suka semua ini. Aku merasa kesal, dan aku tidak bisa mengerti semua ini." Ujar ku sambil menghapus sudut mata dengan punggung tangan ku.


...***...


Salah paham...!


Hanya itu yang terlintas di benak ku saat aku mendengar ucapan yang keluar dari lisan Sabina. Aku mengerti kemarahannya, siapa pun yang berada di posisinya akan mengatakan hal yang sama, lagi pula wanita mana yang tidak akan marah melihat suaminya di peluk dan di cium di depan matanya sendiri. Aku merasa beruntung karena Sabina tidak menampar ku, sekarang aku baru menyadari ternyata Sabina ku merasakan cemburu, aku sangat bahagia karena mengetahui semua itu. Dan syukurnya dia tidak cemburu buta.


Terkadang rasa cemburu bisa membuat orang menjadi gelap mata. Berpikir dengan mengakhiri hidup orang lain akan membuatnya bahagia, namun itu tidak benar. Menyakiti orang lain hanya karena alasan cemburu sejatinya hanya akan menyakiti dirimu sendiri melebihi dari yang kamu bayangkan.


Waktu sudah menunjukan pukul 2.30 sayangnya aku masih tidak bisa memejamkan mata, memikirkan ucapan Sabina dan menatap matanya yang basah membuat sekujur tubuh ku terasa mati rasa. Aku sangat sedih sampai tidak bisa mengontrol emosi ku.


Ku tatap punggung Sabina, dari belakang dia tampak baik-baik saja namun aku tahu saat ini dia pasti sedang menangis.


Melihatnya menangis dalam diam jauh lebih menyakitkan dari pada ia meraung dan meronta di depan ku. Aku tidak ingin masalah ini semakin berkepanjangan. Aku juga tidak mau masa lalu ku membuat masa depan ku menjadi kelam. Tidak ada pilihan bagi ku selain membalik tubuh Sabina dan bicara dari hati ke hati dengannya.


Seperti yang ku pikirkan, Sabina memang masih terjaga. Netranya mulai bengkak.


"Ayo kita bicara. Tidak perlu menangis lagi, menangis tidak akan menyelesaikan masalah." Ujar ku sambil mengangkat tubuh Sabina yang berbaring di samping kiri ku.


"Biarkan aku sendiri, Mas."


"Aku tidak mau. Kita harus bicara agar ke konyolan ini segera selesai." Balas ku dengan nada suara pelan namun tetap berwibawa.


"Lima menit. Waktu Mas Araf hanya lima menit. Selebihnya aku tidak akan mendengarkan ucapan mu lagi." Ujar Sabina sambil menatap wajah sedih ku. Sedetik kemudian dia kembali mengalihkan tatapannya dari wajah tampan ku.


"Seperti yang kau tahu, saudari sepupu mu memang wanita dari masa lalu ku.


Jujur... Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya seperti ini. Ini juga sangat mengejutkan bagi ku. Tolong pahami aku! Dan tolong bersabarlah dengan ku! Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan segera. Aku juga sangat membenci situasi ini." Ucap ku menjelaskan panjang kali lebar.


Ku tatap wajah Sabina, wajah itu memamerkan kesedihan luar biasa. Aku tidak menyalahkannya, dia berhak marah padaku, perempuan mana yang rela melihat suaminya di cium di depan matanya oleh wanita lain, ini memang bukan kesalahan ku sepenuhnya, aku terlalu bodoh sampai tidak bisa memprediksi Reem akan senekat itu.


"Honey... Tolong maafkan aku." Ucap ku lagi dengan suara lirih.


Aku menggenggam jemari lentik Sabina, air mata ku hampir saja menetes. Dada ku terasa sesak. Ternyata benar yang di ucapkan Mang Udin, dia bilang saat melihat istrinya meneteskan air mata dunianya terasa terhenti, dan sekarang itulah yang kurasakan, dunia ku terasa terhenti. Aku merasakan sakit luar biasa saat melihat Sabina terus saja meneteskan air mata.


...***...