
Dadaku masih berdebar dengan cepat, aku merasa seolah jantungku akan loncat keluar.
Mama?
Beliau masih berdiri mematung dengan amarah yang masih terpendam.
Morgiana?
Dia pun mematung, duduk di sofa dengan wajah penuh penyesalan. Aku tidak pernah tahu kalau Morgiana aktris yang hebat. Bukannya mengatakan apa pun di depan Mama dan Papa, dia malah memilih diam seolah hanya aku yang bersalah.
"Aunty... Apa Aunty merasa lebih baik?"
Netraku menatap tajam kearah Morgiana, ia bertanya apa Mama baik-baik saja? Apa aku tidak salah dengar? Hanya dengan menatap wajah Mama saja aku bisa tahu kalau saat ini beliau sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana beliau bisa baik-baik saja setelah beliau menampar putri kesayangannya.
Aku bahkan masih meneteskan air mata. Sungguh, aku tidak menyesal karena sudah menampar Morgiana, aku bahkan berpikir seharusnya aku melakukan ini lebih awal sehingga dia tidak akan berani melewati batasannya. Tapi...
Hiks.Hiks.Hiks.
Suara tangisku kembali pecah.
Sungguh, aku sangat menyesal. Menyesal karena Mama dan Papa melihat sisi burukku. Selama ini beliau selalu mengajarkanku dan Kak Alan agar menjadi anak penurut dan penyabar.
Aku tahu kenapa Mama terlihat shock, beliau pasti merasa gagal. Gagal menjadi orang tua yang membuat anak-anaknya menjadi sosok penyabar. Apakah aku bersalah karena menampar Morgiana? Jika ada yang bertanya maka jawabannya aku sama sekali tidak menyesali hal itu.
"Sekarang katakan, ada apa ini? Apa kalian akan tetap diam?" Mama membuka suara di antara senyapnya udara. Amarahnya mulai mereda, namun aku tahu beliau tidak akan tinggal diam sebelum masalah ini di selesaikan hingga keakar-akarnya.
Degggg!
Aku tersentak. Dan di saat bersamaan aku juga merasakan takut, takut luar biasa.
Lalu, bagaimana dengan Mas Araf? Aku yakin Mama tidak akan melepaskan Mas Araf. Aku tidak ingin berpisah dengannya. Semua ini terasa sangat menyakitkan. Sekarang aku merutuki kebodohanku, kebodohanku karena membawa masalah ini sampai ke rumah Mama. Seandainya aku meminta Morgiana bertemu di tempat lain maka semua ini tidak akan terjadi.
Aaaaaaa!
Aku berteriak di dalam hati, berharap semua ini hanya mimpi. Sayang sekali, semua ini memang nyata dan aku merasa sangat tertekan.
"Aunty, sebenarnya Sabina menuduhku merebut suami sahabatnya. Dia bilang aku perempuan ****** yang tidak bisa membalas balas budi."
Glekkkk!
Aku menelan saliva. Inilah yang ku takutkan dari Morgiana. Aku takut ketika dia membuka mulutnya yang keluar hanya sampah saja. Seingatku, aku bahkan tidak pernah memanggilnya ******, lalu dari mana dia memungut kata-kata kasar itu?
"Mam. Itu tidak benar! Aku tidak pernah mengatakan hal seburuk itu." Timpal ku setelah tangisku mulai reda.
"Aunty... Sabina mengusirku." Morgiana mengukuhkan dirinya kalau aku lah yang bersalah.
Iya, aku memang mengusir Morgiana. Apa yang harus ku katakan sekarang? Aku tidak mungkin memberitahukan Mama kalau Morgiana pernah menjalin kasih dengan Mas Araf dan mereka hampir memiliki anak. Aku benar-benar tidak sanggup.
Ya Allah... Aku dalam masalah besar. Aku bergumam di dalam hati sembari menghapus sudut mata dengan punggung tanganku.
"Iya, aku mendengarnya. Aku juga tahu Sabina mengusirmu. Sekarang katakan, kenapa Sabina sampai mengusirmu?" Kali ini Papa yang bertanya, raut wajahnya terlihat tenang. Di bandingkan dengan Mama, aku lebih takut pada Papa. Beliau terlihat ramah namun pada dasarnya beliau sangat menakutkan jika ada yang berani mengusik keluarganya. Walau aku kesal pada Morgiana aku berharap Papa tidak akan mengusiknya dengan keras.
"Katakan kenapa Sabina sampai mengusirmu?"
Glekkkk!
Aku menelan saliva dengan kasar, untuk pertama kalinya aku melihat amarah Papa yang mulai meledak. Bahkan wajah cantik Morgiana terlihat mulai memucat. Aku rasa amarah Papa yang mulai meledak menghancurkan kepercayaan dirinya.
"Sa-sabina jahat. Di-dia memfitnah ku kalau aku selingkuh dengan suami sahabatnya."
Bagai terkena sengatan listrik bertegangan tinggi, sekujur tubuhku terasa kaku. Baru saja aku akan bergerak untuk menjambak Morgiana yang saat ini berdiri di dekat Mama. Tiba-tiba...
Plakkk!
Satu tamparan kembali di layangkan Mama, tamparan cukup keras. Haruskah aku bahagia? Atau aku harus berduka melihat sikap Mama? Aku benar-benar bingung sekaligus terkejut menghadapi kondisi ini.
...***...