Mr Love Love

Mr Love Love
Kepergian Morgiana!



"Sabina, apa Mama pernah mengajarimu menjadi wanita lemah? Apa Mama pernah mengajarimu menjadi wanita bodoh? Tidak, kan? Kau terlalu bodoh sampai wanita itu mencoba meracuni kehidupan rumah tanggamu." Ucap Mama dengan suara bergetar. Aku tahu beliau terlalu kesal dan aku tidak bisa melarang Mama untuk bertindak demikian, beliau seperti itu kerena beliau seorang ibu yang tidak terima putrinya disakiti, sama sepertiku yang tidak terima saat Morgiana ingin menyakiti calon anak ku.


Aku adalah wanita yang selalu berfikir dengan logika, semarah apa pun Aku, dan sekesal apa pun diriku, amarah, dendam ataupun kebencian tidak akan pernah melumpuhkan akal sehatku. Orang bisa saja menilaiku sebagai wanita bodoh, goblok atau apa pun namanya, namun Aku menyebut kesabaran Ku adalah cahaya yang akan selalu menerangi jiwa.


"Selama ini Mama selalu memanggilku dengan sebutan putri bijaksana, dan Mama lebih mengenalku dari siapa pun yang ada di semesta ini, Aku bukan wanita bodoh dan Aku tidak akan pernah bertindak bodoh." Ucap ku dengan keyaninan penuh.


Sabina, kau melakukan hal yang benar. Aku bergumam di dalam hati tanpa bisa menghentikan air mata yang terus menetes.


"Selama ini Mama selalu mengajariku dan Kak Alan agar kami menjadi sosok bertanggung jawab dan juga penyabar. Sekarang katakan padaku, apa Mama ingin Aku menampar Morgiana? Atau Mama ingin Aku menguliti wajah tidak tahu malunya? Atau lebih buruk lagi, meleyapkannya dari dunia ini? Tentu tidak, kan?"


Aku bertanya sambil menatap netra teduh Mama tercintaku. Ku lihat wajah itu, amarahnya tidak sebesar tadi lagi. Sekarang beliau mulai tenang, perlahan Mama berjalan kearah sofa yang hanya berjarak lima langkah dari tempatnya berdiri, beliau duduk dengan perasaan yang masih menyimpan luka, beliau terluka karena Putri berharganya di sakiti oleh orang lain. Jiwa keibuannya merasa tertantang untuk membela putrinya, dan itu memang sudah sewajarnya. Dan sebagai putri yang mengetahui itu, Aku tidak bisa menentang Mama untuk tidak bicara kasar pada putri semata wayang saudari perempuannya.


"Ma, lupakan segalanya. Tentang amarah Mama dan juga kekesalanku pada Morgiana." Ucap ku lagi, Mama yang mendengar ucapanku hanya bisa menghela nafas kasar.


"Aku juga marah pada Morgiana dan juga Mas Araf. Tidak ada yang bisa Sabina lakukan, karena sabina tahu masa lalu itu tak bisa di ubah. Sekarang pertanyaannya, apa Mama ingin Sabina meninggalkan Mas Araf hanya karena masa lalunya terikat dengan Morgiana? Tidak, kan?"


"Cinta memang seperti itu. Jika cinta tidak membuat kita bahagia maka cinta itu pasti akan mendatangkan luka. Dan saat ini Morgiana sudah merasakan kepedihannya." Aku kembali berucap sok bijaksana hanya untuk menenangkan Mama, Aku tidak ingin hubungan kekeluargaan kami berakhir hanya karena dendam semata.


"Om. Tante. Aku akan pergi. Jika bisa, tolong maafkan aku." Ucap Morgiana sambil menarik kopernya.


"Bi... Aku menyesal, aku janji tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi. Aku juga janji tidak akan muncul di hadapan kalian." Ucap morgiana menyakinkan, matanya terlihat sembab. Dia menangis.


"Aku tidak akan pulang ke rumah Mama. Aku akan kembali setelah aku bisa menata hatiku." Sambung Morgiana lagi.


"Jika kamu ingin pergi, pergi saja. Entah kamu hidup atau mati aku tidak perduli lagi. Ingat satu hal, jika kamu berani mengganggu Sabina lagi maka saat itu akan menjadi hari terakhirmu. Camkan itu!


Dan jangan pernah tunjukkan wajahmu di hadapan keluarga ku. Aku muak, sangat muak sampai ingin mematahkan semua tulang-tulangmu!" Maki Mama kasar sambil menunjuk Morgiana.


"Sabina, panggil aku jika suamimu sudah sampai. Berani sekali dia melukai harga diriku dan keluargaku." Kali ini Mama menatapku, setelah memuntahkan semua yang mengganjal dihatinya Mama berjalan menuju tangga yang kemudian di ikuti oleh Papa di belakangnya.


"Kau lihat yang sudah kau lakukan?Kehadiranmu telah menghancurkan dua keluarga, aku pun tidak ingin melihatmu lagi. Bahkan jika kita bertemu di jalan, berpura-puralah untuk tidak saling mengenal. Aku merasa sesak dengan semua ini." Aku mulai menggerutu tanpa menghiraukan duka Morgiana. Aku bahkan meninggalkannya, masuk ke kamar yang ada di bawah tangga.


Apa aku bertindak kejam? Aku benar-benar tidak tahu itu, yang ku tahu aku masih marah pada dia yang ku sebut sebagai sepupu, Morgiana.


...***...


Note: Beberapa episode lagi karya ini akan benar-benar tamat. Maaf karna ini akan slow Update.