Mr Love Love

Mr Love Love
Ketahuan



Dua bulan berlalu sejak percakapan singkat ku dengan Morgiana di kafe itu, sejak saat itu aku malas bertemu dengannya dan aku juga tidak ingin melihat wajahnya. Rasanya terlalu berat berada di dekatnya selama ia masih membicarakan mantan kekasihnya. Aku merasa berada dalam posisi itu, posisi di mana orang asing datang pada ku sembari meminta haknya padaku. Aku tidak akan tahan jika itu sampai terjadi dalam kehidupan damai ku.


"Sabina, jam berapa Araf akan menjemput mu?" Mama bertanya sembari melipat selimut baru yang beliau keluarkan dari lemarinya.


"Mas Araf masih dalam perjalanan, Mam. Sebentar lagi beliau pasti sampai." Balas ku uring-uringan.


"Kenapa? Apa ada masalah? Katakan pada Mama, siapa tahu Mama bisa bantu."


"Tidak ada, Ma. Mungkin Sabina hanya kecapaian saja. Dua hari ini kegiatan Kampus sangat padat. Tugas dari Dosen sangat banyak. Dan buruknya, semuanya harus di kumpulkan minggu ini.


Sabina merasa tugas untuk satu tahun kedepan di paksakan hanya dalam minggu ini. Jika Sabina bisa memilih, rasanya Sabina ingin istirahat saja di rumah." Celoteh ku sambil berbaring di tempat tidur empuk milik Mama.


"Hahaha! Kamu ada-ada saja!" Mama terkekeh sambil menatap wajah tak bersemangat ku.


"Kenapa Mama tertawa? Aku serius, Ma. Aku merasa Mama seperti sedang meledek ku!" Ucap ku sambil pura-pura marah.


Bukannya mencoba menghibur ku, Mama semakin tertawa lepas.


"Mama tidak bermaksud meledek mu, sayang. Mama merasa seperti melihat diri Mama dalam dirimu.


Kau tahu? Dulu Mama juga mengatakan hal yang sama pada Papa mu. Bukannya menanggapi ucapan Mama, Papa mu malah memperbaiki selimut Mama, meminta Mama tidur agar saat Mama bangun rasa lelah itu akan menghilang dan di gantikan dengan rasa lega karena sudah mendapatkan tenaga baru." Kenang Mama sambil tersenyum lebar.


"Saat Mama S2, waktu itu Mama sedang hamil besar. Mama tidak ingin menyerah pada pendidikan. Mama berpikir, walau hanya seorang ibu rumah tanggap, pendidikan Mama tidak boleh terputus.


Dari rahim seorang wanita akan lahir penerus-penerus bangsa. Dan kewajiban Mama untuk mendidik Putra dan Putri Mama agar menjadi Manusia yang beradab dan menjadi Manusia yang bisa memanusiakan Manusia." Sambung Mama lagi.


"O iya, apa Mama boleh bertanya?" Kali ini Mama menghentikan aktivitas melipat selimutnya.


"Kenapa harus bertanya? Mama boleh mengatakan apa pun yang Mama inginkan, tidak perlu meminta pendapat dari siapa pun." Balas ku dengan penuh percaya diri.


Bicara dengan Mama membuat ku merasa lega.


"Mama perhatikan kau tidak bicara dengan Morgiana? Apa kalian bertengkar?"


"Ti-tidak, Mam. Kami tidak bertengkar. Hubungan kami baik-baik saja."


"Sabina, Mama yang melahirkan mu. Mama yang membesarkan mu. Mama juga yang mendidik mu. Mama tahu kapan kamu jujur dan kapan kamu berbohong.


Hanya dengan menatap mata mu Mama bisa tahu kalau kamu sedang kesal. Katakan pada Mama, apa masalahnya sampai kalian bertengkar? Kalian sudah dewasa, maka selesaikan semua permasalahan dengan tenang. Mama tidak suka jika kalian bertengkar karena masalah sepele. Kalian saudara maka bersikaplah seperti saudara yang baik."


Mendengar ucapan Mama membuat ku ingin mengelus dada, tapi sayangnya aku bahkan tidak bisa melakukan itu di depannya. Nasihat Mama memang sederhana, tapi di dalam setiap


huruf yang beliau rangkai menjadi kata-kata ada bagitu banyak harapan baik yang tersimpan di dalamnya. Sekarang pertanyaannya, aku sangat marah pada Morgiana, bagaimana cara ku bersikap baik padanya? Karena ini perintah Mama maka tidak ada hal lain yang bisa ku lakukan selain mengikuti semua kehendaknya.


Senyuman Mama sangat indah, aku rela melakukan apa pun demi melihat senyuman itu. Tanpa ku duga air mata ku tiba-tiba menetes, yang jelas ini bukan air mata kesedihan melainkan air mata bahagia.


...***...


"Dimana Mas Araf? Bukankah dia bilang dia hampir sampai? Kenapa dia belum sampai? Apa terjadi hal buruk padannya? Aku harap tidak ada hal buruk yang tejadi." Ucap ku sambil berjalan pelan menyusuri taman belakang.


Di belakang rumah, sesuai keinginan ku di buat sebuah taman minimalis yang di dominasi warna hijau. Biasanya, aku tidak terlalu suka dengan desain taman yang terlalu ramai, tapi kali ini berbeda. Aku menempatkan beberapa tanaman di dalam pot yang di gantung.


Di pojok ada area duduk yang terbuat dari kayu, di payungi pohon pisang kipas yang cantik. Setiap kali duduk di sana terasa sangat menenangkan. Bukankah itu menakjubkan? Hanya dengan membiasakan diri berpikir positif membuat ku merasa bahagia. Sekarang aku baru menyadari, bahagia itu datang dari hati bukan dari seberapa banyak materi.


"Ada apa disana? Apa terjadi masalah? Siapa yang membuat keributan di malam hari?" Celoteh ku sambil menghentikan langkah kaki ku.


Kening ku berkerut, netra ku menangkap sosok Morgiana sedang berdiri di taman, aku tidak tahu dia bicara dengan siapa, sosok bertubuh jangkung itu membelakangi ku.


"Harus kah aku kembali? Apakah itu mantan kekasihnya? Aku tidak ingin terlibat dengan mereka. Tapi, bagaimana jika pria itu menyakiti Morgiana? Aku tahu aku sedang kesal pada Morgiana, tapi aku tidak bisa meninggalkannya sendiri!" Ucap ku dengan suara pelan.


Perlahan aku berjalan dan berdiri di sisi yang tidak terlihat.


"I can't think of nothing else but you."¹ (Aku tak bisa pikirkan apa pun selain dirimu) Ucap Morgiana dengan derai air mata. Ia bahkan menangkup wajah pria misterius itu.


Sungguh, aku merasa kasihan pada Morgiana. Tangisnya, dan usahanya benar-benar tidak berguna. Sebesar apa cintanya sampai ia rela merendahkan dirinya? Pria itu bahkan mengabaikannya. Jika itu aku, aku pasti tidak akan sanggup untuk bernafas lagi.


Hmmmmm!


Aku mulai menghela nafas kasar. Rasanya aku ingin pergi secara diam-diam namun kakiku terasa berat untuk di gerakkan. Entah sejak kapan aku mulai penasaran dengan urusan orang lain, aku benar-benar tidak suka sikap ku yang seperti ini.


"Hiks.Hiks. Dan sekali lagi aku menyadari kau tidak pernah tergantikan. Ayo kita mulai dari awallll lagi? Tinggalkan istri mu, toh kalian menikah karena terpaksa."


Sekujur tubuh ku terasa mati rasa, ucapan Morgiana bagai belati yang menusuk jantung ku. Sakit. Rasanya sangat sakit sampai aku tidak sanggup untuk berdiri.


Kamu laki-laki seperti apa sampai tidak sanggup membela istrimu? Gumam ku dalam hati sambil menepuk-nepuk dadaku. Kisah cinta seperti apa yang mereka jalani sampai membuat ku ingin muntah saat mendengarnya.


"Even when I close my eyes there's an image of your face."² (Meski saat ku pejamkan mataku, ku lihat bayangan wajah mu) Sambung Morgiana lagi, kali ini suaranya mulai beraturan.


"Why do I love you like I do?"³ (Mengapa aku mencintai mu seperti itu?)


Duarrrrr!


Bagai di sambar petir di siang bolong, aku terkejut luar biasa. Aku tidak bisa melihat wajah pria itu, tapi aku mengenal siapa pemilik suara itu. Hati ku hancur. Sangat hancur sampai aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Dengan sisa-sisa tenaga yang ku punya aku berusaha beranjak dari tempat ku duduk, meninggalkan taman belakang dengan segala keindahannya.


...***...