
Aku dan Morgiana masih berdiri di atap. Kami saling menatap, seolah tatapan itu mengabarkan kalau kami saling mencari kebenaran. Kebenaran tentang satu sama lain. Aku masih diam, Morgiana pun demikian.
"Apa Araf sudah menceritakan segalanya padamu? Maksud ku..." Ucapan Morgiana tertahan di tenggorokannya.
"Tentang hubungan kalian di masa lalu? Jika kau ingin bertanya seperti itu maka jawabannya 'Iya' Mas Araf sudah mengatakan padaku tanpa menyembunyikan apa pun." Balas ku dengan penuh percaya diri.
Mengenang bagaimana intimnya Mas Araf dan Morgiana di masa lalu masih saja membuat ku terluka. Namun tetap saja, itu hanya masa lalu, masa lalu yang akan terlupakan jika itu menyangkut kenangan yang buruk.
"Aku tidak mau mengenang masa lalu kalian, karena itu memang hal yang harus di lupakan. Kau juga harus melupakannya. Kau tidak akan bisa melangkah maju kedepan jika kau hanya terpaku pada masa lalu." Ujarku tanpa melepas tatapan ku dari wajah cantik Morgiana.
"Kau sudah tahu segalanya? Tapi tetap saja kau memintaku melupakannya. Apa kau waras?"
Glekkkk!
Aku menelan saliva mendengar ucapan tajam Morgiana. Bukannya menuruti nasihatku, dia malah mempertayakan kewarasanku? Rasanya aku ingin menjambak rambutnya hingga semua rambut itu terlepas dari kepalanya.
"Aku bilang aku mencintai Mr.Amerika, dan sampai kapan pun aku akan tetap mencintainya. Aku tidak perduli denganmu atau dengan janinmu, karena jauh sebelum kau mengenalnya aku sudah lebih dulu mengenalnya, dan jauh sebelum kau mengandung, aku juga pernah mengandung anaknya." Ucap Morgiana dengan mata memerah. Tatapannya sangat tajam seolah ingin mengulitiku hidup-hidup. Entah Iblis seperti apa yang merasuki Morgiana secara tiba-tiba, sekujur tubuhku terasa merinding jika menatap netra tajamnya.
"Aku tidak perduli dengan masa lalu kalian. Sekarang dia adalah suamiku. Jika kau mau kau bisa mencari Mr.Amerika baru. Tapi aku? Aku tidak bisa menggati suamiku dengan pria manapun." Ujarku dengan nada suara yang masih terkontrol. Aku tidak bisa berteriak di depan Morgiana karena aku tidak memiliki tenaga sebesar itu.
Perlahan aku membalikkan badan hendak meninggalkan Morgiana, sayangnya gadis tidak waras ini malah mencengkram lengan ku cukup keras.
Ssss! Aahhh!
Aku meringis kesakitan, sekuat tenaga aku berusaha melepaskan cengkeraman Morgiana dari lenganku.
"Apa kau tidak waras? Kau benar-benar keterlaluan." Kali ini aku berucap dengan nada suara tinggi.
"Kau tahu aku dan Mas Araf sudah menikah tapi tetap saja kau berusaha mendekatinya. Kau memang saudariku, tapi dalam hubungan ku dan Mas Araf kau hanya wanita lain. Jangan pernah melewati batasan itu karena jika kau berani melakukannya, aku tidak akan tinggal diam." Ucapku mengancam.
Hahaha!
Bukannya mengindahkan peringatanku, Morgiana malah terkekeh sambil memegangi perut ratanya. Aku kesal, sangat kesal sampai tidak sadar tanganku terangkat dan...
Plakkkk!
"Kau jahat!"
"Kau yang jahat." Ucapku balas berteriak pada Morgiana. Tatapan kami sama-sama tajam.
Sungguh, dalam diriku tidak ada perasaan kesal atau dendam untuk Morgiana. Aku hanya kasihan padanya, entah apa pendapat Mama jika dia sampai mengetahui keponakan yang sangat dia sayangi hanyalah wanita yang mencoba mengganggu rumah tangga putrinya? Aku takut Mama, Papa, Kak Alan dan Kak Fatimah akan mulai membenci dan mengabaikannya. Dan sebelum itu terjadi aku berharap Morgiana akan kembali ke akal sehatnya. Namun apa yang bisa ku lakukan jika dia sendiri tidak mau mendengar peringatan ku? Dan buruknya, aku bukan gadis lemah yang akan melipat kedua tangan di depan dada lalu membiarkannya begitu saja.
"Dengar, Gi. Aku memperingatkan mu agar tidak melakukan kekacauan ini sebelum semuanya terlalu terlambat. Aku menyayangi mu seperti aku juga menyayangi Kak Alan.
Jangan sakiti dirimu! Jika kau mencoba bermain api maka kau sendiri yang akan terbakar. Mas Araf sudah tidak mencintaimu lagi, biarkan dia pergi dan relakan dia bahagia dengan yang lain. Bukankah cinta itu murni? Bukankah cinta itu juga berarti merelakan? Merelakan sosok yang kita cintai bahagia dengan pilihannya.
Jadi aku mohon padamu, tolong pikirkan Mama dan Papa. Mereka sangat menyayangimu, mereka akan terluka jika mereka tahu hubungan kita sedang tidak-baik saja." Ucap ku panjang kali lebar. Ku tatap wajah cantik Morgiana, ia terdiam dan terlihat sedang mempertimbangkan ucapanku. Entah apa yang dia pikirkan sampai wajah cantiknya langsung tersenyum.
Sabina... Dia meledekmu! Untuk apa bicara baik-baik dengannya. Hati yang telah di butakan oleh dendam tidak akan menerima nasihat. Dan pikiran yang menggelap karena cinta tidak akan mudah menerima nasihat. Kuatkan dirimu! Batin ku sambil menatap Morgiana dengan kening berkerut.
"Sabina. Sabina. Dalam hidupku, aku tidak pernah menyangka akan mendengar sampah yang akan keluar dari mulutmu.
Yaya... Ku akui kau saudariku. Bukan berarti aku akan bersikap lunak padamu! Anggap saja aku menerima nasihatmu, lalu aku akan melakukannya. Terus, kau akan bahagia di atas penderitaanku? Tapi maaf, aku tidak memiliki hati sebesar itu.
Aku tidak bisa melihatmu tertawa di depanku dengan belahan jiwaku. Jika kau mau kenapa bukan kau saja yang merelakan Araf agar berbahagia dengan ku? Bukankah itu sulit? Maka seperti itu yang ku rasakan untuk mu. Jangan pernah memberi nasihat jika kau sendiri tidak berada dalam derita itu! Apa gunanya meminta orang lain bahagia jika kau sendiri tidak bisa merasakan deritanya. Dasar tidak berguna. Cihhh!"
Hatiku terasa di iris-iris tipis mendengar ucapan lantang Morgiana. Aku merinding, sekujur tubuhku terasa kelu. Bagaimana bisa dia mengatakan kata-kata sekasar itu? Dia benar-benar berada dalam kegelapan yang nyata.
Tak.Tak.Tak.
Morgiana memainkan jemari lentiknya di depan wajahku. Mungkin dia berharap aku merasa semakin kesal
"Aku menantangmu! Tepat setelah satu bulan dari sekarang, Araf akan kembali kedalam pelukanku. Dia milikku dan akan tetap seperti itu. Sebelum kau terluka pergi saja dengan janinmu." Ucap Morgiana tanpa menghiraukan siapa pun lagi.
"Baik. Aku terima tantanganmu. Kita akan lihat sebesar apa cintamu pada Mas Araf, dan sebesar apa cinta Mas Araf padaku.
Tantangan ini bukan untukku, tapi untuk Mas Araf. Dan bukankah kau meragukan kesetiaannya, maka kita lihat seberapa kuat suamiku dan ayah dari anakku akan mematahkan egomu." Ucapku dengan nada suara tinggi, rasanya aku tidak sanggup lagi meladeni kekonyolan ini. Dengan tergesa-gesa aku berjalan meninggalkan Morgiana, membiarkannya larut dalam kebodohannya sendiri.
...***...