Mr Love Love

Mr Love Love
Nasihat Dari Sabina



Lima menit telah berlalu namun Mas Araf belum juga muncul, sampai akhirnya di menit kesepuluh dia tiba sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Kesedihan yang ia bawa pulang bersamanya telah hilang dan di gantikan oleh senyuman manisnya.


Aku terpaku melihat sosok seindah purnama yang berdiri di depanku. Ia mengangkat kedua alisnya seolah memberikan isyarat 'Ada apa' sayangnya aku tidak bisa mengatakan apa pun karena aku masih larut dalam perasaan bahagia. Pesona indahnya berhasil mengalihkan fokus ku.


"Honey, kenapa menatap ku seperti itu? Apa ada sesuatu diwajah ku?" Mas Araf bertanya sambil menepuk pelan wajahnya.


Aku tersenyum melihat tingkah dan ekspresi manisnya. Dia terlalu menggemaskan untuk di tinggal sendirian. Tidak apa-apa kan aku tergoda dan berusaha menggoda suami ku?


"Iya, ada sesuatu. Di pipi kirimu!" Ucap ku pelan.


"Disini? Apa masih ada?" Mas Araf menggosok pipi kirinya dengan handuk kecil yang ada di tangan kirinya. Tatapan matanya seolah menjelaskan kalau dia merasa risih, tidak suka hal kotor, entah menyangkut kamar kami atau tubuhnya sendiri.


Aku memanggilnya Mr.Perfect. Tidak berlebihan saat aku memanggilnya seperti itu karena dia jauh lebih baik dari yang ku pikirkan.


"Maksud ku bukan di pipi kiri, tapi di pipi kanan!" Celoteh ku lagi tanpa berpikir panjang. Mas Araf yang malang, dia bahkan meladeni guyonan tidak lucu ku dengan serius.


Lihatlah wajah menggemaskan Mas Araf, dia kembali menggosok pipi kanannya dengan handuk kecil yang masih di tangannya tanpa curiga kalau aku sedang mempermainkannya.


"Disini? Apa masih ada?" Mas Araf kembali bertanya sambil menatap ku tanpa perasaan curiga.


"Ya. Disana. Bukan-bukan. Maksud ku, bukan disana tapi di hidung mu!" Celoteh ku lagi, hampir saja tawa ku pecah namun aku berusaha keras untuk menahannya, ekspreai menggemaskan Mas Araf membuatku hilang akal. Aku kembali terpesona.


"Oooo aku tahu, jadi sejak tadi kau berusaha menggodaku? Dan bodohnya, aku bahkan tidak tahu itu. Kemari? Ayo kemari." Mas Araf menatap ku dengan tatapan tajam, sedetik kemudian dia mulai tersenyum sambil berjalan pelan kearah ku.


Sikap jahil ku kumat lagi, tentu saja aku tidak membiarkannya menangkap ku dengan mudah, aku menghindar, aku mulai berlari seperti kupu-kupu yang terbang bebas.


Rasa lapar ku telah hilang dan di gantikan sikap ceria, aku mulai mengelilingi meja makan, karena takut Mas Araf akan menangkap ku, aku malah berlari kearah tangga menuju lantai dua tempat kamar kami berdua.


Sabina, apa yang kau lakukan? Apa kau anak kecil? Kenapa bercanda seperti itu? Aku bergumam di dalam hati sementara otak ku memikirkan hal lain.


"Tunggu di sana! Jika kau tertangkap aku akan menggigit mu."


"Silahkan saja. Aku tidak takut! Hehehe!" Aku semakin mempercepat langkah kaki ku, menaiki anak tangga sambil tertawa. Untuk pertama kalinya aku tertawa lepas di depan orang lain, aku rasa berada di sisi Mas Araf membuat ku bersikap kekanak-kanakan.


"Tunggu aku, Sabina."


"Tidak mau!"


"Awas saja jika kau sampai tertangkap." Ucap Mas Araf lagi, kali ini gilirannya yang terkekeh.


Hubungan?


Saat Allah menuliskan nama Mas Araf dalam takdirku, artinya aku harus menggenggam erat tangannya seburuk apa pun masa lalunya. Hubungan ku dengannya selangkah demi selangkah semakin kuat. Aku bisa merasakan kuatnya hubungan ini walau dalam keadaan memejamkan mata. Yang ku butuhkan dalam hubungan ini hanya kepercayaan dan uluran tangannya. Saling menggenggam tangan walau sekuat apa pun badai yang akan datang menerjang.


I love you, Mas Araf. Aku kembali bergumam di dalam hati sambil tersenyum penuh kemenangan.


...***...


Gdebukkkk!


Kami berdua terjatuh di ranjang tempat tidur.


"Lepas, Mas. Kau sangat nakal!" Celoteh Sabina sambil berusaha melepaskan diri, sayangnya dia tidak bisa melawan tenaga ku, sampai akhirnya ia menyerah pasrah namun bibirnya tak bisa berhenti mengukir senyuman seindah purnama.


"Tetap seperti ini! Jangan bergerak." Ucap ku lagi, kali ini sambil meletakkan kepala Sabina di lengan panjang ku.


"Iya, baiklah. Aku tidak akan bergerak." Balas Sabina pelan, ia melingkarkan lengannya di pinggang ku tanpa malu-malu. Tentu saja aku mulai tersenyum penuh kemenangan setelah mendapat perlakuan manisnya.


"Bagaimana keadaan Mama? Apa beliau sudah baikan? Seharusnya Mas Araf menghubungi ku, aku akan datang secepat kilat kemudian kita bisa menginap di rumah Mama Riska."


"Aku sudah mengatakan itu, Mama menolak. Beliau mengusir ku dan meminta ku segera pulang."


"Hehe! Aku tahu itu!"


"Kau tahu itu? Bagaimana bisa?" Aku menenggelamkan kepala Sabina di dada bidang ku sambil bertanya dengan nada suara pelan, memeluknya dengan erat, aku takut dia menjauh dariku dan aku tidak ingin melepaskannya.


"Mama Riska sangat mirip dengan Mama ku. Beliau tidak akan melakukan hal yang bertentangan dengan prinsipnya. Mama meminta mu pulang karena beliau tidak ingin aku sendirian." Celoteh Sabina sambil menatap netraku.


"Ternyata kau lebih mengenal Mama di banding dengan ku. Aku merasa bahagia untuk itu. Maksud ku, aku bahagia karena kau mencintai Mama sama seperti aku mencintainya. Aku sangat beruntung bisa mendapatkan pendamping yang menghormati Mama ku."


"Mas Araf harus berterima kasih pada Mama, karena peran Mama Riska dan Mama ku kita bisa bersatu. Dan satu lagi, bersikap baiklah pada Papa Wilan. Jangan terlalu keras padanya, beliau orang tua kita dan sudah semestinya kita menghormati dan mencintai beliau."


Mendengar ucapan Sabina, aku hanya bisa menghela nafas kasar, dia bicara dengan sangat mudah. Sementara aku? Aku bahkan tidak bisa memikirkan hal sesederhana itu. Bagaimana caraku meyakinkannya kalau aku masih terlalu marah sampai tidak bisa bernafas di bawah atap yang sama bersama Papa. Hati ku masih rapuh, dan aku tidak bisa memaafkan Papa walau dalam mimpi.


"Akan ku pikirkan." Balas ku pelan sambil memejamkan mata, berusaha menghirup aroma bunga yang menguar dari tubuh Sabina.


"Jangan hanya di pikirkan. Tapi harus di lakukan." Ucap Sabina lagi. Kali ini dia memegang jemariku erat.


Tanpa kuduga, sabina mencium punggung tangan ku. Darah ku rasanya mengalir sepuluh kali lebih cepat. Aku sangat bahagia mendapat perlakuan manis yang Sabina tunjukan terus menerus.


"Tangan ini." Ucapan Sabina tertahan di tenggorokannya, netra kami kembali beradu dalam nuansa penuh cinta.


"Dulu tangan Papa Wilan memegang tangan ini, mengajarinya berjalan kemudian mendidiknya menjadi pria mandiri.


Setiap orang tua menunjukan rasa cinta mereka dengan cara berbeda. Aku hanya ingin mengatakan, maafkan Papa, cintai Papa dan peluk beliau dalam bahagia. Jangan jadi anak durhaka hanya karena masa lalu. Jika aku bisa berdamai dengan masa lalu Mas Araf, maka berdamailah dengan Papa juga. Aku hanya ingin kita menjadi keluarga bahagia "


Ucapan Sabina ada benarnya, hanya saja aku tidak bisa membolak balikkan hatiku semudah itu dari tidak suka menjadi suka.


"Akan ku pikirkan." Ucap ku lagi. Ucapan yang sama seperti sebelumnya, karena aku tidak bisa berjanji omong kosong.


"Hmm! Hanya di pikirkan? Itu artinya Fazila lebih bijaksana di bandingkan dengan Mas Araf!"


Netra ku membulat mendengar ucapan spontan Sabina. Aku tidak menyangka Sabina semudah itu, maksud ku membandingkan ku dengan Fazila. Yaaa, ku akui Fazila memang lebih bijaksana di bandingkan dengan ku.


Sungguh, Nasihat Sabina malam ini menohok ku. Ucapannya sederhana tapi berhasil melumpuhkan egoku. Apakah ini yang dinamakan pasangan sejalan menuju Surga? Jawabannya, mungkin saja. Aku bahagia mendengar nasihatnya, dan aku semakin mencintainya.


Usia Sabina terpaut delapan tahun dengan ku. Namun dengan berat hati ku katakan, dia juga jauh lebih bijaksana di bandingkan dengan ku, dan dia juga sangat pengertian. Aku tidak ingin melepasnya walau untuk sedetik saja, malam ini menjadi saksi kalau aku sangat mencintai Sabina Wijaya dan ingin selalu tenggelam dalam pelukan hangatnya.


...***...