Mr Love Love

Mr Love Love
Menggoda Araf (Sabina)



Sekujur tubuhku terasa nyeri, dua jam yang lalu aku masih duduk di ruang tengah dan menyambut para tamu yang sebagian besarnya merupakan kerabat jauh mama Riska dan Papa mertua yang kemarin tidak sempat datang saat resepsi pernikahanku dan mas Araf.


Tersenyum, berjabat tangan dan mendengar rangkaian doa-doa pengharapan dari semua orang agar aku bahagia sampai menua bersama mas Araf terus saja terulang dari lisan semua tamu yang Mama Riska undang.


Seandainya Mama Nani dan kakak ipar Fatimah bisa datang, aku yakin kebahagiaanku pasti akan berlipat ganda. Sayang-nya mereka tidak bisa hadir karena ini memang khusus untuk keluarga mas Araf saja.


"Apa kau merasa lelah?"


Mas Araf bertanya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Maklum saja, dia baru keluar dari kamar mandi, ia sengaja memilih berendam untuk mengusir lelah.


"Mmmm!" Balas ku tak bersemangat.


"Kok mmmm, si."


"Memangnya Sabina harus jawab apa? Aku bahkan tidak punya tenaga untuk menggerakkan tubuh ku. Rasanya, semua pekerjaan untuk stok setahun sudah di kerjakan hari ini." Aku berucap sambil melakukan peregangan. Berharap tulang-tulangku yang serasa remuk akan menyatu kembali.


"Aku tidak bisa mengeluh karena merasa sakit, tapi aku bisa kan tidur di tempat tidur untuk malam ini?" Aku bertanya sambil menatap wajah tampan mas Araf. Bukannya menjawab pertanyaan ku dia malah melotot padaku.


Sedetik kemudian...


"Hahaha... Kau benar-benar lucu. Jika kau selucu ini, apa yang harus ku lakukan?" Ucap Mas Araf sambil terkekeh.


Aku kembali menatap mas Araf dengan tatapan heran, kaos putih dan celana selutut yang ia gunakan membuatnya terlihat semakin tampan. Aku langsung mengalihkan pandanganku dari mas Araf, aku tidak ingin terperangkap dalam pesona indahnya. Tatapan matanya berkilau memancarkan cahaya ketenangan.


"Kau tidak perlu bertanya seperti itu, semua milikku adalah milik mu. Termasuk kamar ini dan semua yang ada di dalamnya. Kau paham?"


Mendengar penuturan mas Araf aku hanya bisa mengangguk pelan. Semua miliknya adalah milikku? Mendengar itu saja membuat hatiku merasa berbunga-bunga, aku berusaha menahan tawa agar tidak terlihat seperti orang bodoh di depannya.


"Ini untuk mu." Ucap mas araf sambil menyodorkan kotak yang di bungkus rapi.


"Apa ini?"


"Aku tidak tahu. Mama memintaku memberikan itu padamu! Aku hampir saja melupakannya, tapi kau mengingatkanku." Sambung mas Araf lagi.


"Aku tidak pernah mengatakan apa pun, bagaimana bisa mas Araf mengatakan kalau aku mengingatkan mu?"


"Kau tidak mengatakan-nya, tapi di keningmu tertulis dimana hadiahku!" Jawab mas Araf tanpa melepas senyuman dari wajahnya.


Seperti orang bodoh, aku bahkan sampai mengusap keningku karena mempercayai ucapan mas Araf.


"Gombal." Ucapku ketus kemudian menyebikkan bibir.


Hahahaha!


Lagi-lagi aku hanya bisa mendengar gelak tawa mas Araf. Malam ini aku melihat Araf yang berbeda dari biasanya. Dia tersenyum, dia menggodaku, dia juga meledekku. Aku merasa dekat dengannya hanya karena dia bersikap ramah padaku, dia yang biasanya hanya merunduk dan menganggukkan kepala saat berpapasan denganku ketika aku hanya menjadi adik dari sahabat karibnya. Status hubungan kami masih terlalu asing bagiku, walau demikian aku yakin jarak ini pasti akan segera berkurang hari demi hari.


Pukkkk.Pukkk.


Mas araf menepuk-nepuk ranjang dengan tangan kanannya, ia juga meletakkan bantal pembatas di tengah-tengah tempat tidur. Aku menatapnya dengan tatapan tajam. Aku heran, aku ingin bertanya apa yang akan dia lakukan dengan bantal-bantal itu, sayangnya ucapanku hanya terkatub di bibir saja.


"Kau bilang kau ingin tidur di ranjang, ayo kita tidur. Aku sangat mengantuk."


"Disitu? Berdua?"


"Tentu saja. Disini, berdua." Ujar mas Araf tanpa ragu-ragu.


"Kenapa kau diam? Ayo kita tidur, ini sudah larut." Celetuk mas Araf karena melihatku bergeming.


"Tunggu dulu! Jangan bilang kau memintaku tidur di sofa lalu kau tidur di ranjang? Iya, kan?"


Tidak ada komentar dari ku selain menatap mas Araf dengan tatapan heran.


"Ayo-lah Sabina. Aku ini seorang dokter, besok aku harus bangun pagi dan berangkat kerumah sakit. Jika aku tidur di sofa kemudian aku terjatuh dan mengalami geger otak, siapa yang harus ku salahkan? Kau!" Guyon mas Araf sambil menunjuk ku.


Jatuh? Geger otak? Keduanya terdengar seperti omong kosong, aku ingin tertawa tapi takut dosa. Apalah dayaku, memiliki suami lebay benar-benar anugrah. Aku merasa seperti berada di panggung comedy.


"Iya baik-lah. Aku akan tidur." Jawabku sambil berjalan pelan kearah tempat tidur yang sudah di tempati oleh mas Araf sejak tadi.


"Jangan bilang kau takut aku akan melakukan hal aneh padamu karena itu kau berharap aku tidur di sofa?"


Mata mas Araf membulat, aku tahu ia sangat penasaran dan sedang menanti jawaban dari pertanyaannya. Apa yang bisa ku katakan? Aku tidak bisa mengatakan kalau ucapannya ada benarnya. Mau di taruh di mana mukaku jika dia sampai tahu kalau aku terlalu kepedean.


"Ti-tidak. Siapa bilang aku berpikir seperti itu?" Ucapku gugup. Sekujur tubuhku terasa panas dingin.


"Aku yang mengatakannya, karena semua itu tertulis di pipimu yang mulai memerah karena rasa malu."


Glekkkkk!


Lagi-lagi aku hanya bisa menelan saliva mendengar penuturan mas Araf. Aku tidak tinggal dengan pria sembarangan, aku tinggal dengan peramal yang mudah sekali membaca pikiranku.


Peramal? Aku benar-benar bodoh, sejak kapan aku mempercayai hal itu. Yang ku tahu tidak ada siapa pun yang mengetahui segala rahasia yang tersembunyi selain Allah yang maha menggenggam jiwa.


Aku menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya kasar dari bibir. Aku berusaha mengontrol hatiku, aku berharap jantungku tidak akan loncat keluar. Bukankah aku berlebihan? Bagaimana bisa aku mengatakan jantungku akan loncat keluar.


Sabina Wijaya, kau benar-benar bodoh. Aku kembali bergumam di dalam hati sambil berjalan pelan kearah ranjang tempat tidur berukuran besar.


"Apa jantungmu berdebar kencang?"


Pertanyaan apa lagi ini? Kenapa mas Araf menayakan hal bodoh ini? Aku tidak akan bisa menjawab pertanyaannya sekuat apa pun dia menayakannya.


"Kenapa hal itu akan terjadi? Tidak ada yang spesial sampai jantung ku akan loncat keluar karena berdebar." Jawab ku menegaskan. Hanya aku dan Tuhan ku yang tahu kalau saat ini aku sedang berbohong.


"Iya, aku rasa kau benar. Tidak ada yang spesial sampai jantungmu akan berdebar. Aku yang kepedean karena berpikir kau akan salah tingkah di depan pria setampan diriku." Ucap mas Araf penuh penyesalan.


Rasanya seperti ada kupu-kupu yang terbang di dada ku, aku merasa geli sendiri. Aku tahu mas Araf sedang bercanda, entah kenapa candaannya terdengar sangat manis di indra pendengaran ku. Bagai mendapat semangat baru, tanpa di sangka dan tanpa di duga aku memegang lengan mas Araf sambil menatap netra teduhnya penuh perasaan.


Cessss!


Kali ini dada ku berdebar sangat kencang, menatap netra indah mas Araf membuatku merasakan tegang. Aku tidak tahu apa yang sedang di pikirkan mas Araf sampai dia terlihat gugup.


"A-apa yang kau lakukan?"


"Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya menatap suami tampan ku dengan penuh cinta, kenapa? Apa kau merasa gugup?" Ucap ku sambil memegang jemari mas Araf.


Sabina hentikan kekonyolan mu, kau yang menggodanya kau sendiri yang berbunga-bunga. Apa yang akan kau lakukan jika Araf sampai memarahimu? Kau tidak akan bisa menatap matanya lagi. Aku bergumam di dalam hati. Sejujurnya saat ini aku berusaha keras untuk tidak tertawa lepas, entah kenapa rasanya sangat menyenangkan saat menggoda mas Araf dan menatap wajah gugupnya.


...***...