
Sabina... Tenangkan hati mu. Anggap saja tantangan dari Morgiana tadi hanya sebuah gertakan saja. Percayalah, suamimu tidak akan melirik wanita lain selain dirimu. Kalian memiliki ikatan yang kuat, ikatan yang tidak akan pernah bisa di goyahkan bahkan oleh ranting masa lalu yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Batin ku sambil berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit.
"Ada apa disana? Kenapa ada orang berteriak? Apa ada masalah?" Netraku membulat sempurna, aku menatap kearah kamar yang saat ini di ramaikan oleh beberapa orang perawat, ada beberapa dokter juga disana.
Teriakan, bentakan, tangisan, dan juga makian memenuhi indra pendengaranku saat ini. Aku semakin penasaran, tanpa berpikir panjang aku langsung mempercepat langkah kakiku menuju ke depan kamar pasien itu.
Hhhhh!
Dadaku seolah di lempari dengan batu besar, terasa sesak. Pantas saja kamar pasien tempat ku berdiri saat ini ramai olah perawat, seorang wanita seusia dengan Kakak ipar Fatimah menggendong bayi sambil menangis. Di tangan kirinya terdapat pisau bedah. Entah apa yang di pikirkan wanita itu sampai membuat semua orang panik oleh tingkah nekatnya.
"Nyonya... Tolong bersabarlah. Aku janji aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membantu menyembuhkan anak-anak anda. Aku salah satu dokter bedah terbaik di tempat ini. Tolong jangan nekad. Membunuh anak-anak anda hanya akan menyakiti diri anda sendiri!"
Glekkkk!
Di tengah kepanikan, aku hanya bisa menelan saliva, aku tahu dengan pasti kalau yang bicara itu adalah Mas Araf. Dari suaranya aku bisa menebak kalau dia sangat ketakutan. Aku bisa mengerti kondisinya, lagi pula siapa yang tidak takut melihat wanita tidak waras berdiri di depannya dan berniat mengakhiri hidup anak-anaknya. Ku tebak anak-anak itu pasti kembar, hal itu terlihat dari bayi yang dia gendong dengan bayi yang ada di Roller coster. Aku menyebutnya Roller Coster karena wanita itu terus saja mendorong kereta bayinya seperti orang tidak waras.
Matanya terlihat sembab, sepertinya dia menangis tidak untuk semenit atau dua menit saja. Entah duka seberat apa yang menghantui kehidupan kerasnya sampai ia berani mengancam semua orang? Haruskah aku bersimpati padanya? Jika di lihat-lihat, dia sangat menakutkan, dan aku tidak punya tenaga untuk bersikap lunak padanya saat dia sendiri mencoba meleyapkan bayi kembarnya.
Mas Araf yang malang, dia bahkan masih berusaha keras merayu wanita itu agar tidak berbuat nekat.
"Kalian semua penghianat. Kalian semua jahat. Atas nama kekuasaan kalian bahkan rela mengorbankan nyawa siapa saja. Di saat aku ingin mengakhiri hidup anak-anak ku lalu kenapa kalian berusaha mencegahku?" Ucap wanita itu masih dalam keadaan mengamuk.
"Aku bilang Pergi..." Kali ini wanita itu berusaha menakuti semua orang dengan melempar semua yang ada di atas nakas kamar inapnya.
"Jika tidak aku akan menyakiti kalian...."
Hhmm!
Aku menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya kasar dari bibir.
"Ada apa dengan wanita itu? Apa dia hilang akal? Kenapa dia mengganggu semua orang?" Aku bertanya pada suster yang berdiri di sisi kiriku.
"Seminggu yang lalu dia kehilangan suaminya karena kecelakaan kerja. Dua hari setelahnya dia melahirkan anak kembar.
Sayangnya kedua anak itu sedang tidak baik-baik saja. Jantugnya mengalami masalah. Pihak administrasi mengabarkan padanya agar dia segera membawa bayinya pulang jika tidak punya biaya rumah sakit.
"Percayalah padaku, aku akan menolongmu! Jangan sakiti anak-anak hanya karena kau merasa sendirian. Kami semua bersamamu, aku akan berdiri di sisimu dan akan berusaha keras menolong anak-anakmu." Ucap Mas Araf lagi. Kali ini dengan suara pelan, suaranya terdengar mulai beraturan.
"Percayalah padanya. Karena aku juga sangat mempercayainya. Jika dia bilang akan mengobati anak-anakmu, maka itulah yang akan terjadi." Aku maju kedepan dan berdiri di samping Mas Araf. Aku sangat terkejut saat mendapati Pergelangan tangan Mas Araf sobek dan mengeluarkan darah segar.
Aku yang tadinya terlihat lunak kini berubah sangar, apa yang harus ku lakukan pada orang yang telah berani menyakiti suamiku? Tangan Mas Araf bahkan sampai bergetar karena menahan sakit.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu berani menyakitinya? Berani sekali kamu melakukan itu?" Ucapku dengan nada suara tinggi.
"Sabina... Sudah, Mas tidak apa-apa! Ini hanya luka kecil, Insya Allah ini akan segera sembuh."
"Tidak apa-apa, apanya? Tangan Mas Araf berdarah dan itu karena ulahnya. Untuk apa bicara padanya jika dia sudah memutuskan akan mengakhiri hidup anak-anaknya!" Celotehku lagi masih dengan nada suara tinggi
Aku sangat kasihan. Kasihan melihat wanita itu. Tatapan matanya terlihat kosong, tidak ada yang bisa ku lakukan selain menghancurkan egonya sebagai seorang ibu. Hanya dengan cara itu akal sehatnya akan kembali.
"Kenapa kamu diam? Apa kamu butuh bantuan orang lain untuk menyakiti anak-anakmu? Katakan padaku? Aku akan melakukannya untukmu." Ujar ku lagi dengan mata menyala.
"Ibu macam apa kamu ini? Hanya karena di tolak oleh satu orang kamu ingin menghancurkan masa depan anak-anak manis itu? Jika bisa kutuk saja orang itu tapi jangan ikut-ikutan menyakiti anak-anakmu." Kali ini aku mencoba berjalan pelan mendekati wanita itu, aku bisa melihat kalau dia akan menangis lagi.
Dan benar saja, dia bersimpuh di lantai dengan kepala tertunduk. Aku bisa merasakan betapa besar kesedihan yang menyelimuti hatinya, di tinggal suami dan anak-anak yang sakit. Itu pasti pukulan berat bagi jiwanya.
"Jangan takut, semuanya akan baik-baik saja." Aku berucap sembari menepuk pundak wanita itu pelan. Ia menangis sesegukan.
"Jika tidak ada yang mau membantumu, maka aku dan suamiku yang akan membantumu. Pria yang kau lukai, disana! Dia suamiku. Dia Direktur rumah sakit ini. Jika dia bilang akan membantumu, maka percayalah padanya." Aku menunjuk Mas Araf yang masih berdiri di dekat pintu.
Mas Araf menunjukkan kalau dia merasa lega, hal itu terlihat dari raut wajahnya. Wajah tampannya memamerkan senyuman. Dia suamiku, walau dalam keadaan panik tetap saja tidak bisa mengurangi ketampanannya.
"Suster, rawat ibu dan anak ini dengan baik. Jika bagian administrasi bertanya, katakan Nyonya Araf yang memerintahkannya." Celotehku sambil menyerahkan bayi yang ada dalam gendonganku kepada suster itu.
Sedetik kemudian, aku berjalan mendekati Mas Araf, menarik lengannya yang terluka menuju UGD.
"Aaa! Sakit Nyonya Araf, ini sangat sakit!" Ujar Mas Araf dengan wajah memelas. Walau mengetahui kondisi lengannya yang terluka tetap saja aku mengabaikan ucapannya.
...***...