
Mmmmm!
Aku pura-pura berdeham mencoba mencairkan suasana, aku sendiri tidak tahu harus memulai dari mana. Pertanyaan Sabina sangat sederhana, tapi sayangnya aku tidak bisa menjawabnya.
Mungkin saja jawaban yang ingin dia dengar akan meninggalkan luka, apa yang harus ku lakukan agar jawaban ku tidak meninggalkan luka di hatinya?
Aku berjalan mendekati Sabina dengan perasaan campur aduk, aku sedih jika dia marah padaku. Aku juga sedih jika Sabina mengabaikanku, aku ingin bahagia bersamanya. Itu saja.
"A-aku. Sebenarnya, dulu." Aku terbata-bata, aku tidak bisa melanjutkan kalimatku, karena tidak ada bahagia yang akan tertinggal di hati Sabina jika aku terus melanjutkannya. Aku sendiri memaki diriku sendiri karena masa lalu, dan aku tidak ingin Sabina juga memakiku.
"Aku apa? Dulu kenapa? Katakan saja. Aku janji aku tidak akan marah, aku ingin tahu masa lalu Mas Araf agar aku bisa merancang masa depan ku bersamamu. Kau juga bisa mengatakan masa depan seperti apa yang kau inginkan bersama ku, aku janji akan memperbaiki diriku seperti yang kau inginkan."
Hiks.Hiks.Hiks.
Aku kembali memeluk Sabina, entah kenapa air mataku tidak bisa ku bendung lagi. Jujur, ini pertama kalinya aku menangis di hadapan wanita. Apa aku lemah? Apa aku di butakan oleh cinta ku pada Sabina? Aku sendiri tidak tahu jawabannya. Yang ku tahu, aku tidak ingin Sabina menjauh dariku, aku benar-benar di penuhi cinta.
"Kenapa Mas Araf menangis? Apa aku membuatmu sedih? Apa kau menyesal menikahi wanita sepertiku?"
Aku tidak ingin mendengar ucapan Sabina lagi, aku menyumpal bibirnya dengan bibirku. Sekujur tubuhku terasa panas dinging, kelembutan bibir Sabina menghipnotisku, aku tidak tahu lagi cara mengungkapkan bahagiaku. Aku menghentikan kenakalanku dan kembali menempelkan dahiku di dahi mulus Sabina, nafas kami sama-sama tak beraturan, bagi Sabina ini mungkin ciuman pertamanya. Namun bagiku, ini bukan yang pertama. Satu hal yang pasti, hanya dengan Sabina aku merasakan bahagia luar biasa.
"Kau wanita terbaik yang pernah hadir dalam hidupku, bahkan jika Mama memintaku tiada sebagai syarat mendapatkanmu, aku pasti dengan suka rela akan melakukannya." Celotehku setelah melepaskan pangutan bibirku dari bibir lembut Sabina.
"Jangan pernah katakan aku menyesal menikahi wanita sepertimu! Karena sebenarnya menikahi wanita secantik dan sehangat Sabinaku adalah keputusan terbaik yang pernah ku buat dalam hidupku." Sambungku lagi berterus terang.
"Aku percaya padamu dengan sepenuh hati ku, tapi kau juga harus menceritakan masa lalumu. Aku tidak akan tenang sebelum mengetahui siapa saja mantan sainganku!" Ujar Sabina sambil tersenyum.
Hhhmmmm!
Aku menghela nafas panjang tanpa melepaskan pandangan ku dari netra teduh Sabina. Aku tidak ingin mengatakan apa pun namun dia mengikatku dengan ucapan putus asanya. Tidak ada hal yang bisa ku lakukan selain mengungkapkan sengalanya, dari mana semua ini di mulai dan bagaimana Mama mengakhiri segalanya.
"Dulu aku pria yang sopan dan penurut. Aku memiliki seorang kakak perempuan yang sangat ku sayangi. Kami selalu menghabiskan waktu bersama, bermain bersama, latihan bela diri bersama, dan tentunya menonton Film juga bersama. Aku merasa di berkati memiliki saudari perempuan sebaik kak Aleta."
"Mas Araf punya saudari perempuan? Aku tidak tahu itu! Dulu Mas Araf pria yang sopan, tapi sekaranggggg?" Ucapan Sabina tertahan di tenggorokannya, melihat tingkahnya yang berpura-pura sedang berpikir keras membuatku ingin menggigitnya, tanpa berpikir panjang aku langsung menggelitiki pinggang rampingnya.
Tentu saja Sabina menghindar. Seperti kucing yang sedang memburu mangsanya aku mulai mengejar Sabina, kami berlari mengelilingi tempat tidur berkuran besar sambil tertawa penuh kemenangan. Langit-langit rumah mengah yang ku tempati bersama Sabina di penuhi oleh gelak tawa kami berdua.
"Aku akan menangkapmu! Setelah itu aku tidak akan melepaskanmu!" Celotehku di sela-sela mengatur nafas. Sabina sangat lihai, dia bisa menghidar dari ku sekuat apa pun aku mencoba menangkapnya.
"Tangkap saja jika kau bisa! Aaaaaaaa!" Ucap Sabina berteriak sambil berlari keluar kamar.
Hahaha!
Aku menggelengkan kepala sambil terkekeh di atas ranjang, Sabina sudah tidak nampak lagi di netra indahku. Entah kemana dia berlari menghindariku. Dia benar-benar menggemaskan.
"Aku disini, kenapa Mas Araf masih disana? Apa encokmu kumat sampai kau tidak bisa bergerak? Haha!"
Suara nyaring Sabina terdengar sangat jelas di indra pendengaranku. Merasa di remehkan, aku langsung berlari keluar meninggalkan kamar.
"Aku benar-benar tidak akan melepaskanmu jika kau tertanggap, kau harus membayar setiap kesalahanmu padaku, kesalahan karena kau berani menghindar dariku." Gerutuku sambil tersenyum.
Aku berlari kearah tangga, sementara Sabina? Dia berlari terburu-buru karena tidak ingin tertangkap. Padahal aku hanya ingin menghabiskan moment indah ini dengan penuh cinta, akhirnya kami malah berlari seperti bocah kecil.
"Sabina awassss, hati-hati!" Aku berteriak dari lantai atas, karena menoleh kearahku tanpa sadar kaki Sabina tergelincir dan jatuh dari tangga.
Gdebukkkk!
Dada ku terasa sesak melihat Sabina terpelanting membentur lantai, aku kesakitan. Dengan sekuat tenaga aku berlari menuruni anak tangga, air mataku menetes lagi melihat Sabina mendesah menahan sakit.
"Aahhh! Ssshhh!"
"Kenapa kau berlari sekencang itu? Apa aku memintamu berlari? Apa yang akan ku lakukan jika kau sampai terluka? Aku sudah bilang tidak bisa hidup tanpamu dan kau malah menghukumku! Kau benar-benar nakal!" Ucapku dengan suara lantang, Sabina hanya bisa diam. Aku rasa dia takut melihat ekspresi kemarahanku.
"Apa kita akan diam disini? Sampai kapan? Kakiku sakit, aku tidak bisa jalan." Celoteh Sabina memecah keheningan.
"Di-dimana yang sakit? Disini? Disini? Apa disini?" Aku memegang tubuh Sabina dengan kepanikan yang masih memenuhi rongga dadaku.
"Yang sakit disana?" Balas Sabina sambil menunjuk kearah kaki kanannya.
"Ayo, aku akan membantumu berdiri!"
"Tidak mau. Gendong!"
"Gendong? Ternyata kau sangat manja! Apa ini juga bentuk hukuman darimu? Hehe! Aku suka ini!" Ujar ku sambil mengangkat Sabina. Aku membawanya keruang tengah, mendudukkannya di sofa kemudian memeriknya secara menyeluruh.
"Dimana lagi yang sakit?" Aku bertanya dengan wajah memelas.
"Tidak ada. Hanya kakiku saja."
"Kaki mu terkilir. Syukurlah ini tidak parah. Tunggu disini aku akan mengambil tas medisku di kamar kita." Ucapku kemudian berlari menaiki anak tangga lagi.
...***...
"Pelan-pelan Mas. Ini sakit."
"Kau tahu ini sakit? Inilah akibatnya jika kau mencoba menjauhkan dirimu dariku." Balas Mas Araf sambil mengoleskan obat di kakiku yang terasa sangat sakit.
Setelah selesai mengobati kakiku mas araf duduk di sampingku, ia meletakkan kepalaku di pangkuannya. Perlahan menepuk-nepuk kepalaku, aku merasakan ketenangan menjalar di seluruh pori-pori tubuhku. Aku sangat bahagia.
"Aku melihat mu meneteskan air mata tadi? Apa aku menyakitimu, Mas Araf? Jika, iya. Aku minta maaf."
"Tidak. Kau tidak menyakitiku. Hanya saja aku sangat ketakutan saat melihatmu terjatuh, dan tanpa sadar aku mulai meneteskan air mata. Bukankah aku sangat cengeng? Aku rasa ini kelemahan baruku! Dan kelemahan ini hadir saat kau hadir dalam kehidupanku."
"Itu bukan kelemahan, tapi itu cinta. Cinta yang membuatmu merasakan sakit saat melihat orang yang kau cintai terluka. Terima kasih sudah mencintaiku sebesar cinta yang tidak bisa ku prediksi besarannya. Aku merasa terharu. Aku merasa bahagia. Aku merasa terberkati memiliki pendamping hidup setampan, sebaik, seromatis, secedik dan masih banyak lagi kata-kata yang tidak bisa ku ungkapkan." Celotehku sambil menangkup wajah tampan mas Araf dengan jemariku.
"Setampan, sebaik, seromantis, secerdik! Apa kau serius mengatakannya? Aku merasa terbang keawan mendengar sanjungan manismu!"
"Tentu saja aku serius saat mengatakannya! Selama hidupku aku tidak pernah berbohong dan aku tidak akan pernah melakukan itu."
"Aku akan tetap mencintai mu seperti ini, cintaku padamu tidak akan pernah berubah seperti musim yang selalu berubah-ubah."
"Gombal!" Balas ku melawan pernyataan singkat Mas Araf.
"Aku tidak akan mempercayai mu sebelum kau mengurai kisah masa lalu mu. Aku juga tidak bisa mencintai mu jika aku tidak mengetahui semua tentangmu." Sambungku lagi pura-pura marah.
Aku masih berbaring di sofa beralaskan paha empuk Mas Araf, netra indah kami bertemu untuk sekian detik, saling mengangumi keindahan masing-masing, setelah itu...
Muacchh!
Sebuah ciuman mesra Mas Araf kembali mendarat di bibir tipisku.
"Aku memberi stempel di sini, itu artinya kau milikku dan aku akan mengatakan semua hal yang berkaitan tentang masa lalu ku, jangan marah jika nanti kau mendengar hal yang tidak ingin kau dengar, bahkan aku pun tidak ingin berbagi kisah yang akan membuatmu merasa kesal." Ujar Mas Araf sambil megusap bibir tipis ku dengan jemari lentiknya.
Glekkkk!
Aku hanya bisa menelan saliva mendengar ucapan penutup yang Mas Araf lontarkan. Entah kisah seperti apa yang ia punya sampai hal itu dia yakini akan membuatku merasa kesal. Saat ini aku mulai merinding, Mas Araf belum mulai mengurai kisah masa lalunya tapi aku sudah merasa takut duluan.
...***...