Mr Love Love

Mr Love Love
Namanya Reem



Aku terpaku, aku membisu, aku terkejut dan aku juga merasa tidak nyaman. Semua hal itu kurasakan di saat bersamaan. Aku mencoba memberanikan diri menatap netra teduh Sabina. Sekuat apa pun aku berusaha menatap wajah polos itu, tatapan syahdunya seolah mendesakku untuk segera memberikan jawaban. Jawaban tentang apakah dulu ada wanita spesial di hatiku.


"Aku akan bertanya sekali lagi, apa kau benar-benar menginginkannya? Maksudku ingin mengetahui apa ada gadis spesial di hatiku dulu?"


Sabina diam, namun kepalanya mengangguk sempurna. Tubuhku terasa lemas melihat ekspresinya.


Aku takut. Sangat takut sampai tidak bisa mengendalikan perasaanku. Aku takut setelah malam ini Sabina akan mulai membenciku. Aku juga takut setelah malam ini Sabina akan menatapku dengan perasaan jijik.


Sebelum membuka suara aku memberanikan diri untuk memeluk Sabina. Perasaan cinta, haru, bahagia dan entah apa lagi namanya berkumpul menjadi satu di dalam hatiku.


"Jangan tatap aku dengan tatapan jijik setelah ini! Melihat mu membenciku jauh lebih menakutkan dari pada kehilangan nyawaku." Aku berbisik di telinga Sabina, tidak ada pergerakan apa pun darinya. Namun satu yang pasti, dadanya berdebar sangat kencang. Entah dia tidak sabar ingin segera mendengar penjelasanku atau justru sebaliknya dia ingin menghentikanku. Aku tidak tahu itu dan aku pun tidak bisa menebak jalan pikiran Sabina.


"Semuanya berawal dari University Of Oxford, disana aku tetap mengambil jurusan kedokteran. Aku belajar dengan sangat giat karena aku tidak suka menjadi yang kedua.


Suatu hari temanku yang berasal dari Jerman mengajak ku kesebuah pesta, pesta antara laki-laki dan wanita. Pasti kau bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya?"


Dadaku berdebar semakin kencang, setiap hurup yang akan ku rangkai menjadi kata-kata akan berbalik kepadaku menjadi musuh. Musuh masa depanku dan musuh kebahagiaanku. Wanita mana yang rela tinggal bersama pria yang memiliki banyak cacat sepertiku?


Oh Tuhan, semua ini menyiksa ku! Aku bergumam di dalam hati. Aku benar-benar tidak bisa menatap Sabina lagi, aku bicara sambil merunduk.


"Aku tidak bisa menebak apa pun! Aku tidak secerdas itu!" Balas Sabina dengan suara tegas.


"Di-disana aku meminum minuman beralkohol, dan tanpa sengaja aku melecehkan seorang wanita. Maksudku, aku hanya menciumnya."


"Inilah alasannya kenapa minuman beralkohol di haramkan, seseorang yang sebelumnya baik bisa saja melakukan tindakan kriminal saat terpengaruh minuman haram itu. Aku benci pemabuk." Ucap Sabina menegaskan.


Akhirnya aku melihat kilatan amarah dalam netra teduh Sabina. Dan dalam kebeciannya itu aku termasuk salah satunya. Aku masuk dalam kategori pemabuk, dan dia sangat membeci hal itu.


"Dua bulan berlalu, dan di kampus yang sama aku kembali bertemu dengan gadis itu. Kami berada di jurusan berbeda, aku mengambil kedokteran dan dia mengambil jurusan Hukum.


Di saat kami bertemu untuk kedua kalinya, aku pikir dia tidak akan mengenaliku, nyatanya aku salah. Dia sangat mengenalku. Semakin hari kami semakin dekat, dan dalam kedekatan itu kami mulai menjalin hubungan." Aku kembali terdiam, menatap sorot mata Sabina. Dalam sikap diamnya aku tahu dia mulai merasa kesal. Walau tahu seperti itu, aku tetap melanjutkan kisah ku, aku ingin mengakhiri semuanya disini, dan tentunya dengan cepat.


"Selama menjalin hubungan dengannya sekali pun aku tidak pernah melewati batasan. Hingga pada suatu hari...."


Glekkkk!


Aku menelan saliva, tenggorokan ku tiba-tiba kering. Rasanya aku tidak ingin bicara lagi.


"Kenapa diam? Apa kali ini Mas Araf berani melewati batasan itu? Batasan yang tidak boleh di lalui oleh pria dan wanita yang belum menikah?" Sabina bertanya sambil memegang kedua lengan ku.


Tidak ada balasan dariku selain air mataku yang terus menetes seperti tetesan hujan di musim semi. Lagi-lagi aku mencoba memberanikan diri menatap Sabina.


Sabina tidak mengatakan apa pun, namun aku tahu dia sangat kecewa. Dan buruknya aku tidak bisa menghiburnya.


"Aku tidak pernah menggoda wanita itu, namun berkali-kali dia berusaha menggodaku. Tidak jarang dia menerobos masuk kedalam rumah yang ku tempati tanpa seizin dariku.


Berkali-kali juga dia menggunakan pakaian tembus pandang di depanku, sekuat apa pun dia mencoba maka sekuat itu juga aku menolaknya.


Sabina yang duduk di dekat ku terlihat lemah, bahkan sekujur tubuhnya terlihat mulai bergetar. Baginya aku yang pertama, walau dia tidak terletak di urutan pertama di hatiku namun satu yang pasti, bagiku dialah yang terbaik di antara semuanya.


"Dua bulan setelah peristiwa itu aku selalu menghindari gadis itu, aku tidak berani menemuinya dan aku juga tidak berani menatap wajahnya.


Bagi wanita itu, melakukan hubungan seperti itu di luar Negri hanya hal biasa. Tapi bagiku? Itu adalah petaka. Aku bahkan tidak berani menatap wajah ku di cermin. Sampai akhirnya aku tahu kalau D-I-A...." Aku merasakan dada ku kembali sesak, waktu seolah terhenti, ucapanku tertahan di tenggorokan ku, aku tidak bisa melanjutkan kalimatku. Air mataku kembali menetes membasahi wajah tidak tahu maluku.


"D-I-A H-A-M-I-L?" Sabina bertanya sambil mengelus dada. Tatapannya kosong.


Allah... Jangan uji aku melebihi batas kesanggupan ku. Aku tidak akan sanggup jika Sabina meninggalkan ku. Aku benci diriku yang dulu dan aku merasa jijik. Aku bergumam di dalam hati, sementara air mataku tidak bisa berhenti.


Aku merasa berdosa menatap Sabina, seharusnya pria sepertiku tidak pantas mendapatkannya. Entah rencana apa yang Tuhan buat untukku, kenapa dia mengikatku dengan Sabina jika aku hanya akan meninggalkan luka di hati Bidadari Surga itu?


Tangisku semakin pecah, pemilik tubuh itu masih mematung. Bibir tipisnya terlihat bergetar. Aku ingin berteriak, aku ingin mengumpat, pada siapa aku akan melampiaskan amarah ini? Amarah sebesar ini membuat sekujur tubuh ku terasa mati rasa. Aku rasa tiada akan jauh lebih baik


"Aaaaaa! Jadi kalian punya anak!" Sabina kembali berucap dengan suara pelan. Ia terlihat seperti mayat hidup, pengakuan yang ku lontarkan membuat kejutan besar bagi jiwanya.


Aku ingin dia meneriakiku, aku juga ingin dia menamparku. Rasanya mendapat makian kasar dari Sabina akan jauh lebih baik dari pada dia duduk mematung seperti saat ini.


"Aku minta maaffff! Aku minta maaffff!" Ujar ku di sela-sela tangisku.


Tanpa ku sangka Sabina memegang kedua lenganku, ia menatap ku dengan derai air mata. Aku merasakan sakit luar biasa melihat Sabina menangis karena ulahku. Hak apa yang kumilik sampai berani menyakiti gadis yang sangat ku cintai?


"Di-dimana anak kalian?" Sabina bertanya tanpa melepas pandangannya dari wajah tidak tahu maluku.


"Kami tidak punya anak." Balasku pelan.


"Sehari setelah mengetahui kabar kehamilannya aku sangat terkejut. Terkejut luar biasa. Sebagai pria waras aku memintanya untuk menikah dan akan bertanggung jawab." Sambungku lagi, kali ini aku berucap dengan kepala kembali tertunduk.


"Apa dia menolak mu? Aku rasa kalian pasangan serasi!"


Entah kenapa mendengar ucapan Sabina dadaku terasa bergemuruh. Aku takut dia menyesal menikah denganku. Apa yang harus ku lakukan jika Sabina meminta berpisah? Membayangkan itu saja membuat sekujur tubuhku merinding.


"Sehari setelah aku memintanya menikah, tanpa seizin ku dia menggugurkan kandungannya. Aku sangat marah, aku sangat murka. Aku bahkan menariknya dengan paksa menuju dokter kandungan, mengetahui dia benar-benar menggugurkan anak kami aku langsung merasa jijik padanya. Aku kesal padanya dan aku muak padanya.


Aku memutuskan hubungan dengannya, aku tidak mau melihat wajahnya. Sekuat apa pun dia berusaha menggodaku lagi untuk melakukan dosa yang sama maka sekuat itu juga aku mengabaikannya." Suaraku serak, bagaimana aku bisa menahan Sabina agar tetap tinggal disisiku jika aku sendiri tidak sanggup menahan air mataku agar tidak tumpah.


"Siapa nama gadis itu?"


Kali ini Sabina bertanya sambil menyeka air matanya, suaranya terdengar bergetar.


"Reem. Namanya Reem!" Balasku jujur.


Saat ini kami sama-sama terdiam. Aku berusaha mengontrol hatiku dan bersiap menerima keputusan terburuk yang akan Sabina ambil. Sementara Sabina? Dia duduk bergeser sedikit menjauhi ku, dan inilah hal yang paling kutakuti.


...***...