Mr Love Love

Mr Love Love
Kemarahan Mama



"Ma, sabar." Ucap Papa sembari menarik lengan Mama, Papa cukup terkejut melihat sikap agresif istrinya.


Seumur-umur, untuk pertama kalinya Aku melihat Mama semarah ini. Tatapan mata Beliau setajam belati, bahkan netranya mulai memerah. Aku merinding, lalu bagaimana dengan Morgiana? Dia pasti merasakan takut yang sama, takut seperti yang Ku rasakan.


Bagaimana Aku tidak merasakan takut? Mama yang biasanya berhati lembut, penyabar, dan penuh kasih sayang berubah seperti singa betina yang sedang terluka. Bahkan sekarang kaki Ku tak bisa menahan bobot tubuhku, Aku terjatuh dan duduk bersimpuh di lantai, tatapan Ku kosong, tak tahu harus berkata apa. Air mata ini mengalir deras seolah dunia Ku akan runtuh.


"Bagaimana Mama bisa sabar, Pa? Lihat ular ini. Mama menjaganya dengan sepenuh hati, Mama juga sangat menyayanginya seperti putri sendiri. Dan apa yang sudah dia lakukan?" Mama menunjuk wajah Morgiana dengan amarah membuncah. Jika bisa, rasanya Mama ingin meleyapkan sosok anggun yang saat ini berdiri dengan tidak tahu malu. Morgiana.


"Dia berusaha meleyapkan Cucu kita, Pa. Hiks.Hiks." Mama mulai terisak, melihat Mama serapuh itu membuat jantung Ku seolah berhenti berdetak. Aku bangun dari posisi duduk Ku dan berhambur ke dalam pelukan Mama.


"Jangan seperti ini, Ma. Bagaimana jika Mama sakit? Sabina tidak suka melihat Mama sakit karena Sabina sangat menyayangi Mama." Ucapku dengan tangis tertahan.


"Semua ini salahmu Sabina. Kenapa kamu tidak berterus terang sejak awal. Panggil Araf, sekarang." Ucap Mama dengan nada intimidasi, netra Mama yang selalu teduh kini merah menyala. Aku merasa berdosa, Aku merasa sesak, hati dan pikiranku di penuhi penyesalan.


"Sampai Aku tiada, Aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Jangan pernah muncul di hadapan keluargaku, Aku tidak tahu seberapa buruk diriku saat menyakitimu. Mulai saat ini, kamu bukan lagi anggota keluarga ini." Ucap Mama masih dengan amarah membuncah.


"Ma, sudah. Jika Papa bilang sudah ya sudah. Papa tahu Mama sangat marah, bukan berarti kita menyakiti Morgiana sekejam ini." Ucap Papa mencoba menengahi.


Aku menatap Mama dengan tatapan penuh penyesalan. Aku berusaha memberanikan diri untuk menatap Papa, wajah beliau terlihat tenang namun sorot matanya menjelaskan segalanya, kalau beliau ingin menguliti sosok yang telah berani menyakiti putri berharganya.


Merinding?


Aku merinding melihat Mama Ku yang lembut dan baik hati marah untuk pertama kalinya, dan itu dengan keponakannya sendiri.


"Ma. Sudah. Hentikan semua ini. Aku tahu Mama lebih marah dari Ku. Tapi Mama tahukan kalau Mama tidak boleh bersikap seperti ini? Sabina tidak mahu Mama sakit." Ucapku setelah Aku bisa mengontrol amarah yang ada di dalam diriku.


Aku menatap kearah sofa mencari keberadaan Morgiana, sayangnya dia sudah tidak ada disana lagi. Entah kapan dia pergi, dan buruknya, Aku tidak perduli dengannya lagi. Apa Aku salah?


"Sabina, panggil Araf sekarang juga. Mama mau bicara dengannya."


"Ma-mama, jangan libatkan Mas Araf dalam hal ini. Sabina mohon." Aku berucap sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada. Sepertinya Mama tidak perduli dengan apa yang Ku ucapkan karena beliau terlanjur marah dan kecewa. Dan buruknya, Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk meredam amarahnya. Lagi-lagi Aku hanya bisa menyalahkan diri sendiri atas insiden ini. Seharusnya Aku tidak perlu membawa amarahku pulang kerumah.


Sabina bodoh. Sabina payah. Sabina norak. Aku mengutuk diri sendiri tanpa bisa menahan derai air mataku. Aku saja tidak bisa mengendalikan perasaan Ku, lalu bagaimna dengan Mama? Sungguh, Aku merasa bersalah, kekacauan ini terjadi karena ulah ku. Iya, ulahku.


...***...