Mr Love Love

Mr Love Love
Mengantar Sabina (Araf)



Arus air berlari dan bergelombang di antara batu karang, dan menyanyikan lagu cinta. Cinta adalah bunga kehidupan yang mekar secara tak terduga, tak ada hukum yang mengaturnya, dan pasti akan di petik ketika kau menemukannya, dan kau akan menemukan dirimu terlena dalam setiap tarikan nafas cinta.


Glekkkk!


Aku menelan saliva sambil menatap wajah cantik Sabina. Entah dari mana datangnya keberanian yang ia tunjukan secara tiba-tiba. Ia menggenggam jemariku tanpa mengedipkan mata. Aku yang mendapatkan perlakuan manis darinya merasakan tubuhku mulai panas dingin.


Bukannya tanpa sebab! Berada disisi wanita secantik Sabina, apa lagi di ruang tertutup membuat jiwa liar ku berkelana kemana-mana. Saat ini jemari kami saling bertautan. Aku tidak tahan lagi, hampir saja aku menarik Sabina dan mendaratkan ciuman di puncak kepalanya.


"Apa yang kau lakukan?"


Sabina menatapku, ia menyipitkan mata karena melihatku semakin mendekatinya. Bahkan bantal pembatas yang ku letakkan di tengah-tengah ranjang bergeser sempurna.


Apa yang akan ku katakan pada Sabina? Aku tidak mungkin mengatakan aku ingin menciumnya? Aku bergumam di dalam hati sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Keringat?" Sabina Berucap sambil menyapu keningku dengan jemari lentiknya.


Aku berkeringat? Apa ini? Padahal kamar ini sangat dingin. Lagi-lagi aku hanya bisa bergumam di dalam hati.


"Kenapa mas Araf berkeringat? Ahhh iya, sepertinya aku terlalu dekat." Celetuk Sabina sambil melepaskan jemari lentiknya dari jemariku. Setelah itu ia duduk dan meraih kotak kado yang ia letakkan di atas nakas.


Sabina tersenyum penuh kemenangan, baru kali ini aku melihat sikap berbeda dari sosok indah Sabina. Dia menggodaku? Dia mengerjaiku dengan sikap manisnya! Dia juga berani menggenggam jemari ku, dan genggaman lembutnya berhasil membangkitkan sikap liar yang ada dalam diriku. Apalah dayaku, aku hanya bisa menahan diri untuk tidak melampaui batas karena masih ada garis di antara kami berdua, garis yang tidak boleh ku lewati walau aku menginginkannya.


Wahhh... Aku di permainkan? Bagaimana bisa aku tidak berontak. Rasanya aku ingin menggigit Sabina. Sabarrrr! Ucap ku pelan, ucapan yang hanya bisa di dengar oleh pasukan dedemit.


"Menurut mas Araf, apa isi dari kado ini?"


"Kenapa bertanya, kotaknya ada di tanganmu. Kau bisa membukanya dengan Bismillah. Siapa tahu Mama menaruh kalung emas sebesar rantai kapal untukmu."


Mendengar ucapan tak masuk akal dari ku Sabina hanya bisa mengerutkan keningnya tak percaya, entah apa yang dia pikirkan sampai merasa ragu.


Sabina kembali memperlihatkan sikap penasarannya, dia bahkan sampai mengocok kotak kado yang masih berada di tangannya dengan antusias luar biasa. Jika itu aku, aku pasti akan segera merobek kertasnya dan langsung melihat isinya.


"Mama tidak akan meletakkan bom molotov di dalam kotak itu. Untuk apa kau merasa ragu?"


"Aku tidak ragu. Aku hanya berpikir di dalam kotak ini pasti ada benda aneh." Ujar Sabina sambil meletakkan kembali kotak itu di atas nakas.


"Berikan pada ku, aku sendiri yang akan membukanya!" Ucap ku sambil duduk menghadap Sabina.


Sabina merapikan bantal yang sudah berantakan karena ulah ku, ia mulai mengatur satu per satu bantal yang sejak tadi bertugas sebagai pembatas. Sementara aku, aku mulai melepas kertas pembungkus kadonya kemudian membukanya dengan sempura.


"Oh ya ampun, apa ini? Kado di dalam kado?" Ujarku dengan heran. Sabina yang menatapku hanya bisa tersenyum sambil menutup bibir dengan tangan kanannya.


"Sepertinya Mama ingin mengerjaimu, lihatlah tingkahnya? Dia bahkan membungkus kadonya dengan sangat rapi, bukan di bungkus sekali melainkan tiga kali!" Ucapku sambil menatap isi kado yang ada di tangan ku. Karena penasaran Sabina bahkan sampai menggeser dua bantal kecil dan duduk di dekatku.


"Ini hanya sebuah baju." Sambungku lagi.


"Biarkan aku membukanya!" Sabina berucap sambil mengambil paksa baju yang ada di tanganku.


"Silahkan saja, toh itu milik mu. Aku tidak akan ikut campur antara menantu dan mertua." Balas ku sambil melipat lengan di depan dada, sedetik kemudian aku mulai berbaring tanpa melepas pandanganku dari Sabina.


Bagai di sambar petir di siang bolong, wajah ceria Sabina langsung berubah layu seperti daun yang akan jatuh menimpa bumi.


"Iiiiii baju apa ini?" Celoteh Sabina sambil melempar baju yang ada di tangannya dengan perasaan risih, bukannya melempar baju ketempat lain, baju itu malah mendarat di dada bidangku.


"Ini bukan sekedar masalah, Mas. Tapi ini masalah besar!"


Sabina terlihat malu-malu. Ia bahkan sampai menggigit bibirnya karena tidak sanggup bicara.


"Oh ya ampun! Apa ini?" Mataku membulat sempurna begitu melihat gaun merah muda yang Mama bingkai atas nama kado istimewa terlihat seperti kelambu.


Glekkkkk!


Lagi-lagi aku hanya bisa menelan saliva, bagaimana Mama bisa berpikir memberikan baju anti yamuk itu dan minta Sabina memakainya.


"Mas Araf yakin Mama memberikan gaun ini untuk ku?"


"Iya, tentu saja. Mama memberikannya saat aku akan masuk kamar. Dia memintaku memastikan agar kau memakainya."


Kelambu?


Aku menamai pakaian minim bahan itu kelambu karena seseorang yang berhasil membuat jantungku berdetak kencang sesekali berusaha menggodaku menggunakan pakaian seperti itu. Karena alasan pakaian itu juga aku mengakhiri hubungan yang sudah ku bangun selama bertahun-tahun dengan sosok masa lalu yang pesona indahnya sanggup melumpuhkan jiwaku.


"Mama memberikan ini dengan penuh kasih sayang, pakai saja. Aku tidak akan keberatan!" Guyon ku sambil menahan tawa.


Jujur saja, pikiran liar ku menjelajah entah kemana. Aku bahkan membayangkan Sabina menggunakan pakaian aneh itu. Pakaian yang berhasil membuat Sabina merinding dan melemparnya tanpa ragu.


"T-I-D-A-K!" Ucap Sabina menegaskan sambil memperbaiki bantal-bantal kecil yang ada di tengah ranjang.


Klikkk!


Sabina mematikan lampu yang ada di atas nakas, dan berbaring membelakangi ku. Semenit, dua menit, hingga menit kesepuluh, Sabina membalik tubuhnya dan menghadap kearahku.


Cessss!


Dadaku berdebar sangat kencang, cahaya temaram kamar malam ini menambah kecantikan Sabina. Kecantikannya berkilau laksana purnama, sungguh indah ciptaan Tuhan di depan mataku ini. Bibirku bahkan tidak bisa berkata-kata karena aku dalam mode mengaguminya dalam diam.


Araf, apa kau tidak waras? Kendalikan dirimu! Celoteh ku di dalam hati sambil mengalihkan pandanganku dari wajah cantik Sabina.


...***...


Sabina turun tepat di depan gerbang kampus tempat-nya menimba ilmu selama dua tahun terakhir. Sejak tadi wajah cantiknya terlihat lesu, bahkan tidak ada percakapan apa pun selama kami berada dalam perjalan menuju kampusnya. Aku ingin bicara dengannya. Sayangnya, melihat wajah lesu Sabina membuatku mengalah dan bertekad untuk tidak menggodanya apa lagi sampai mengganggunya.


"Kau yakin tidak mau di jemput setelah pulang dari kampus? Aku janji akan mengantar mu pulang dengan selamat, setelah itu aku akan kembali kerumah sakit." Ucapku begitu Sabina turun dari mobil.


"Tidak perlu, Mas! Aku bisa pulang menggunakan taksi. Setelah jam kuliah selesai aku akan mampir ke rumah kak Alan. Aku sangat merindukan kakak ipar Fatimah, terutama Fazila, apa aku boleh pergi kesana?" Sabina bertanya sambil menatap netra teduhku.


Aku masih ragu, apakah aku akan mengizinkannya singgah di rumah Alan atau tidak? Melihat tingkahnya yang uring-uringan sejak subuh membuat ku takut memberinya izin, bagaimana jika Sabina mengadukan ku pada Alan? Disaat pengantin baru menghabiskan malam mereka dengan rayuan dan sikap manis aku malah membuat Sabina tidur di sofa.


Aku tidak sebodoh itu sampai membiarkan Sabina mengadukan ku pada Alan. Lagi pula, adu jotos yang terjadi terakhir kali masih menyisakan trauma di hatiku. Pukulan Alan terlalu keras di wajah tampanku, dan hal itu membuat ku berpikir seribu kali untuk tidak terlibat adu otot lagi dengannya.


"Terserah kau saja, yang jelas aku akan menjemput mu. Tidak ada bantahan, titik." Ucap ku menegaskan.


Sabina yang tadinya berusaha menolak dengan sekuat tenaga terpaksa harus mengalah di hadapan keinginan keras ku, akhirnya aku menunjukan egoku, alias suami pengekang istri.


...***...